halo .. betul kata mbak nika .. demi kesehatan dan kenyamanan anak kadang-kadang kita tampak berlebihan. termasuk dipingit 6 bulan selama asix. saya siy nggak bisa begitu. tadinya berencana begitu. ada saja yang membuat saya akhirnya keluar rumah membawa bayi merah. pertama kali okta naik pesawat umur 43 hari. bukan sembarang naik pesawat lho. okta kan lahir di kampung halaman. setelah dirasa cukup kuat, kami pengen mandiri dalam mengasuh okta. jadi diboyonglah bayi merah itu dalam perjalanan panjang. okta naik mobil pertama kali ke anyer - jakarta umur hampir 5 bulan. sebab neneknya meninggal. itu juga perjalanan panjang yang sangat menguras energi. bahkan okta sempat tidak naik berat badannya. saya sempat panik. tapi bagaimana lagi. sudah terjadi. selanjutnya harus lebih berhati-hati membawa bayi. perjalanan liburan pertama okta menjelang lulus asix. imunisasi untuk usianya sudah lengkap. dia sehat wal afiat. kemudian setelah lulus asix jelas pulang kampung lagi. maem pertamanya di rumah eyang. jadi sebaiknya dipikirkan kembali urgensinya membawa bayi merah umur 1 bulan menempuh perjalanan panjang. yang kedua, soal PRJ. waduh ... buat apa bawa bayi merah ke PRJ? okta yang sudah hampir 2 tahun saja tidak terbayang saya ajak kesana. saking ramainya saya takut okta keselip malah hilang. belum lagi urusan apa yang dia lihat disana dan manfaatnya apa. betul kata mbak yusri. tolong, dipikirkan kembali deh. kalau memang mamanya sudah tidak tahan pengen jalan, bayinya dirumah saja. nggak usah dibawa kemana-mana. kalau sampai sakit atau kenapa-kenapa, bayi merah 1 bulan belum bisa bilang apapun kecuali menangis. kalau sudah begitu, semuanya bakalan ikut menangis. bener deh. anak asakit akan menghabiskan stok air mata, kesabaran, kekuatan, dan sebagainya. salam,
