Mbak Andi, Mbak Riri, Mbak Novia dan Mommy Leticia,
Thx a lot atas masukannya. Saya benar-benar mendapatkan pencerahan dari masukan 
para bunda yang smart ini. 
Ternyata, masalah saya juga dialami oleh bunda yang lain. 
Saya jadi merasa tidak sendirian niy... 
Dari situ, langkah-langkah yang akan saya ambil: 
1. Don't be too panic, jika anak sakit. Lihat-liat dulu tingkat "keparahannya". 
Kalau anak masih aktif, bolehlah saya tetap kerja. Tapi tetap waspada.
2. Kompromi dengan suami. Selama, masih tak terlalu parah, bolehlah sesekali 
ayahnya saja yang njagain.
3. Bangun support system yang oke di rumah. Selain dengan si Mbak, di rumah ada 
adik bungsu saya yang sedang menyelesaikan S2nya. Mungkin, dia bisa saya 
"berdayakan" untuk ikut mengawasi dan menjaga Yoel, jika sakit.
4. Menjaga kinerja tetap profesional. Di kantor  ya fokus ke urusan kantor. 
Duh....saran Mbak Andi ini memang oke, meski aplikasinya agak sulit. But, tetap 
akan saya coba!
5. Tetap pasang mata dan telinga, cari kemungkinan lain untuk bisa kerja di 
tempat yang family friendly seperti Mbak Riri. Or  berkantor di rumah alias 
SOHO (Small Office Home Office) seperti saran Mommy Leticia. Sayangnya, untuk 
kerajinan tangan saya gak trampil blas. Suami saya sering komentar, kalau 
kemampuan motorik halus saya, parah! Hehehe itu memang betul. Saya gak bisa 
njahit, apalagi nyulam. Wong bikin garis aja menceng-menceng. Tapi, pasti akan 
ada peluang asal kita berusaha.

Sekali lagi, thx atas masukan dan dukungannya.
Saya sudah menemukan titik pencerahan.

Salam,
Sari


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke