Turut berduka cita ya... Tabah selalu .. jangan patah semangat... ancillo pasti sangat2x berbahagia memiliki keluarga yang begitu kuat & pasti dia bangga memiliki keluarga yang begitu mencintainya .. apa adanya..
ibunya ezra ----- Original Message ---- From: Dwi Hartati <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, May 28, 2008 1:35:52 PM Subject: Re: [Ayahbunda-Online] In Memoriam Ancillo Dominic ( Malaikat kecil yg menanti orang tuanya di pintu surga ) Turut berduka cita sedalam2nya ya... smoga keluarga terutama ibunda ancillo di beri ketabahan yang luar biasa. GBU --- - Yusri - <yusri_ayahbundaonli [EMAIL PROTECTED] co.id> wrote: > > Turut berduka cita utk Pak Hasan dan keluarga. > Semoga selalu diberi ketabahan oleh Tuhan YME. > > > Regards, > YUSRI > email: [EMAIL PROTECTED] co.id > YM: yusri_smpn1 > > Sent from my BlackBerry® wireless device > > -----Original Message----- > From: "Hasan" <[EMAIL PROTECTED] co.id> > > Date: Wed, 28 May 2008 08:40:19 > To:<Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com> > Subject: [Ayahbunda-Online] In Memoriam Ancillo > Dominic ( Malaikat kecil yg menanti orang tuanya di > pintu surga ) > > > In Memoriam Ancillo Dominic > Malaikat kecil yg menanti orang tuanya di pintu > surga. > > Lahir dan meninggal : 17 April 2008, 14.30 di Rs > Family Pluit > Misa : 18 April 2008, 11.00 di Rd Atmajaya, Rm. John > Lefteuw Msc. > Kremasi : 18 April 2008, 13.00 di Nirvana > > NY,YENNY CUSAN_76 > > ad2 > > ad3 > > Cerita ini ditulis untuk : > - Orang tua yang ingin > menggugurkan bayinya karena cacat > - Vincent (6 thn) dan Francis (4 > thn), yang belum mengerti kenapa adiknya dipanggil > Tuhan begitu cepat > - Jc, suami yang penuh cinta > menemani dalam suka dan duka > - Dr. Tjien Ronny, SpOG, many > thanks > > > > > > > > > > > > > Bayi yang dinantikan > > Setelah Vincent berumur 5,5 tahun dan Francis > berumur 3,5 tahun, saya merindukan seorang baby > lagi. Perlu waktu setahun sampai akhirnya Jc setuju > dengan keputusan saya untuk hamil lagi. Dia selalu > menunda memberikan jawaban, alasannya menunggu tahun > tikus, biar shionya sama seperti dia. > Sebenarnya, ketakutannya adalah saat melahirkan > Francis, saya sempat pendarahan hingga tak > sadarkan diri dan perlu waktu dua bulan lebih untuk > pulih. Saat itu tidak ada satu dokterpun baik dokter > pengganti melahirkan maupun dokter merawat yang > menjelaskan penyebabnya. > Jc meminta saya untuk memberikan alasan > yang meyakinkannya kenapa harus punya anak tiga, > kenapa dua anak tidak cukup. > Setahun saya mencari jawabannya, tapi > tidak ketemu, mungkin karena saya dan Jc sama-sama > anak ketiga. Alasan lain, dua anak yang lucu dan > nakal, kalau tambah satu lagi rasanya tidak masalah. > Membesarkan dua anak atau tiga anak sama saja. > Akhirnya Jc menyerah karena saya begitu menginginkan > seorang baby. > Kami pun pergi ke Dr. Yani Toehgiono, dokter > langganan keluarga kami, untuk cek pra-kehamilan. > Sebelumnya saya sudah minum asam folat selama > setahun untuk mencegah bayi DS. > Setelah cek darah dan bersih dari segala virus > TORCH, kami meminta dokter untuk sekalian program > baby girl. Sebenarnya saya lebih suka baby boy > karena sudah terbiasa, tapi sekeliling saya ribut > untuk satu lagi harus girl. > Ternyata untuk baby girl harus melewati beberapa > kali pemeriksaan dalam untuk memastikan kematangan > telur dan saat yg tepat. Kami tidak mau karena kalau > terlalu banyak aturan nanti malah susah hamil. > Bulan pertama gagal karena tidak ada telur yang > bagus, banyak telur tapi kecil-kecil. Dokter > menyarankan untuk skip telur bulan ini. “Nggak > buru-buru, kan? Kita coba lagi bulan depan.” > Dokter meresepkan Provula agar bertelur kemudian > dokter menjadwalkan kapan harus kontrol lagi untuk > melihat kematangan telur disamping itu kami diminta > untuk mengisi grafik harian suhu tubuh. > > > 5 s/d 10 minggu > > Kami tidak balik ke dokter sampai bulan depannya > test-pack positif. Saya sangat gembira karena ini > merupakan hadiah ulang tahun terindah untuk saya. > Ketika kami kontrol, dokter langsung bertanya, > “kemarin ‘bikin’nya pakai cuka nggak?” > “Nggak,” jawab saya heran. > “Kemarin saya jadwalin datang hari ke sepuluh, > kenapa nggak datang?” tanyanya lagi. > Saya cuma senyum, takut dokter marah kalau saya > memberi jawaban malas. > “Kalau lihat dari grafik, kemungkinan besar udah > hamil,” kata dokter sambil senyum-senyum. “Cowok > lagi nih, bikinnya pas hari subur sih.” > “Apa aja deh, Dok. Yang penting sehat. Bisa hamil > aja udah syukur.” > Ketika di USG sudah terlihat satu bintik hitam, tapi > kantong kehamilannya belum kelihatan. > “Dok, kira-kira bisa kembar nggak? Kalau kembar, > repot juga,” kata saya. > “Belum kelihatan,” jawab dokter. “Kembar juga > apa-apa, biar satu orang jaga satu, adil.” Dokter > tertawa. > Dokter lalu menasehati untuk hati-hati menjaga > baby. Dokter belum meresepkan obat penguat, hanya > asam folat. > Untuk memastikan kehamilan, kami diminta kembali ke > dokter seminggu kemudian. Ketika berumur 6 minggu, > baby sudah terlihat lebih besar di monitor tapi > belum terdengar suara jantungnya. > Umur 8 minggu, jantung baby sudah terdengar seperti > baling-baling pesawat, di monitor sudah terlihat > detak yang stabil. > Umur 10 minggu, baby sudah kelihatan bergerak-gerak, > tangan dan kaki sudah terlihat, masih berbentuk > kecil, ukurannya masih 2.5 cm. > Lega rasanya ketika dipastikan hamil, walaupun harus > melewati mual di pagi dan sore hari, di luar jam > kantor. Benar-benar anak yang mengerti orang tuanya. > > > > 12 Minggu. > > Kami memutuskan untuk pindah ke Dr. Tjien Ronny. > Kebetulan Rs. Family hanya lima menit dari rumah dan > dokternya terkenal bagus. Julukannya di kantor > ‘dokter sejuta umat’. Sebagian besar teman di > kantor konsultasi dengan dia dan semuanya bilang oke > banget. > Sebelum bertemu dokter, di luar suster mengisi > catatan medik dan data-data kehamilan sebelumnya, > sempat berpesan kalau kontrol dengan dokter ini > musti sabar, soalnya dokter periksanya lama dan > teliti. > Kesan pada pertemuaan pertama, dokternya sangat > simpatik, muda, ganteng, mau mendengarkan, tidak > buru-buru dan vitaminnya tidak aneh-aneh. > Saat itu dokter mengecek tengkuk leher baby untuk > memastikan tidak ada penebalan cairan, semuanya > bagus, tidak DS. Dokter dengan teliti memperlihatkan > tangan dan kaki baby yang semuanya sudah > proporsional. Saya senang sekali, setelah menunggu > beberapa minggu, sekarang bisa melihat cukup lama > baby yang mengagumkan di monitor. Tangannya seakan > melambai-lambai dan kaki-kaki kecilnya belajar > menendang. Panjangnya sudah 6 cm. Dokter juga sangat > sabar menjawab pertanyaan kami. > Saking kinclongnya dokter, Jc berkata ke saya, > “pasti deh si dokter minum vitamin yang jutaan, > kalau nggak gimana bisa segar gitu.” > Jc langsung setuju untuk seterusnya pakai Dr Ronny > walaupun hari Sabtu harus menaruh buku dari jam 6 > pagi dan mengantri cukup lama, toh cuma sebulan > sekali. > Saya sempat bertanya ke suster di luar, hari apa > yang pasiennya lebih sepi. Kata suster, tiap hari > ramai sampai tengah malem. Lalu saya diajarkan untuk > menaruh buku dulu, tensi dan telpon ke extention > untuk menanyakan nomernya sudah dekat belum. > Suster menambahkan, dokter apa-apa sendiri, jahit > caesar pun dilakukan sendiri, tidak pakai asisten. > Saat teman saya melahirkan, dia pernah menghitung, > dari 35 baby yang lahir, 15 diantaranya lahir di > tangan dokter. > Dokter punya begitu banyak waktu dan perhatian untuk > pasiennya, apa masih punya waktu untuk keluarganya. > Entahlah. > > > 17 Minggu. > > Dokter riang sekali pagi itu, menyalami kami lalu > bernyanyi-nyanyi === message truncated ===
