Allow Mbak Sari,

Mudah2an mbak tetep sehat ya, biar bisa nemenin n jagain Yoel teyuz yaa.. Amien

Mbak Andi udah bener banget mbak, bahwa sulit buat kita kerja maximal qlo anak 
dirumah sakit dan butuh perhatian bundanya.

Kebetulan aqu dl jg pny masalah yg sama dg Mbak, walo bidang kerjanya beda.

Anakqu (5,8 th  dan 2,7th) jg sering sakit, gantian aja sakitnya.
Kondisi qu pada wkt itu jauh lebih beruntung dari mbak. Boss qu baek bgt n ga 
pernah marah qlo qu izin ga kerja. Amat sangat pengertian. Aqu malah disuruh 
cari assisten tuk bantuin kerjaan qu. 

Tapi tetep aja mbak, ga enak bgt qlo hrs izin berhari2. Dilema mbak. 
Terbersit pengen brenti kerja, tapi financial qu blom cukup kuat qlo cm suami 
yg kerja (sama qan mbak, heee).
Qu cari jalan, pikir..pikir..pikir..

Alhamdulillah mbak, qlo niat qta baek, Allah pasti kasih jalan.
Sekarang qu da pindah kerja di tempat yg jauh lbh baik.
System kerjanya ngikutin Amrik sana (boss qu educational background n 
pengalaman kerjanya disana).
Mnurut dia, gapapa ga tiap hari dtg ke kantor. Ato ga musti pagi2 bgt ke 
ktrnya. 
Yg penting kerjaan beres.
Jadi qu seringnya kerja di rumah dee. 

Coba mbak, usaha qan ga da salahnya.
Cari2, via temens ato internet ato apa aja. Kerjaan yg waktunya bs pas bgt buat 
mbak n anak2.
Suami mbak jg pasti tambah sayang ......

Qu doain ya mbak.

Tetep smangat donk !!

Salam,
Riri
Bundanya Unique and Purity


----- Original Message ----
From: Andi Maerzyda Amalyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, April 19, 2008 11:35:55 AM
Subject: [Ayahbunda-Online] Re: Bolos Kerja Karena Anak Sakit

Dear Bundanya Yoel,
tabah ya ... kadang skenario hidup yang kita jalani tak seperti yang
kita impikan. Punya kerjaan yang disuka dan sesuai passion, tapi
situasi kerja kurang mendukung. Kalau memang kesehatan anak kelewat
rentan dan butuh perhatian Bunda, coba deh kaji lagi, benarkah dirimu
siap bekerja dengan situasi seperti ini. Bukan apa-apa, dengan situasi
seperti ini tentu BUnda tidak bisa kerja maksimal.
Tapi tak jarang anak sakit (ringan), orang tuanya yang lebih
"menderita". Pada suatu waktu sy pernah memprofilkan seorang ayah
punya balita, Nugdha Achadie, yang kerja bareng dengan Reza Gunawan,
fasilitator kesehatan holitistik, ada kutipan menarik yang saya rasa
bisa di-share, "Saat anak sakit, tak jarang, anaknya happy, bisa
loncat-loncat dan ketawa-ketawa, tapi hati orangtuanya yang menderita.
KArena merasa tidak tega dan ingin penderitaan anak dipindahkan saja
ke diri si ortu". Akhirnya yang sering ia lakukan di pusat kesehatan
holistik, selain menerapi anak, sekaligus orang tuanya. Dari hasil
pengalaman rekan ayah tersebut, ternyata sakitnya si kecil jauh lebih
cepat dipulihkan, justru penderitaan ortu yang sulit sekali. 
Dear all, melalui sakit atau kekurangnyamanan, anak juga belajar kok,
bahwa dalam hidup selalu tantangan dan selalu ada solusi. Kita sebagai
ortu, tugasnya memfasilitasi agar anak jadi lebih "pandai" menghadapi
berbagai situasi, termasuk situasi yang kurang nyaman. Dan, memproteks
i berlebihan sampai si kecil tak belajar apa-apa. 
Memang tak mudah Bunda (ini saya sekalian mengingatkan diri sendiri
heheheh), tapi coba deh, tata hati dan pikiran sebelum ambil
keputusan. Coba juga ajak si kecil berkomunikasi, meski secara verbal
ia mungkin belum terampil. Bicaralah dengan bahasa hati ....

Tetap Semangat ya!

--- In Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com, krisetiawati puspitasari
<krisetiawati_ puspitasari@ ...> wrote:
>
> 
> Bunda-bunda yang cantik-cantik dan smart-smart,
> Saya punya masalah niy, tolongin ya...
> 
> Yoel ( 15 bulan), kebangganku selama tiga bulan terakhir ini sering
banget sakit. Seringnya demam. Kadang diikuti batuk, pilek. Kadang
cuman demam thok. Terakhir, kemarin demam tinggi. Kata dokter,
terpapar virus. Tapi bukan DB ato campak. Weleh...weleh. ..
> Penyakit kok makin aneh-aneh ya.
> 
> Bunda-bunda pasti tahu gimana rasanya kalau anak sakit. Pake demam
tinggi (sampai 39,9) pula. Duh..rasanya hati ini sedut senut.
Deg..deg..plas. Panik. Bingung. Campur baur deh. Apalagi Yoel ini anak
pengharapan saya dan suami. Kakaknya, Ruth, "hanya" diberi kesempatan
menikmati dunia ini 8 jam saja. 
> 
> Makanya, kalau dia sakit, saya spontan mbolos kerja. Ga rela dong,
kalau anak sakit cuma ditunggui Mbaknya. Saya baru masuk kerja, kalau
dia sudah cukup sehat. Minimal tiga harilah saya mbolos. Bulan pertama
siy, lancar-lancar saja. Bulan kedua, si bos mulai pasang tampang tak
bersahabat. Bulan ketiga, mulailah si bos ngerundel, ngomel-ngomel.
Nggak secara langsung ke saya. Tetapi lewat teman kerja saya. 
> 
> Kebetulan, bosku workalholic. Menikah 10 tahun, tapi tak punya
anak. Fokus hidupnya cuma; kerja,kerja dan kerja. Jadi, memang ga bisa
ngerasin gimana susahnya kalo anak sakit. 
> 
> Kebetulan lagi, saya kerja di media yang schedule-nya sangat tight.
Ga bisa memang sembarang izin. Apalagi kalau pas deadline. Padahal
demamnya Yoel sering "tak tahu diri". Tanpa kulo nuwun, main selonong
aja, ga peduli kalo Maknya lagi banyak kerjaan. 
> 
> Suasana ini membuat saya gak nyaman. Sampai-sampai pengen out aja
dan jadi FTM supaya kalau Yoel sakit, saya bisa mendampinginya. Tetapi
sepertinya, secara ekonomi kami belum mampu kalau yang kerja cuma
suami. Maklum suami PNS.
> 
> Nah, bunda-bunda tolongin saya dong. Gimana menyiasati kalau anak
sakit, tanpa dibayangi wajah syerem dan omelan si bos? Apakah
keinginan saya untuk bisa merawat dan mendampingi anak sakit terlalu
berlebihan? Saya minta masukannya ya, terutama dari Mbak Andi dan Mbak
Tenik yang kebetulan juga berkiprah di media.
> 
> Maaf, postingan saya kepanjangan. Habis saya mbuntek tenan nih...
> 
> Salam,
> Sari
> Ibunya Yoel
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ---
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. 
Try it now.
>


 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke