wah..
kalo pertanyaannya pentingan mana pekerjaan dengan keluarga,
rasanya jawaban yang bijaksana ya "keluarga"
kita bisa digantikan oleh siapa saja di pekerjaan kita,
namun kita tidak bisa digantikan oleh siapapun di rumah
kalau ada apa2 dengan kita pun, keluargalah tempat kita bersandar..
keluarga akan selalu menjadi bagian dari kita seumur hidup kita,
sampai tua nanti,
jadi sudah semestinya keluarga menjadi prioritas perhatian kita

namun..
punya pekerjaan kan tidak berarti tidak bisa memprioritaskan keluarga lhoo..
mungkin definisi "memprioritaskan kepentingan keluarga" di sini harus 
diluruskan dulu..
"memprioritaskan" tidak berarti kudu ngerjain segala2nya by ur self..
ya masak
ya ngurus anak
ya bersih2 rumah
rasanya kok ya mustahil..
untuk ibu bekerja, tentulah diperlukan management yang sangat baik
supaya walaupun "meninggalkan keluarga" untuk bekerja, namun keluarga tetap 
nyaman dan sejahtera..
bisa atau tidak?
ya tentu bisa!
buanyak sekali wanita yang sudah membuktikannya
di Ayahbunda pun sering ada tipsnya kan..:)

apabila memilih bekerja,
tentu harus commit dengan pekerjaan,
saya mengerti banget "dilema" pulang tenggo gitu
kadang2 terbentur dengan kepentingan pekerjaan
sedangkan mau tetap lanjutin kerjaan, hati sudah ga tenang..

mbak..
kalo boleh ngasih pendapat, untuk kasus mbak, rasanya perlu komunikasi yang 
lebih dalam dengan suami tentang komitmen mengizinkan mbak bekerja
karena kendala2 seperti tadi rasanya agak sulit dihindari kalo kita memilih 
bekerja di instansi tertentu
kalo memang suami ga masalah mbak bekerja, ya tentunya harus bisa mencoba paham 
pula dengan kondisi mbak..
mungkin bisa dicari solusi lainnya..?
pekerjaan rumah tangga didelegasikan ke PRT
dan mbak sering2 telp anak2 untuk make sure di rumah baik2 saja
jadi ga juga lepas tanggung jawab walaupun di kantor kan..

kalo di rasa ga mampu..
mungkin keputusan tetap bekerja perlu dipertimbangkan lagi..
bagi saya, ketenangan batin dan jiwa sangat penting..
kalau bekerja tapi hati sudah berkata "tidak",
saya memilih tidak,
resikonya pasti ada..
tapi mengikuti kata hati sepertinya ga pernah rugi..Insya Allah..:)

dulu saya juga bekerja..
jadi yea..agak2 kenyang dengan dilemanya..
hehe
sekarang sedang "istirahat" kerja..
brenti dulu..
soalnya saya sudah kesulitan dengan "management" waktu saya
yang jadi korban nantinya, ya anak..
hmmm..kok ya ga sebanding ya..
tapi saya ingin tetap bekerja, nantinya..
mungkin kalau anak2 sudah agak besar..
kalau hati saya sudah berkata "iya"..:)

gudlak ya mbak..:)

fany - nda shali
kerja di rumah dulu..^-^



Kirim email ke