Wah makasih banget Pak infonya. Bermanfaat sekali...

Salam

Ida

mama putri-syauqi

--- On Fri, 4/24/09, Aldo Desatura ™ <[email protected]> wrote:
From: Aldo Desatura ™ <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] GBS adalah.....
To: "BAOT" <[email protected]>
Date: Friday, April 24, 2009, 12:14 AM











    
            
            


      
      "Guillain Barre", Membuat Sutini LUMPUH Seketika!



 

Kirim Teman | Print Artikel


  


Tiada angin ataupun hujan, mendadak Sutini Mochtar
menderita kelumpuhan. Beberapa hari sebelumnya ia merasakan kesemutan
di ujung-ujung jari kaki dan tangan. Ia juga didera nyeri yang luar
biasa di sekujur tubuh. Jauh lebih nyeri daripada saat melahirkan. 
Masyarakat di sekitar tempat tinggal Sutini Mochtar di Makassar,
Sulawesi Selatan, mengenal perempuan ini sebagai pribadi yang sangat
aktif. Ia amat mencintai kegiatannya di dunia desain ruangan kantor.
"Orang-orang bilang saya ini aktif, sekaligus cerewet," tutur Tini 
sapaan akrab  ibu lima anak ini. Dimata Windy, salah seorang putrinya,
Tini adalah sosok yang kuat. "Bagaimana tidak, setiap pagi Mama mencuci
empat mobil yang ada di rumah. Mama memang senang sekali mencuci
mobil," katanya sambil tergelak.
Demi mendukung aktivitasnya yang padat, setiap pagi Tini tak lupa
mengonsumsi sejumlah vitamin. " Paling tidak saya minum vitamin E dan 
C dosis tinggi, " papar peremuan 52 tahun ini. Berkat kedua vitamin
ini, ia  jarang sakit atau merasa kurang fit. 
Suatu pagi, tepatnya tanggal 20 Februari tahun silam, ia merasa
ujung-ujung kakinya kram. Meski sempat khawatir, rasa kram ini tidak
terlalu dihiraukannya. Kram itu  lama-lama berubah menjadi kesemutan.
Meski kesemutan di ujung kaki da tangan, ia tetap menjalankan
bisnisnya seperti biasa. Dalam tiga hari berikutnya ia masih menyetir
mobil sendiri ke kantor.
Harus digotong

Ketika rasa kesemutan itu tak juga hilang, kekhawatirannya
pun makin tebal. Tak bisa lagi ia mengabaikannya. Buru-buru ia
memeriksakan diri ke dokter.
Dokter mencurigai adanya diabetes mellitus (kencing manis). Dikhawatirkan 
diabetes itu sudah menyerang saraf sehingga menimbulkan rasa kesemutan dan kram.
Namun, diagnosis diabetes itu langsung dicoret karena hasil
pemeriksaan kadar gula darahnya normal-normal saja. Dokter pun makin
mencurigai adanya sesuatu yang salah pada saraf anggota geraknya. Tini
lalu diberi obat untuk memperbaiki kelainan saraf.
"Diberi obat itu saya bukannya sembuh. Kramnya malah semakin
menjadi," kisah istri seorang pengusaha di Makassar ini. Kondisinya
memang jadi memburuk. Ia tidak mampu berjalan lagi, dan ke mana-mana
harus dipapah.
Seolah penderitaannya belum cukup. Kali ini tekanan darahnya meninggi hingga 
190/95 mmHg.
"Wah, pokoknya pusing luar biasa. Pandangan mata jadi tidak beres.
Semua yang ada disekitar saya terlihat goyang," kisahnya. Kram dan
kesemutan semula hanya di tangan dan kaki, juga merambat naik ke badan.
Lima hari sudah ia dirawat di rumah sakit, tapi tak ada kemajuan
sedikit pun. Obat-obat yang diresepkan untuknya, sudah ditelan semua.
Ia juga mendapat injeksi, tapi tampaknya semua itu tidak dapat
menolongnya.
Penyakit misterius macam apa yang sedang menyerang tubuhnya? 
Memikirkan hal itu membuat Tini merasa takut sekaligus bingung.
"Daripada di rumah sakit tapi tidak sembuh juga, saya memaksa agar
diperbolehkan dokter untuk pulang," ungkapnya dalam logat Makassar yang
kental.
Akhirnya, ia pun kembali ke rumah dalam keadaan yang sangat payah. Si perempuan 
aktif ini terpaksa harus digotong beramai-ramai.
"Tetangga dan relasi sampai ada yang menangis melihat kondisi saya. Mereka 
jarang mendengar saya jatuh sakit. Eh, sekalinya sakit, sampai tidak bisa 
jalan," katanya.
Sulit sekali ia melukiskan rasa sakit yang mesti ditanggungnya. Ia 
menggambarkan, ketika itu duburnya serasa seperti ditekan dari atas dan bawah 
sekaligus. Kesakitan itu belum termasuk nyeri karena kram dan kesemutan yang 
menjalari ujung-ujung jari tangan serta kakinya.

"Saya sudah melahirkan lima orang anak. Saya tahu sekali rasanya
sakit melahirkan. Dan sakit persalinan itu tak ada apa-apanya dibanding
sakit yang menimpa saya ketika lumpuh," ujarnya serius.
Sayang, ketika ia sakit kelima anaknya tak bisa mendampingi karena tinggal di 
tempat yang jauh, bahkan ada yang di luar negeri.
Harapan sembuh

Bingung karena tak sembuh juga, akhirnya segala macam
upaya ditempuh. Kerabatnya memberi saran untuk menjalani pengobatan
alternatif. 
Penyembuh alternatif pun didatangkan khusus ke rumahnya. "Dari ujung
kaki sampai kepala saya dipijat. Katanya sih, kalau pasiennya pingsan,
itu bagus, pertanda akan sembuh," ceritanya.
Karena tak kunjung pingsan, Tini malah terpaksa harus menahan rasa
sakit yang luar biasa selama sekujur tubuhnya dipijat. Ia juga sempat
merasa kesulitan bernapas. Gara-gara hal itu, ia tidak bisa menelan
makanan dan minuman.
"Rasanya sakit sekali, tapi apa boleh buat. Saya harus tetap makan
dan minum meski sedikit. Terpaksa saya minum perlahan-lahan," katanya.
Tekanan luar biasa pada duburnya itu membuat saat buang air besar
jadi acara yang amat menyakitkan. Terpaksa dokter harus mengorek lubang
duburnya untuk mengeluarkan kotoran.
Dari seorang teman yang juga menderita penyakit jantung, Tini diberi
tahu cara pertolongan pertama kalau mendapat siksaan bernapas. "Memang
kurang tepat. Tapi lumayan sih, jadi berkurang sedikit sesak napasnya," ucapnya.
Secercah harapan mulai berkembang di benaknya ketika seorang kenalan
yang pernah lumpuh memberi tahu tentang terapi medis di Jakarta. "Dia
dulu pernah lumpuh. Sekarang bisa berjalan kembali," katanya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Tini langsung merencanakan perjalanan ke
Jakarta. Namun, ia tak bisa segera berangkat karena tiket pesawat baru
bisa didapat seminggu kemudian. Terpaksalah ia harus menahan rasa sakit
lebih lama lagi.
Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Jakarta, para sahabat dan handai
taulan tidak ingin ketinggalan melepas keberangkatannya. Mereka rela
berdesak-desakan dalam enam mobil demi mengantarnya ke bandar udara.
Empat orang kerabatnya siap sedia mengawal sampai Jakarta. Juga termasuk 
menggotongnya untuk masuk dan keluar pesawat.
"Wah, heboh deh. Mungkin lebih heboh daripada melepas kepergian orang berhaji," 
ujarnya sambil tersenyum mengingat kejadian itu.
Dicuci Allah

Entah sugesti atau bukan, Tini langsung merasa lebih enak
setelah dirawat di RS Jakarta. Diagnosis yang dijelaskan dokter memang
terdengar asing. Tini dinyatakan terkena penyakit Guillain Barre. Penyakit ini 
bisa disembuhkan secara total.
"Dokter berjanji dalam tempo tiga minggu saya akan bisa berjalan
lagi. Saya langsung merasa punya harapan untuk hidup kembali," kisahnya
penuh nada haru.
Di rumah sakit ia sempat hendak diberi masker oksigen. Namun,
selang-selang oksigen itu membuatnya takut, sehingga ia menolaknya.
Dengan yakin ia memberi alasan kalau dirinya masih bisa bernapas secara
normal. Akhirnya, ia pun terbebas dari selang-selang itu.
Gangguan pernapasan memang cukup merepotkannya. Berkat pengobatan
yang tepat dalam tempo sepuluh hari ia bisa lepas dari gangguan sesak
napas, tapi ia masih tergolek lumpuh tak berdaya. Hanya saja, kali ini
ia merasa lebih sabar dan  optimis. Tak lupa ia terus berdoa, mohon
kesembuhan pada Yang Kuasa.
Tak terasa, tiga pekan sudah berlalu. Berkat pengobatan dan latihan
fisioterapi, ia mulai  mampu melangkahkan kaki, walau tertatih-tatih.
Sebelumnya, ia tekun melatih anggota tubuhnya. Ia harus belajar bangun,
menggerak-gerakkan tangan dan kaki, juga memegang sendok serta
menyuapkan makanan ke mulut. 
"Pada minggu kedua saya mulai belajar jalan," ceritanya. 
Bila mengenang saat-saat mengalami kelumpuhan itu, Tini selalu
tercenung. Ia bersyukur, betapa banyak kerabat dan teman yang ternyata
betul-betul menyayanginya.
"Saya sudah dicuci darah oleh Allah. Bayangkan ketika itu saya adalah manusia 
tanpa daya," ujarnya perlahan.
Ia dulu berniat akan menyantuni anak-anak yatim piatu, bila berhasil
sembuh. Dan itulah yang kini dibuktikannya, karena telah mengalami
kesembuhan.
"Nazar berupa beberapa ekor kambing sepertinya tidak cukup untuk menyatakan 
rasa syukur saya," ucapnya penuh kebahagiaan. Syukurlah.  
Apa itu Guillain Barre Syndrome?

Guillain Barre Syndrome (GBS) adalah penyakit akibat
sistem kekebalan tubuh menyerang sistem sarung saraf. Pada umumnya
penyakit ini didahului oleh infeksi influenza, saluran pernapasan, atau
diare.
Kemudian di dalam tubuh terjadi reaksi autoimun, yakni sistem
kekebalan tubuh sendiri menyerang bagian dari ujung sarung-sarung
saraf. Tindakan bedah atau vaksinasi juga kadang bisa memicu sindroma
ini.
"Gejala awal yang dirasakan pasien adalah kesemutan di ujung-ujung
kaki dan tangan. Perusakan di ujung sarung saraf itu kemudian merembet
naik ke tangan dan kaki. Proses perusakan ini bisa berlangsung selama 3
sampai 6 minggu. Pasien umumnya akan merasa kesemutan sampai akhirnya
lumpuh dan tidak kuasa menggerakkan anggota tubuh lagi," kata Dr.
Andreas Harry, Sp.S, dokter spesialis saraf dari Prevento Andreaux
International Clinic, di Jakarta.
Penyakit ini tidak bisa dipandang enteng karena dalam beberapa kasus bisa 
menimbulkan kematian.
Itu karena GBS dapat mengancam organ pernapasan. Perusakan saraf pada
tahap itu sudah mengenai akar saraf di leher, sehingga pasien kesulitan
bernapas.
 
Bila sudah sampai pada tahap ini, pasien harus
mendapat bantuan pernapasan. Juga harus terus dipantau, agar tidak
terjadi masalah lain, seperti detak jantung, infeksi, tekanan darah
tinggi maupun rendah.
 
Nyeri yang muncul pada kasus ini disebut
nyeri neuropatik. Dalam kasus Ny. Sutini, ia menggambarkan nyerinya
lebih sakit daripada nyeri saat melahirkan.
Meski kasusnya tergolong jarang, sindroma ini tidak mengenal diskriminasi. Satu 
dari seratus ribu orang dari semua jenis kelamin dan ras bisa
terkena GBS. Demikian juga orang yang punya sistem kekebalan tubuh
bagus. Namun, penyakit ini tidak bersifat menurun dan tidak menular.
Dengan penanganan yang akurat, GBS bisa sembuh sempurn dalam waktu
enam bulan. Meski demikian, sekitar 15 persen pasien GBS tetap
mempunyai gejala sisa kelumpuhan dan nyeri. Dasar penyakit ini adalah
reaksi antigen terhadap antibodi yang terjadi dalam plasma darah.
Karena itu, terapi yang terbaik adalah cuci plasma atau pemberian
imunoglobulin. @ Diyah Triarsari

-- 
Aldo Desatura ® & ©
============ ====
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata





 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke