Dear Moms, Seperti yang mbak Andi bilang, kita disini beruntung banyak pilihan disposable nappy yang ramah lingkungan. 2-3 tahun yg lalu, nappy ramah lingkungan harganya selangit, untung pas sekarang aku punya anak kecil yang perlu nappy, sudah banyak supermarket yang punya 'in-house' produk eco-nappy. Terus terang, pengen banget kasih popok tradisional ke anak kedua-ku, sama seperti mas-nya dulu. Tapi rasanya nggak sangguplah, selain repot nyuci-nya, juga repot kalo terjadi 'kecelakaan' bocor di rumah (krn rumah full karpet)....pakai eco-nappy, repot bayarnya pas di kasir supermarket :)
Soal harga, eco-nappy bisa 2-3kali lipat nappy biasa...demi lingkungan, ndak papa lah, setidaknya mengurangi rasa bersalah mbayangin nappy anakku perlu puluhan tahun untuk bisa terurai... salam dr Syd, Ayu HUSODO On 19/04/2008, Andi Maerzyda Amalyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bunda Cica n all, > saya termasuk yang sejak awal sadar sekali tentang polemik ini. Di > satu sisi, dispossible diaper (popok sekali pakai) sangat praktis, di > satu sisi kurang ekonomis dan menambah timbunan sampah. Tentang popok > tradisional yang bisa dicuci, kayaknya banyak ya yang sudah > meninggalkannya karena kurang praktis dan efisien. > Saya banyak browsing seputar hal ini, sebelum Keya lahir, terutama > situs di Eropa (terutama Jerman, karena sy bisa bahasa ini) di sana > mereka bersikap sangat ekstrim dan bbrp organisasi gerakan hijau > bahkan sangat anti dengan dispossible diaper. Mrk memberi memberi > beberapa alternatif untuk bisa mengatasi timbunan sampah popok tuh > Bu. Saya rasa bisa diikuti. Hanya saja, saya tidak menyarankan para > Bunda untuk bersikap anti ya... Saya pikir sebagai ortu kt juga harus > smart, cerdik menyiasati sekaligus bijak menghadapi situasi. > > Adaptasi yang saya lakukan: > - Memakaikan dispossible diaper terutama ketika anak diajak bepergian > (misalnya, ke dokter, mengunjungi rumah kerabat atau belanja dll). > - Memakaikan celana plastik yang di dalamnya diberi lapisan nappy > (lampin)plus nappy liner (kertas tipis yang bikin popok jadi anti > tembus) selama anak di rumah. > > Perihal celana plastik, thanks God, saya lihat sekarang banyak yang > jual, dari merek yang harganya mahal dan mutunya terjamin, sampai yg > terjangkau bermerek lokal. Dulu saya harus titip sama sahabat yang > pergi ke luar negeri (hahha). Untuk nappy (kain yang menampung > pipis), sekarang saya lihat jg sudah banyak. Dulu, saya beli bahan > katun lembut berkualitas (tidak sebut merek karena sekarang mereknya > juga udah "ke laut" hahahah) yang saya jahit sedemikian rupa, meniru > nappy yang saya titip sama teman yang beli khusus di toko keperluan > bayi yang ramah lingkungan di Inggris. > > Saya rasa beda keluarga, punya beragam cara. Bgm untuk Bunda anggota > milis yang tinggal di Eropa, Amerika or Australia? Saya suka iri, > kalian pasti bisa beli dispossible diaper yang bisa diurai alam > dengan mudah ya. Rada mahal sih ... tapi yang penting ada yang jual > heheheh... > > Andi Maerzyda A. D. Thambas > Senior Editor/Redaktur Senior Ayahbunda > Koord. AB-Online > visit us @ www.ayahbunda-online.com > > --- In [email protected]<Ayahbunda-Online%40yahoogroups.com>, > "chica tobing" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > Dear All, > > > > Kan seluruh dunia lg gencar2nya kampanye Go Green! alias selamat > bumi > > dari global warming. salah satunya adalah dengan menghemat energi. > > baik itu listrik maupun bahan bakar minyak dstnya. dalam kehidupan > > sehari2 sy sdh mulai terpengaruh gaya hidup tsb, dg tidak > menggunakan > > kantong plastik, menghemat listrik di rumah...ya yg kecil2 gitu sih. > > tp kemudian sy liat pemakaian diaper 2 anak saya yg dalam sehari > bisa > > abis total 10-12 pcs. kepikiran juga, sbnrnya diaper itu disposable > > ngga sih? susah terurai ngga sih? > > > > mohon pencerahan para mommies & daddies ya! > > tengkyu. > > > > cica tobing, > > www.kafebalita.com > > > > >
