"Guillain Barre", Membuat Sutini LUMPUH Seketika!

  *Kirim Teman* <http://www.kompas.com/kirim_berita/index.cfm?nnum=47045> |
*Print Artikel* <http://www.kompas.com/kirim_berita/index.cfm?nnum=47045>

*Tiada angin ataupun hujan, mendadak Sutini Mochtar menderita kelumpuhan.
Beberapa hari sebelumnya ia merasakan kesemutan di ujung-ujung jari kaki dan
tangan. Ia juga didera nyeri yang luar biasa di sekujur tubuh. Jauh lebih
nyeri daripada saat melahirkan. *

*Masyarakat di sekitar tempat tinggal Sutini Mochtar di Makassar, Sulawesi
Selatan, mengenal perempuan ini sebagai pribadi yang sangat aktif. Ia amat
mencintai kegiatannya di dunia desain ruangan kantor. "Orang-orang bilang
saya ini aktif, sekaligus cerewet," tutur Tini  sapaan akrab  ibu lima anak
ini. Dimata Windy, salah seorang putrinya, Tini adalah sosok yang kuat.
"Bagaimana tidak, setiap pagi Mama mencuci empat mobil yang ada di rumah.
Mama memang senang sekali mencuci mobil," katanya sambil tergelak.*

Demi mendukung aktivitasnya yang padat, setiap pagi Tini tak lupa
mengonsumsi sejumlah vitamin. " Paling tidak saya minum vitamin E dan  C
dosis tinggi, " papar peremuan 52 tahun ini. Berkat kedua vitamin ini, ia
jarang sakit atau merasa kurang *fit. *

Suatu pagi, tepatnya tanggal 20 Februari tahun silam, ia merasa ujung-ujung
kakinya kram. Meski sempat khawatir, rasa kram ini tidak terlalu
dihiraukannya. Kram itu  lama-lama berubah menjadi kesemutan.

Meski kesemutan di ujung kaki da tangan, ia tetap menjalankan bisnisnya
seperti biasa. Dalam tiga hari berikutnya ia masih menyetir mobil sendiri ke
kantor.

*Harus digotong*

   - *Ketika rasa kesemutan itu tak juga hilang, kekhawatirannya pun makin
   tebal. Tak bisa lagi ia mengabaikannya. Buru-buru ia memeriksakan diri ke
   dokter.*

Dokter mencurigai adanya *diabetes mellitus* (kencing manis). Dikhawatirkan
diabetes itu sudah menyerang saraf sehingga menimbulkan rasa kesemutan dan
kram.

Namun, diagnosis diabetes itu langsung dicoret karena hasil pemeriksaan
kadar gula darahnya normal-normal saja. Dokter pun makin mencurigai adanya
sesuatu yang salah pada saraf anggota geraknya. Tini lalu diberi obat untuk
memperbaiki kelainan saraf.

"Diberi obat itu saya bukannya sembuh. Kramnya malah semakin menjadi," kisah
istri seorang pengusaha di Makassar ini. Kondisinya memang jadi memburuk. Ia
tidak mampu berjalan lagi, dan ke mana-mana harus dipapah.

Seolah penderitaannya belum cukup. Kali ini tekanan darahnya meninggi hingga
*190/95 mmHg.*

"Wah, pokoknya pusing luar biasa. Pandangan mata jadi tidak beres. Semua
yang ada disekitar saya terlihat goyang," kisahnya. Kram dan kesemutan
semula hanya di tangan dan kaki, juga merambat naik ke badan.

Lima hari sudah ia dirawat di rumah sakit, tapi tak ada kemajuan sedikit
pun. Obat-obat yang diresepkan untuknya, sudah ditelan semua. Ia juga
mendapat injeksi, tapi tampaknya semua itu tidak dapat menolongnya.

*Penyakit misterius macam apa yang sedang menyerang tubuhnya? *

Memikirkan hal itu membuat Tini merasa takut sekaligus bingung. "Daripada di
rumah sakit tapi tidak sembuh juga, saya memaksa agar diperbolehkan dokter
untuk pulang," ungkapnya dalam logat Makassar yang kental.

Akhirnya, ia pun kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat payah. Si
perempuan aktif ini terpaksa harus digotong beramai-ramai.

"Tetangga dan relasi sampai ada yang menangis melihat kondisi saya. Mereka
jarang mendengar saya jatuh sakit. *Eh,* sekalinya sakit, sampai tidak bisa
jalan," katanya.

Sulit sekali ia melukiskan rasa sakit yang mesti ditanggungnya. Ia
menggambarkan, ketika itu *duburnya serasa seperti ditekan dari atas dan
bawah* sekaligus. Kesakitan itu belum termasuk nyeri karena kram dan
kesemutan yang menjalari ujung-ujung jari tangan serta kakinya.

"Saya sudah melahirkan lima orang anak. Saya tahu sekali rasanya sakit
melahirkan. Dan sakit persalinan itu tak ada apa-apanya dibanding sakit yang
menimpa saya ketika lumpuh," ujarnya serius.

Sayang, ketika ia sakit kelima anaknya tak bisa mendampingi karena tinggal
di tempat yang jauh, bahkan ada yang di luar negeri.

*Harapan sembuh*

   - *Bingung karena tak sembuh juga, akhirnya segala macam upaya ditempuh.
   Kerabatnya memberi saran untuk menjalani pengobatan alternatif. *

Penyembuh alternatif pun didatangkan khusus ke rumahnya. "Dari ujung kaki
sampai kepala saya dipijat. Katanya sih, kalau pasiennya pingsan, itu bagus,
pertanda akan sembuh," ceritanya.

Karena tak kunjung pingsan, Tini malah terpaksa harus menahan rasa sakit
yang luar biasa selama sekujur tubuhnya dipijat. Ia juga sempat merasa
kesulitan bernapas. Gara-gara hal itu, ia tidak bisa menelan makanan dan
minuman.

"Rasanya sakit sekali, tapi apa boleh buat. Saya harus tetap makan dan minum
meski sedikit. Terpaksa saya minum perlahan-lahan," katanya.

Tekanan luar biasa pada duburnya itu membuat saat buang air besar jadi acara
yang amat menyakitkan. Terpaksa dokter harus mengorek lubang duburnya untuk
mengeluarkan kotoran.

Dari seorang teman yang juga menderita penyakit jantung, Tini diberi tahu
cara pertolongan pertama kalau mendapat siksaan bernapas. "Memang kurang
tepat. Tapi lumayan *sih*, jadi berkurang sedikit sesak napasnya," ucapnya.

Secercah harapan mulai berkembang di benaknya ketika seorang kenalan yang
pernah lumpuh memberi tahu tentang terapi medis di Jakarta. "Dia dulu pernah
lumpuh. Sekarang bisa berjalan kembali," katanya.

Tanpa banyak bertanya lagi, Tini langsung merencanakan perjalanan ke
Jakarta. Namun, ia tak bisa segera berangkat karena tiket pesawat baru bisa
didapat seminggu kemudian. Terpaksalah ia harus menahan rasa sakit lebih
lama lagi.

Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Jakarta, para sahabat dan handai taulan
tidak ingin ketinggalan melepas keberangkatannya. Mereka rela
berdesak-desakan dalam enam mobil demi mengantarnya ke bandar udara.

Empat orang kerabatnya siap sedia mengawal sampai Jakarta. Juga termasuk
menggotongnya untuk masuk dan keluar pesawat.

"Wah, heboh *deh*. Mungkin lebih heboh daripada melepas kepergian orang
berhaji," ujarnya sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

*Dicuci Allah*

   - *Entah sugesti atau bukan, Tini langsung merasa lebih enak setelah
   dirawat di RS Jakarta. Diagnosis yang dijelaskan dokter memang terdengar
   asing. Tini dinyatakan terkena penyakit Guillain Barre. Penyakit ini bisa
   disembuhkan secara total.*

"Dokter berjanji dalam tempo tiga minggu saya akan bisa berjalan lagi. Saya
langsung merasa punya harapan untuk hidup kembali," kisahnya penuh nada
haru.

Di rumah sakit ia sempat hendak diberi masker oksigen. Namun, selang-selang
oksigen itu membuatnya takut, sehingga ia menolaknya. Dengan yakin ia
memberi alasan kalau dirinya masih bisa bernapas secara normal. Akhirnya, ia
pun terbebas dari selang-selang itu.

Gangguan pernapasan memang cukup merepotkannya. Berkat pengobatan yang tepat
dalam tempo sepuluh hari ia bisa lepas dari gangguan sesak napas, tapi ia
masih tergolek lumpuh tak berdaya. Hanya saja, kali ini ia merasa lebih
sabar dan  optimis. Tak lupa ia terus berdoa, mohon kesembuhan pada Yang
Kuasa.

Tak terasa, tiga pekan sudah berlalu. Berkat pengobatan dan latihan
fisioterapi, ia mulai  mampu melangkahkan kaki, walau tertatih-tatih.
Sebelumnya, ia tekun melatih anggota tubuhnya. Ia harus belajar bangun,
menggerak-gerakkan tangan dan kaki, juga memegang sendok serta menyuapkan
makanan ke mulut.

"Pada minggu kedua saya mulai belajar jalan," ceritanya.

Bila mengenang saat-saat mengalami kelumpuhan itu, Tini selalu tercenung. Ia
bersyukur, betapa banyak kerabat dan teman yang ternyata betul-betul
menyayanginya.

"Saya sudah dicuci darah oleh Allah. Bayangkan ketika itu saya adalah
manusia tanpa daya," ujarnya perlahan.

Ia dulu berniat akan menyantuni anak-anak yatim piatu, bila berhasil sembuh.
Dan itulah yang kini dibuktikannya, karena telah mengalami kesembuhan.

"Nazar berupa beberapa ekor kambing sepertinya tidak cukup untuk menyatakan
rasa syukur saya," ucapnya penuh kebahagiaan*. Syukurlah*.

*Apa itu Guillain Barre Syndrome?*

   - *Guillain Barre Syndrome (GBS) adalah penyakit akibat sistem kekebalan
   tubuh menyerang sistem sarung saraf. Pada umumnya penyakit ini didahului
   oleh infeksi influenza, saluran pernapasan, atau diare.*

Kemudian di dalam tubuh terjadi reaksi autoimun, yakni sistem kekebalan
tubuh sendiri menyerang bagian dari ujung sarung-sarung saraf. Tindakan
bedah atau vaksinasi juga kadang bisa memicu sindroma ini.

"Gejala awal yang dirasakan pasien adalah kesemutan di ujung-ujung kaki dan
tangan. Perusakan di ujung sarung saraf itu kemudian merembet naik ke tangan
dan kaki. Proses perusakan ini bisa berlangsung selama 3 sampai 6 minggu.
Pasien umumnya akan merasa kesemutan sampai akhirnya lumpuh dan tidak kuasa
menggerakkan anggota tubuh lagi," kata Dr. Andreas Harry, Sp.S, dokter
spesialis saraf dari Prevento Andreaux International Clinic, di Jakarta.

Penyakit ini tidak bisa dipandang enteng karena dalam beberapa kasus *bisa
menimbulkan kematia*n. Itu karena GBS dapat mengancam organ pernapasan.
Perusakan saraf pada tahap itu sudah mengenai akar saraf di leher, sehingga
pasien kesulitan bernapas.

Bila sudah sampai pada tahap ini, pasien harus mendapat bantuan pernapasan.
Juga harus terus dipantau, agar tidak terjadi masalah lain, seperti detak
jantung, infeksi, tekanan darah tinggi maupun rendah.

Nyeri yang muncul pada kasus ini disebut nyeri neuropatik. Dalam kasus Ny.
Sutini, ia menggambarkan nyerinya lebih sakit daripada nyeri saat
melahirkan.

Meski kasusnya tergolong jarang, sindroma ini tidak mengenal
diskriminasi. *Satu
dari seratus ribu orang dari semua jenis kelamin dan ras *bisa terkena GBS.
Demikian juga orang yang punya sistem kekebalan tubuh bagus. Namun, penyakit
ini tidak bersifat menurun dan tidak menular.

Dengan penanganan yang akurat, GBS bisa sembuh sempurn dalam waktu enam
bulan. Meski demikian, sekitar 15 persen pasien GBS tetap mempunyai gejala
sisa kelumpuhan dan nyeri. Dasar penyakit ini adalah reaksi antigen terhadap
antibodi yang terjadi dalam plasma darah. Karena itu, terapi yang terbaik
adalah cuci plasma atau pemberian imunoglobulin. @ Diyah Triarsari


-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Kirim email ke