Dear bunda semua.... Wah, baca cerita bunda yoel n saran dr bunda keya jadi sadar bahwa di luar sana ternyata ngadepin masalah yg sama jg. Sebenarnya mo posting pertanyaan awalnya. Kenapa anak kecil kok rentan sakit. kenapa anak kecil kok mudah sekali ketularan sakit? masak hampir tiap bulan sakit, apa anak kecil lainnya juga begitu? apa pengaruh dengan pemberian ASI? padahal makan, vit, buah, waktu tidur n maen sudah kita usahakan sebaik n seteratur mgk, tp masih saja............... Mgk ini bkn kali pertama aku posting, tp ku mo kenalin lagi ya... Namaku Rika, bundanya Ghozy (11 bulan). dr bayi sampe umur 6 bulanan, ghozy jarang bgt sakit. tp sejak berhenti minum ASI, kok jd gampang sakit ya. seringnya sih, radang tenggorokan ma sariawan, batu n pilek. seringnya jg ketularan anak tetangga yg maen bareng. Sama si ma bunda yoel, tau anak udh mo sakit, bersin n meler ato aga anget, udh kelimpungan, pikiran, ga tenang...ya manusiawilah...kalo anak sakit, kita jd repot, anak jg rewel terus, kasihan... Skr aku si masih di rumah, tp bentar lagi mo balik kerja lagi...ga kebayang gitu lo, kalo udah kerja, pas anak sakit....
Maaf ya jd malah kayak curhat. Ya, milist kayak gn byk jg manfaatnya, meski ga bs ngebantu scr lgs, tp at least bs jadi penyemangat. Bener si kata bunda keya, bahwa kalo si kecil sakit harus dihadapi dgn obyektif. bener jg ya kalo sakitnya itu mrp proses dia belajar sesuatu jg buat proses bljr kt sbg ortu. Yah, inilah hidup, penuh dgn pembelajaran... supaya kt lebih dewasa n terus sabar.... Tetap semangat Bunda! ----- Original Message ---- From: Andi Maerzyda Amalyah <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, April 21, 2008 6:49:54 AM Subject: [Ayahbunda-Online] Re: Bolos Kerja Karena Anak Sakit Dear, tips dari saya, saat cemas karena anak sakit, jangan pendam sendiri. Share ke suami bahwa dirimu cemas sekali dengan kondisi anak sehingga berat untuk berangkat kerja. Dari sini, pertimbangkan BERSAMA, apakah sakitnya si kecil benar-benar berat dan harus diberi treatment khusus. Untuk observasi, kalau belum pasti sakitnya si kecil berat atau ringan, berkompromilah untuk bergantian menjaganya. Pesan saya, cermati dengan obyektif ya. Artinya, jauhkan penilaian yang terlalu emosional, misalnya, merasa kasihan berlebihan lihat anak sakit, padahal si kecil tetap mau makan, ceria dan panasnya di bawah 38,5 derajat. Mudah-mudahan di rumah, Bunda juga punya support sistem memadai, misalnya, selain pengasuh atau si Mbak, ada anggota keluarga lain yang bisa bantu untuk mensupervisi juga. Tapi jika Bunda memang yakin dan percaya dengan pengasuh yang selama menjaga si kecil, keep your trust. Sekali aja, merasa tidak yakin, sudah deh, Bunda akan terus- menerus khawatir, yang tak jarang tanpa alasan yang mendasar. Memang berat Bunda, menjadi ibu yang bekerja di luar rumah. Makanya mentalnya harus dari baja hehehehe. But ... sekali lagi, rezeki takkan ke mana. Semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Kalau bekerja di rumah adalah rezeki Bunda, insya allah pasti ada jalan untuk mendapatkan peluangnya dengan mudah. Tapi kalau rezekimu adalah bekerja dan melayani publik di luar rumah, niatkan untuk yang terbaik, ya, ... insya allah juga, "ujian" ini akan dipermudah dan dipercepat. Mengenai bos yang workacholic, aku rasa ia manusia juga kan?! Coba deh sekali waktu, bicarakan secara baik-baik. Cari timing yang tepat, dirimu pasti lebih tahu cara "mendekatinya" . Sampaikan situasi yang sedang kamu hadapi sambil terus memperlihatkan kinerja yang profesional dan baik. Jangan jadikan situasi yang kamu hadapi sebagai alasan untuk tidak memberikan performa terbaik. Pada suatu waktu anak saya pernah harus diobservasi masuk rumah sakit waktu umur 11 bulan, saya juga sempat mengalami situasi seperti dirimu. Bimbang ... untungnya suami dan keluarga menguatkan keyakinan saya, kalau yang dihadapi anak saya tetap akan terjadi, apakah saya tinggal di rumah atau bekerja di luar rumah. Jadi, peristiwa sakitnya memang "harus" terjadi, dalam rangka ia "belajar" sesuatu. Akhirnya, saya berhasil mengalahkan keraguan diri saya sendiri. Saya coba menerapkan: di rumah, pikiranku fokus ke anak, di kantor fokus ke pekerjaan. Jadi bukan dibalik ya ... Jadinya, ketika berangkat ke kantor, urusan rumah tuntas dan tidak memberatkan langkah. Ketika di kantor, saya fokus ke pekerjaan sehingga tugas cepat beres, dan saya bisa pulang dengan perasaan happy dan "merdeka". Mudah-mudahan berkenan ya Bunda. Andi Maerzyda A. Th. (Bundanya Keya) Koordinator Ayahbunda-Online --- In Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com, krisetiawati puspitasari <krisetiawati_ puspitasari@ ...> wrote: > > Thx Mbak Andi atas masukannya, > Jujur, untuk berhenti bekerja memang berat. Selain masalah ekonomi, juga karena saya mencintai pekerjaan saya. Di situlah lahan saya mengembangkan dan mempertanggungjawab kan talenta yang diberikan Tuhan. > Mbak Andi betul 100%. Kalau anak sakit, saya tidak bisa konsen kerja. Yang ada malah main telepon melulu. Cari kabar ke rumah. Tak jarang pula, meski suhu sudah naik, Yoel masih riang gembira. Tapi sayanya udah blingsatan, gak keruan. Mungkin benar kata Mas Reza Gunawan, saya harus menerapi diri sendiri. Supaya hati tak terlalu menderita saat anak sedang sakit. > Btw, gimana sih cara Mbak Andi or WM lain menyiasati anak sakit tetapi bisa tetap duduk manis di belakang meja kerja dan tidak kena dampratan bos seperti saya? Jangan-jangan memang saya yang terlalu berlebihan ya? > > BR, > Sari > Andi Maerzyda Amalyah <andi.maerzyda@ ...> wrote: Dear Bundanya Yoel, > tabah ya ... kadang skenario hidup yang kita jalani tak seperti yang > kita impikan. Punya kerjaan yang disuka dan sesuai passion, tapi > situasi kerja kurang mendukung. Kalau memang kesehatan anak kelewat > rentan dan butuh perhatian Bunda, coba deh kaji lagi, benarkah dirimu > siap bekerja dengan situasi seperti ini. Bukan apa-apa, dengan situasi > seperti ini tentu BUnda tidak bisa kerja maksimal. > Tapi tak jarang anak sakit (ringan), orang tuanya yang lebih > "menderita". Pada suatu waktu sy pernah memprofilkan seorang ayah > punya balita, Nugdha Achadie, yang kerja bareng dengan Reza Gunawan, > fasilitator kesehatan holitistik, ada kutipan menarik yang saya rasa > bisa di-share, "Saat anak sakit, tak jarang, anaknya happy, bisa > loncat-loncat dan ketawa-ketawa, tapi hati orangtuanya yang menderita. > KArena merasa tidak tega dan ingin penderitaan anak dipindahkan saja > ke diri si ortu". Akhirnya yang sering ia lakukan di pusat kesehatan > holistik, selain menerapi anak, sekaligus orang tuanya. Dari hasil > pengalaman rekan ayah tersebut, ternyata sakitnya si kecil jauh lebih > cepat dipulihkan, justru penderitaan ortu yang sulit sekali. > Dear all, melalui sakit atau kekurangnyamanan, anak juga belajar kok, > bahwa dalam hidup selalu tantangan dan selalu ada solusi. Kita sebagai > ortu, tugasnya memfasilitasi agar anak jadi lebih "pandai" menghadapi > berbagai situasi, termasuk situasi yang kurang nyaman. Dan, memproteks > i berlebihan sampai si kecil tak belajar apa-apa. > Memang tak mudah Bunda (ini saya sekalian mengingatkan diri sendiri > heheheh), tapi coba deh, tata hati dan pikiran sebelum ambil > keputusan. Coba juga ajak si kecil berkomunikasi, meski secara verbal > ia mungkin belum terampil. Bicaralah dengan bahasa hati .... > > Tetap Semangat ya! > > --- In Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com, krisetiawati puspitasari > <krisetiawati_ puspitasari@ > wrote: > > > > > > Bunda-bunda yang cantik-cantik dan smart-smart, > > Saya punya masalah niy, tolongin ya... > > > > Yoel ( 15 bulan), kebangganku selama tiga bulan terakhir ini sering > banget sakit. Seringnya demam. Kadang diikuti batuk, pilek. Kadang > cuman demam thok. Terakhir, kemarin demam tinggi. Kata dokter, > terpapar virus. Tapi bukan DB ato campak. Weleh...weleh. .. > > Penyakit kok makin aneh-aneh ya. > > > > Bunda-bunda pasti tahu gimana rasanya kalau anak sakit. Pake demam > tinggi (sampai 39,9) pula. Duh..rasanya hati ini sedut senut. > Deg..deg..plas. Panik. Bingung. Campur baur deh. Apalagi Yoel ini anak > pengharapan saya dan suami. Kakaknya, Ruth, "hanya" diberi kesempatan > menikmati dunia ini 8 jam saja. > > > > Makanya, kalau dia sakit, saya spontan mbolos kerja. Ga rela dong, > kalau anak sakit cuma ditunggui Mbaknya. Saya baru masuk kerja, kalau > dia sudah cukup sehat. Minimal tiga harilah saya mbolos. Bulan pertama > siy, lancar-lancar saja. Bulan kedua, si bos mulai pasang tampang tak > bersahabat. Bulan ketiga, mulailah si bos ngerundel, ngomel-ngomel. > Nggak secara langsung ke saya. Tetapi lewat teman kerja saya. > > > > Kebetulan, bosku workalholic. Menikah 10 tahun, tapi tak punya > anak. Fokus hidupnya cuma; kerja,kerja dan kerja. Jadi, memang ga bisa > ngerasin gimana susahnya kalo anak sakit. > > > > Kebetulan lagi, saya kerja di media yang schedule-nya sangat tight. > Ga bisa memang sembarang izin. Apalagi kalau pas deadline. Padahal > demamnya Yoel sering "tak tahu diri". Tanpa kulo nuwun, main selonong > aja, ga peduli kalo Maknya lagi banyak kerjaan. > > > > Suasana ini membuat saya gak nyaman. Sampai-sampai pengen out aja > dan jadi FTM supaya kalau Yoel sakit, saya bisa mendampinginya. Tetapi > sepertinya, secara ekonomi kami belum mampu kalau yang kerja cuma > suami. Maklum suami PNS. > > > > Nah, bunda-bunda tolongin saya dong. Gimana menyiasati kalau anak > sakit, tanpa dibayangi wajah syerem dan omelan si bos? Apakah > keinginan saya untuk bisa merawat dan mendampingi anak sakit terlalu > berlebihan? Saya minta masukannya ya, terutama dari Mbak Andi dan Mbak > Tenik yang kebetulan juga berkiprah di media. > > > > Maaf, postingan saya kepanjangan. Habis saya mbuntek tenan nih... > > > > Salam, > > Sari > > Ibunya Yoel > > > > > > > > ------------ --------- --------- --- > > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. > Try it now. > > > > > > > > > ------------ --------- --------- --- > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > <!-- #ygrp-mkp{ border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;} #ygrp-mkp hr{ border:1px solid #d8d8d8;} #ygrp-mkp #hd{ color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;} #ygrp-mkp #ads{ margin-bottom:10px;} #ygrp-mkp .ad{ padding:0 0;} #ygrp-mkp .ad a{ color:#0000ff;text-decoration:none;} --> <!-- #ygrp-sponsor #ygrp-lc{ font-family:Arial;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{ margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{ margin-bottom:10px;padding:0 0;} --> <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ float:left;white-space:nowrap;} ..bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-reco { margin-bottom:20px;padding:0px;} #ygrp-reco #reco-head { font-weight:bold;color:#ff7900;} #reco-grpname{ font-weight:bold;margin-top:10px;} #reco-category{ font-size:77%;} #reco-desc{ font-size:77%;} #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a{ text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc{ background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o{font-size:0;} ..MsoNormal{ margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} ..replbq{margin:4;} --> ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
