Saya pernah baca buku (maaf, judulnya lupa...), kalau semua panca indra bayi 
sudah terbentuk semua (kira2 saat 5 bulan), bayi tersebut sudah mulai mengenal 
bunyi dan bahkan rasa silau kalau perut terkena matahari langsung...
Menurut pengalamanku sendiri sih iya.... waktu Bejjo masih di dalam perut, 
kalau pas saya berenang, saya merasakan gerakan lain sewaktu dia saya ajak 
erobics atau senam hamil... kalau ada bagian badannya "mendosol" di perut saya  
(maaf, saya nggak tau bahasa Indonesianya), saya gelitikin... pasti dia akan 
umpetin lagi badannya.. kalau pas saya travelling jauh, kalau dia gerak2 terus 
saya akan mutarin musik apa saja, tidak cuma musik klasik, nggak lama kemudian 
dia tenang... sekarang ini kalau dia mendengar musik klasik, dia akan duduk 
tenang dan jatuh tidur, kalau mendengar musik agak gembira dia menari atau 
tepuk tangan...
Jadi nggak salah kok  ajakin bayi dalam perut kita berkomunikasi atau mengenal 
suara2 lain, karena dia sudah mengenali suara orangtuanya sejak dalam perut... 
jangan hanya ibunya saja yang bicara pada bayi tapi juga bapaknya... Makanya 
dulu kan orang2tua kita bilang "jangan bicara yang nggak2 kalau waktu hamil"  
karena bayi kita sudah mendengar.
Maaf OOT, Pernah lihat film dokumenter "The Emperor Pengiun" nggak ? Pengiun di 
kutub sana aja, bisa mengenali suara ibu/bapak sejak didalam telur..... kenapa 
bayi kita tidak ?
 
Maknya Bejjo

--- On Tue, 1/27/09, novia novia <[email protected]> wrote:


From: novia novia <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] Re:re: Bener ga sih pendidikan pra lahir itu bikin 
anak pintar?
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 27, 2009, 10:13 PM






ini menurut pengalaman saya lho yah. mungkin tidak ilmiah. tapi menurut saya 
sangat benar.

dari masih dalam kandungan, sejak saya berasa sering mual dan muntah, sebelum 
di test pack, saya sudah menganggap anakku ada. saya sering mengajaknya bicara 
dan menceritakan kepadanya apa yang sedang terjadi saat itu. kami ada dimana, 
sedang apa, dan sebagainya. pernah sedang lewat rel kereta, saya kasih tahu 
kalau suara gemuruh itu suara kereta api. tidak perlu takut. tapi mungkin 
kaget. atau suara pesawat, petir, suara papanya, dan sebagainya. 

saya juga berusaha melibatkannya dalam pembicaraan kami berdua. jadi kami 
bertiga sebenarnya. 

saya juga memutarkan musik yang saya sukai dan kadang membacakan buku tapi 
tidak selalu buku anak. 

apalagi setelah lahir. saya makin cerewet. banyak mengajaknya bicara. dan 
sejauh ini dia bisa menyatakan pendapat dengan caranya sendiri apakah dia 
setuju atau tidak bahakan mau atau tidak.

salam,

 














      

Kirim email ke