Halo Dina,

 

Oh ya, sebelumnya terima ksih atas sapaan welcome yang hangat dari beberapa 
Bunda di sini, Bunda Iva (juga), NIluh, Fany, Nika, Novia, dll…

 

Mengenai situasinya Dina, kalau boleh urun rembug, sebetulnya tidak selalu 
berpangkal pada keberhasilan si Nenek Rafa (Tante Dina) dalam “membangun 
hubungan” dengan Rafa. Sehingga opsi yang melibatkan keberadaan Nenek bukanlah 
solusi yang tepat karena bagaimanapun Rafa lebih aman bersama anggota keluarga. 
Instead of choosing that term, sebaiknya kita sebagai Ibu yang bekerja pun 
wajib segera membangun hubungan yang intens dengan anak sesering mungkin dan 
dengan segala macam cara. 

 

Bagaimana caranya? Misal:

·         Ketika di rumah, sering2lah berdekatan atau bahkan membawa Rafa dalam 
dekapan

·         Sering2lah mengajak Rafa berkomunikasi. Apa bisa bayi 8 bulan 
mendengar dan mengerti omongan orang dewasa? Mungkin tidak, tetapi bayi 
memahami intonasi suara orang dewasa, dan menerjemahkannya sebagai bentuk 
komunikasi. Tidak heran, ketika bayi menangis, dia akan berangsur2 diam ketika 
si ibu menenangkannya dengan kata dan irama yang menyejukkan, menentramkan dan 
membuat dia merasa aman.

·         Berkata2lah yang lembut di telinganya, sambil  (bila perlu) usap2 dan 
cium pipi serta daerah telinganya dengan lembut pula, karena itu adalah daerah 
sensitive rangsangan. Ajaklah ia bicara seolah-olah ia mengerti apa yang anda 
bicarakan (walau sejatinya ia pun telah mengerti dan dapat merasakannya)

·         Jika Dina di kantor, mintalah Nenek Rafa untuk menyambungkan Dina 
dengan Rafa via telepon (bukan HP dan any fixed wireless phone,  karena 
radiasinya tidak aman bagi bayi). Sapalah Rafa dengan nada yang antusias. 
Buatlah Rafa merasa penting, diperhatikan dan diingat oleh Ibunya yang sedang 
bekerja.

·         Bacakan cerita dengan intonasi suara yang bergairah. Kalau saya dulu 
sambil tiduran, pegang buku di dekatnya baby dan mulai menirukan aneka suara. 
Dan Alhamdulillah mereka rata2 antusias dan senang . Apa mereka mengerti 
ceritanya? I’m not really sure. Yang pasti mereka merespon dengan aneka 
celotehan yang aduuhh lutuna, hehehe. Padahal ketika itu mereka rata2 masih 
umur 5 bulan. Dan lebih alhamdulillahnya lagi, sampai sekarang mereka suka 
baca/pegang buku. I think it’s a great way to build their reading habit too. Si 
kakak yg umur 8 tahun tidak pernah kesulitan belajar dan jarang sekali minta 
bantuan saya untuk memahami aneka materi bacaan pelajaraan sekolah.

 

Itu adalah beberapa contoh membangun kedekatan dengan anak/bayi yang sehari2nya 
tidak kita asuh secara full time karena harus bekerja di luar rumah. Selama ini 
cara itu cukup efektif buat saya. I had been in the same situation, bahkan 
tidak hanya saat anak pertama saja, hingga anak ke-3 pun saya selalu melibatkan 
neneknya sebagai pengganti keberadaan saya while I’m not around. Kebetulan saya 
tinggal di belakang rumah ibu ;p Tapi begitu sampai rumah, kegiatan utama 
adalah mengajak anak2 itu berkomunikasi. Bagi yang tidak tinggal berdekatan 
dengan orang tua/keluarga lainnya, minimal pengasuhnya juga diberikan 
pengertian yang sama.

 

So, Dina, semoga membantu ya. Dan be proud karena dirimu telah berusaha menjadi 
ibu yang baik. Semoga berhasil.

 

Salam,

Lathifah Ambarwati (Iva)

YM: ivabiz2004

http://gayahiduporganic.wordpress.com

http://mamaselma.wordpress.com

www.friendster.com/mamaselma

 

 

 

Kirim email ke