mba Yanti, kalo pengalaman saya pribadi, saya tinggalin semua kerjaan saya, untuk ikut suami, kebetulan kami berasal dr kota yang berbeda. setelah itu, saya ikut suami keliling, karena kerjaan nya memang banyak di luar kota. dibawa enjoy aja, dalam seminggu kita bisa pindah2 kota 3 kali, naik pesawat udah kaya naik bajaj, cape sih, tapi anggap aja bulan madu. sampai akhirnya saya hamil, mau ga mau harus jaga badan, kegiatan yang cape agak di rem, yang menyenangkan itu suami juga akan merasa ga biasa lagi kalo harus jalan keluar kota sendirian, akhirnya dia juga ngurangin jadwal keluar kotanya. Akhirnya, kita mulai delegasi kerjaan yang di luar kota, kita sendiri fokus di Jakarta. Sampai sekarang Ellese udah hampir 7 bulan, kami merawatnya bersama sama, kadang2 suami ke luar kota untuk kontrol, tinggal saya dan Ellese di rumah, itupun cuma beberapa hari, karena katanya udah ga bisa jauh2 lagi sama anak bini. Jadi, kalo menurut aku sih, ga apa2 ikut suami keliling, selama masih belum ada baby, nikmati dulu masa2 bulan madu berdua. Ntar kalo udah ada momongan, disinilah hidup menjadi komplit pake telor.. segitu aja yah, selamat buat pernikahan nya yaa.. salam manis dari ellese dan mommy
----- Original Message ---- From: novia novia <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, June 11, 2008 12:59:24 PM Subject: [Ayahbunda-Online] Re:Re:tanya2 mbak yanti, betul mbak. kalau menetap diluar kota, sebaiknya ikut pindah keluar kota. saya sendiri memutuskan meninggalkan semuanya yang saya miliki sebelum menikah dengan pindah ikut suami yang jauh di ujung pulau jawa. sangat tidak enak rasanya. saya tidak punya teman, jauh dari keluarga, hamil beresiko, bedrest sendiri, dan sebagainya. tapi saya tetap menguatkan diri. saya percaya dan yakin bahwa tempat saya adalah dimana ada suami saya. kalau hanya sering keluar kota yah, tidak harus mengekor terus dan meninggalkan pekerjaan. mungkin sesekali saja ikut kalau tidak merepotkan dan tidak sedang sibuk dengan pekerjaan sendiri. salam,
