Ikut nimbrung soal PRT yaaa... 

Saya pernah tanya ke ibu saya (lbh tepatnya bertanya ke diri sendiri), 
kenapa ya PRT jaman dulu betaaaahhh... ikut sebuah keluarga? Dulu ibu saya 
punya pembantu dari sejak hamil adik saya sampai si adik ini umur 22 
tahun, baru dia keluar, itupun sampai dibujuk2 ibu saya supaya ikut 
anaknya yang sudah mandiri dan karena juga beliau sudah tua. Katanya 
(dalam bahasa Jawa halus), "Hidup-mati saya mau ikut Ibu". Ibu saya sih 
tidak keberatan si mbok ada di rumah kami sampai ajal menjemput, karena 
sudah menjadi bagian yang begitu berarti dari keluarga kami. Tapi anak si 
mbok sampai nyembah2 ke kaki Ibu saya supaya diijinkan membawa emaknya 
tinggal bersamanya. 

Begitu juga dengan almarhumah Eyang saya yang punya PRT2 setia sampai 
puluhan tahun. Juga keluarga besar kami -generasi tuanya- dan teman-teman 
saya, semasa kecil pasti punya pembantu/nanny setia. 

Dan tibalah jaman baru. Hampir tidak ada PRT yang mau 'mengabdi'. IT'S ALL 
ABOUT THE MONEY 
Dan terjadilah 'huru-hara' seperti yang diceritakan para bunda dan ayah di 
sini. 
Saya pun tak luput dari gonta-ganti pembantu dan suster untuk Jyojo. 
Pembantu dan pengasuh dari Jawa Tengah (dari Tegal, Gombong, Purworejo, 
Kendal, Solo, Sragen, Wonogiri sampai Blora), dari Sunda (Ciamis, 
Purwakarta)... you name it. 

Semua datang dan pergi dengan segala kehebohannya, yang bikin saya pusing, 
bikin saya dongkol, bikin saya meradang, bikin saya geli (karena baru 2 
hari minta keluar karena "rumah Ibu kecil, saya biasa kerja di rumah 
gedong..." weeeeiiittssss...), wahhhh... pengalaman hidup yang luar biasa. 



TENIK HARTONO 
Chief Editor / Pemimpin Redaksi   AYAHBUNDA 
Gedung Mensa 2 Lt. 3, Kuningan | Jakarta 12910 - Indonesia
Phone (62-21) 525 3816, 526 6666 ext 4221 | Fax  (62-21) 526 2131, 520 
9366 | Mobile   (62) 816 794394  | www.ayahbunda-online.com

Kirim email ke