----- Original Message ----- 
From: Nigella Sativa 
To: [EMAIL PROTECTED] ; Nhc Plus ; Ikmal Kosmojaya ; Keadilan 4all 
Sent: Friday, August 01, 2008 11:25 AM
Subject: [keadilan4all] Ibu Hamil Tak Wajib Minum Susu -Yang baru di Blog 
imunisasihalal.wordpress.com-


http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/01/10374025/ibu.hamil.tak.wajib.minum.susu

Jumat, 1 Agustus 2008 | 10:37 WIB

Ibu Hamil Tak Wajib Minum Susu

Bila kebutuhan gizi sudah terpenuhi dari makanan sehari-hari, minum susu malah 
bisa mengakibatkan kelebihan berat badan.

"SUDAH minum susu? Jangan sampai lupa lo, ini demi janinmu." Nasihat seperti
ini rasanya tak asing lagi buat kita yang berbadan dua, seolah minum
susu merupakan kewajiban. Hingga, mereka yang tak doyan susu pun
akhirnya memaksakan diri meminumnya. Sampai-sampai ada lo ibu hamil
yang khawatir akan perkembangan janinnya hanya gara-gara perut si ibu
tak bisa menerima susu alias selalu mual-muntah setiap kali minum susu.

"Memang,
ibu hamil perlu makanan tambahan. Si ibu kan bukan cuma memberi makan
dirinya, tapi juga janinnya," kata dr Victor Tambunan dari bagian Gizi
FKUI-RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Penambahan itu mencakup kalori,
protein, kalsium, vitamin, dan mineral.

Untuk kalori, dibutuhkan
sebanyak 300 kkal per hari. Kalori sangat penting untuk pembentukan
energi tubuh. Sementara itu, kebutuhan protein sekitar 12 gr per hari
dan berguna untuk pertumbuhan janin, plasenta, cairan amnion, jaringan
uterus, hemoglobin, plasma protein, serta untuk cadangan maternal kala
melahirkan dan laktasi. Suplai protein yang dianjurkan, sebagian besar
hendaknya dari sumber hewani karena sumber ini menyediakan asam amino
dalam kombinasi optimal.

Kalsium diperlukan untuk pembentukan
tulang dan gigi janin, serta peningkatan metabolisme kalsium si ibu.
Ibu hamil menahan sekitar 30 gr kalsium selama kehamilan. Sebagian
besar ada di tulang yang dapat dengan mudah dimobilisasi untuk
pertumbuhan janin pada kehamilan lanjut.

Akan halnya vitamin,
yang diperlukan per harinya: 200 mikrogram RE vitamin A; 10 mikrogram
vitamin D; 10 mg vitamin E; 65 mg vitamin K; 0,2 mg tiamin; 0,2 mg
riboflavin; 0,1 mg niasin; 0,3 mikrogram vitamin B12; dan 150 mg asam
folat. Sedangkan mineral yang dibutuhkan per harinya: 20 mg zat besi, 5
mg seng, 400 mg kalsium, 25 mikrogram yodium, 15 mikrogram selenium.

Cukup Dua Gelas Sehari
Nah,
susu yang terbuat dari susu sapi dianggap merupakan sumber nutrien yang
mendekati ideal, khususnya untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium
bagi ibu hamil dan menyusui. Selain itu, di dalam susu juga terkandung
kalori dari gula susu (laktosa), vitamin dan mineral. "Jadi, bisa
dibilang susu adalah makanan yang hampir sempurna, hingga bisa
dijadikan alternatif untuk mencukupi kebutuhan tambahan makanan bagi
ibu hamil," kata Victor.

Namun, bukan berarti ibu hamil wajib
minum susu, lo. Apalagi sampai mengandalkan susu, amat tak dianjurkan.
Soalnya, susu juga punya kelemahan, yaitu kurang zat besi. Padahal, zat
besi pun amat penting untuk ibu hamil. "Kekurangan zat besi akan
membuat si ibu mengalami anemia dan mempengaruhi kecerdasan si janin."
Meski tak tertutup kemungkinan si janin sehat-sehat saja sekalipun
ibunya mengalami anemia berat. Artinya, janin tak mengalami kekurangan
zat besi sedikitpun. Sebab, adakalanya bayi ibarat parasit, mengisap
seluruh persediaan zat si ibu hingga ibu mengalami kekurangan zat-zat
tertentu tapi janinnya tak kekurangan. Namun begitu, tetap harus
dipikirkan kebutuhan zat besi ini, yang bisa diperoleh dari makanan
sumber lain seperti hati sapi, sayur bayam atau sayur-sayuran berdaun
hijau.

Lagi pula, bila terlalu banyak minum susu membuat kita
jadi tak berselera makan makanan lain. Ingat, kan, susu mengandung
protein tinggi? Nah, protein lebih lama diserap oleh lambung dibanding
karbohidrat atau vitamin dan mineral. Makanya, hanya dengan minum susu,
kadang sudah bikin kenyang. Jadi, minum susu cukup 2 gelas sehari, pagi
dan malam. Namun minumnya jangan berbarengan dengan saat makan makanan
pokok, tapi harus dipisah. Misal, makan malam jam 19.00, maka susu
diminum sebelum tidur sekitar jam 22.00. Begitu pula bila sarapan.
Minimal, jaraknya 2-3 jam, boleh diminum sebelum atau sesudah makan.

Jika
susu diminum berbarengan dengan makanan pokok, maka sayuran dan beras
yang kita makan bisa mengganggu penyerapan kalsium dari susu. Padahal,
salah satu yang dipentingkan dari susu adalah kalsiumnya. "Pada sayuran
dan kulit ari beras ada serat yang namanya asam fitat. Asam fitat
inilah yang menghambat penyerapan dari kalsium itu." Selain itu, asam
fitat juga menghambat penyerapan seng dan zat besi. "Jadi, mineral juga
diganggu oleh asam fitat ini." Adapun yang dimaksud asam fitat ialah
asam anorganik yang ada di biji-bijian serta gandum. Asam fitat hanya
berguna untuk pertumbuhan tanaman itu sendiri, tapi tidak untuk manusia.

Kelebihan Berat Badan
Dampak
lain, bila kebutuhan gizi sudah terpenuhi hanya dari makanan yang kita
konsumsi tapi kita tetap ingin minum susu, bisa mengalami kelebihan BB.
Padahal, selama kehamilan juga perlu dijaga agar pertambahan BB tak
melebihi aturan, yaitu antara 12-15 kg. "Bukankah BB yang meningkat
juga berarti mengundang bahaya lain lagi?" ujar Victor. Si ibu bisa
mengalami keracunan kehamilan, preeklampsia, maupun diabetes. Bahkan,
tubuhnya pun bisa mengalami bengkak, entah di kaki maupun perut, selain
juga mengakibatkan si ibu lekas lelah dan sulit menjaga keseimbangan
badan.

Jadi, bila kebutuhan gizi si ibu memang sudah terpenuhi
dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari, ya, tak perlulah ditambah
susu. Lain hal bila si ibu kekurangan gizi akibat morning sickness,
misal, "tak mengapa kekurangannya itu diberikan dalam bentuk susu. Kita
hitung, makanan pokok yang masuk ada berapa dan kebutuhan dia seberapa,
lalu kita ambil selisihnya. Tentunya kebutuhan per individu ibu hamil
tak sama, tergantung BB dan TB si ibu. Bila dia butuh 2000 kkal, misal,
sedangkan makanan yang masuk hanya 1000 kkal dan yang 1000 kkal-nya
lagi terbuang akibat muntah-muntah. Nah, kekurangannya ini bisa
dipenuhi dengan susu."

Namun jangan dibalik, lo Bu. Bukan
susunya yang digunakan untuk mencapai kebutuhan gizi ibu hamil,
melainkan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Susu hanya sekadar untuk
mempermudah mencapai jumlah yang dibutuhkan. Jadi, makanan pokoklah
yang harus ditambah. Untuk penambahan kalori, misal, bisa diperoleh
dari bahan pokok seperti nasi, jagung, ubi, dan lainnya. Untuk protein,
diperoleh dari sumber protein seperti daging, ikan, ayam, telur, tahu,
tempe, dan sebagainya. Sedangkan vitamin dan mineral bisa didapat dari
sayuran dan buah-buahan.

Dengan demikian, pola makan si ibu juga
harus diubah: ia harus makan lebih banyak lagi. Persoalannya, tak semua
ibu kuat makan banyak. Nah, bila si ibu makannya sangat sedikit, tentu
ia bisa muntah jika dipaksa makan banyak. Padahal, kebutuhan tubuhnya
meningkat, perlu tambahan 300 kkal setiap hari, belum lagi tambahan
zat-zat lain. Otomatis, kalau makannya sedikit, tentu takkan bisa
mengejar kekurangan tersebut. Hingga, sebagian ibu hamil lantas
mengambil jalan pintas dengan menambahnya lewat susu. Jadi, karena
kurang barulah ditambah dengan susu.

Jaga Kekurangan Makanan
Intinya,
jangan menganggap kalau sudah minum susu berarti sudah sehat dan
dijamin tak kekurangan apa pun. Ini pendapat yang salah karena makanan
tetap harus lengkap dengan menu seimbang. Jadi, tak perlu dipaksakan
harus minum susu bila ibu hamil benar-benar tak doyan susu. Asalkan si
ibu bisa memenuhi kebutuhan gizinya dari makanan, tanpa minum susu pun
tak masalah.

Yang penting, tegas Victor, ibu hamil jangan sampai
kekurangan makanan. Soalnya, kekurangan makanan akan berdampak pada
janin. Bukankah penyerapan ke janin tergantung si ibu? "Jadi, bila
kebutuhan gizi si ibu kurang, ya, bayi juga bisa terkena BBLR atau
berat badan lahir rendah, yang akan berdampak pada kualitas si bayi
selanjutnya."

Selain itu, bila kebutuhan ibunya tak terpenuhi, janin pun bisa kekurangan asam 
folat, yang berdampak pada neural cube defect yang mengakibatkan bayi cacat 
atau meninggal. "Walaupun kalau dilihat
dari pola makan ibu-ibu di negara kita, sebenarnya kekurangan asam
folat ini jarang terjadi karena ibu-ibu kita sering makan
kacang-kacangan seperti tempe dan tahu," tutur Victor.

Tak Perlu Susu Khusus Ibu Hamil
"Toh, kandungannya tak beda dengan susu full cream biasa asalkan jangan yang 
skim karena berarti lemaknya sudah dibuang, padahal lemak salah satu sumber 
energi pula," tutur Victor.

Memang,
akunya, ada beberapa susu khusus ibu hamil yang ditambahkan zat
tertentu semisal asam folat yang berguna untuk pertumbuhan otak bayi
atau serabut-serabut sarafnya. Namun, bila kita makan hati sapi dan
kacang-kacangan, tak perlu lagi harus minum susu mengandung asam folat.

Terlebih,
dokter kandungan pun akan memberikan resep tablet asam folat buat ibu
hamil jika memang si ibu membutuhkannya. Namun bila kebutuhan asam
folat dalam tubuhnya sudah terpenuhi dari makanannya, dokter takkan
memberikan. Jadi, tak ada alasan untuk mengonsumsi susu yang mengandung
asam folat ya Bu. Apalagi harganya biasanya tak murah kan?

Susu Kedelai
Dibanding
susu sapi, susu kedelai memiliki zat besi lebih banyak. Namun
kekurangannya, "susu kedelai mengandung asam fitat yang bisa menghambat
penyerapan zat besi. Hingga, zat besi yang banyak itu jadi tak berguna
karena tetap tak terserap dengan bagus," jelas Victor.

Selain
itu, susu kedelai berasal dari nabati dan kualitasnya tak sebagus susu
hewani. "Protein hewani punya nilai biologi lebih tinggi karena terdiri
asam amino esensial yang komplet, sedangkan protein nabati asam
aminonya tak lengkap."

Belum lagi susu nabati tak mengandung
laktosa sehingga karbohidratnya sama dengan beras, yaitu berasal dari
pati. Makanya, susu ini bagus buat orang yang tak tahan laktosa atau
mengalami intoleransi laktosa.

[Non-text portions of this message have been removed]



 

Kirim email ke