Mbak Nia, saya adalah rekan se"penderitaan", yaitu 1 dari sekian ibu yang tidak bisa (bukan tidak mau) memberikan ASIX kepada bayinya. Anak saya cuma dapet ASI 2 bulan, itupun ga X. Hal ini dipicu banyak faktor, faktor psikis, faktor lingkungan, tapi terutama faktor "me", alias diri sendiri. Tapi saya ga minder kok mbak, karena ketidak bisaan memberi ASI tidak membuat saya menjadi a bad mother. Kadang miris membaca kebanggan ibu2 yg bisa ASIX, dan memang kalau tidak berhati2 bisa terjangkit MOMZILLA. Saya sendiri pernah berhadapan dengan seorang MOMZILLA, yang memanggil saya "merampas hak anak" dan kata2 ini membuat saya menangis. Saya katakan padanya bahwa yang berhak mengatakan merampas hak anak, hanya anak saya sendiri dan Tuhan. Karena mereka yang tau apa latar belakang dari ketidak bisaan saya. Bagi saya yang penting adalah siapa saya di mata Tuhan dan anak saya, dan selama Tuhan dan anak saya memahami diri saya, I am at peace. Saya memiliki seorang teman kantor yang ASInya berlimpah tapi karena dia malas nyusui, ASInya dibuang. Alasannya simple, "males" dan "nanti PDnya melorot". Itu yang saya katakan "merampas hak anak". Tapi bagi para ibu yang sudah berusaha namun tidak berhasil, kami tidak "merampas hak anak", kami sedang belajar. Dan layaknya anak kecil yang sedang belajar, kami terjatuh. Namun kami akan bangkit dan berusaha lagi. Jadi, bagi yang mau punya baby, go ASIX as best as you can. Bagi yang udah terlanjur, next time will be better ya. Bagi yang ASIX, congrats and be a good role for others.
Salam Mom Enzo fe fang
