Thx Mbak Andi atas masukannya, Jujur, untuk berhenti bekerja memang berat. Selain masalah ekonomi, juga karena saya mencintai pekerjaan saya. Di situlah lahan saya mengembangkan dan mempertanggungjawabkan talenta yang diberikan Tuhan. Mbak Andi betul 100%. Kalau anak sakit, saya tidak bisa konsen kerja. Yang ada malah main telepon melulu. Cari kabar ke rumah. Tak jarang pula, meski suhu sudah naik, Yoel masih riang gembira. Tapi sayanya udah blingsatan, gak keruan. Mungkin benar kata Mas Reza Gunawan, saya harus menerapi diri sendiri. Supaya hati tak terlalu menderita saat anak sedang sakit. Btw, gimana sih cara Mbak Andi or WM lain menyiasati anak sakit tetapi bisa tetap duduk manis di belakang meja kerja dan tidak kena dampratan bos seperti saya? Jangan-jangan memang saya yang terlalu berlebihan ya?
BR, Sari Andi Maerzyda Amalyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dear Bundanya Yoel, tabah ya ... kadang skenario hidup yang kita jalani tak seperti yang kita impikan. Punya kerjaan yang disuka dan sesuai passion, tapi situasi kerja kurang mendukung. Kalau memang kesehatan anak kelewat rentan dan butuh perhatian Bunda, coba deh kaji lagi, benarkah dirimu siap bekerja dengan situasi seperti ini. Bukan apa-apa, dengan situasi seperti ini tentu BUnda tidak bisa kerja maksimal. Tapi tak jarang anak sakit (ringan), orang tuanya yang lebih "menderita". Pada suatu waktu sy pernah memprofilkan seorang ayah punya balita, Nugdha Achadie, yang kerja bareng dengan Reza Gunawan, fasilitator kesehatan holitistik, ada kutipan menarik yang saya rasa bisa di-share, "Saat anak sakit, tak jarang, anaknya happy, bisa loncat-loncat dan ketawa-ketawa, tapi hati orangtuanya yang menderita. KArena merasa tidak tega dan ingin penderitaan anak dipindahkan saja ke diri si ortu". Akhirnya yang sering ia lakukan di pusat kesehatan holistik, selain menerapi anak, sekaligus orang tuanya. Dari hasil pengalaman rekan ayah tersebut, ternyata sakitnya si kecil jauh lebih cepat dipulihkan, justru penderitaan ortu yang sulit sekali. Dear all, melalui sakit atau kekurangnyamanan, anak juga belajar kok, bahwa dalam hidup selalu tantangan dan selalu ada solusi. Kita sebagai ortu, tugasnya memfasilitasi agar anak jadi lebih "pandai" menghadapi berbagai situasi, termasuk situasi yang kurang nyaman. Dan, memproteks i berlebihan sampai si kecil tak belajar apa-apa. Memang tak mudah Bunda (ini saya sekalian mengingatkan diri sendiri heheheh), tapi coba deh, tata hati dan pikiran sebelum ambil keputusan. Coba juga ajak si kecil berkomunikasi, meski secara verbal ia mungkin belum terampil. Bicaralah dengan bahasa hati .... Tetap Semangat ya! --- In [email protected], krisetiawati puspitasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Bunda-bunda yang cantik-cantik dan smart-smart, > Saya punya masalah niy, tolongin ya... > > Yoel ( 15 bulan), kebangganku selama tiga bulan terakhir ini sering banget sakit. Seringnya demam. Kadang diikuti batuk, pilek. Kadang cuman demam thok. Terakhir, kemarin demam tinggi. Kata dokter, terpapar virus. Tapi bukan DB ato campak. Weleh...weleh... > Penyakit kok makin aneh-aneh ya. > > Bunda-bunda pasti tahu gimana rasanya kalau anak sakit. Pake demam tinggi (sampai 39,9) pula. Duh..rasanya hati ini sedut senut. Deg..deg..plas. Panik. Bingung. Campur baur deh. Apalagi Yoel ini anak pengharapan saya dan suami. Kakaknya, Ruth, "hanya" diberi kesempatan menikmati dunia ini 8 jam saja. > > Makanya, kalau dia sakit, saya spontan mbolos kerja. Ga rela dong, kalau anak sakit cuma ditunggui Mbaknya. Saya baru masuk kerja, kalau dia sudah cukup sehat. Minimal tiga harilah saya mbolos. Bulan pertama siy, lancar-lancar saja. Bulan kedua, si bos mulai pasang tampang tak bersahabat. Bulan ketiga, mulailah si bos ngerundel, ngomel-ngomel. Nggak secara langsung ke saya. Tetapi lewat teman kerja saya. > > Kebetulan, bosku workalholic. Menikah 10 tahun, tapi tak punya anak. Fokus hidupnya cuma; kerja,kerja dan kerja. Jadi, memang ga bisa ngerasin gimana susahnya kalo anak sakit. > > Kebetulan lagi, saya kerja di media yang schedule-nya sangat tight. Ga bisa memang sembarang izin. Apalagi kalau pas deadline. Padahal demamnya Yoel sering "tak tahu diri". Tanpa kulo nuwun, main selonong aja, ga peduli kalo Maknya lagi banyak kerjaan. > > Suasana ini membuat saya gak nyaman. Sampai-sampai pengen out aja dan jadi FTM supaya kalau Yoel sakit, saya bisa mendampinginya. Tetapi sepertinya, secara ekonomi kami belum mampu kalau yang kerja cuma suami. Maklum suami PNS. > > Nah, bunda-bunda tolongin saya dong. Gimana menyiasati kalau anak sakit, tanpa dibayangi wajah syerem dan omelan si bos? Apakah keinginan saya untuk bisa merawat dan mendampingi anak sakit terlalu berlebihan? Saya minta masukannya ya, terutama dari Mbak Andi dan Mbak Tenik yang kebetulan juga berkiprah di media. > > Maaf, postingan saya kepanjangan. Habis saya mbuntek tenan nih... > > Salam, > Sari > Ibunya Yoel > > > > --------------------------------- > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
