Thanks ya mamut :-)..
Aku kadang masih suka becanda pake kata2 itu..tp pas baca email ini jadi ikut 
sedih n ngerasain kl kata autism untuk sebagian bunda memang punya arti yg 
sensitif krn menyangkut anak mereka

Yuk kita ikut dukung bunda untuk subject diatas 

Thanks
-Sandra-
 Almira's mom
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Nika Hanidhah <[email protected]>

Date: Thu, 16 Jul 2009 13:12:06 
To: <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] Fw: Stop Using The Word "AUTISM" On our daily Jokes 
(BACA YAH Guyss!!)




--- On Wed, 7/15/09, any fitria <[email protected]> wrote:


From: any fitria <[email protected]>
Subject: Stop Using The Word "AUTISM" On our daily Jokes (BACA YAH Guyss!!)
To: "Sipil98 UNDIP" <[email protected]>
Date: Wednesday, July 15, 2009, 11:25 PM








KENAPA SIH GAK BOLEH BECANDA PAKE KATA "AUTIS LO!!"??
(PLEASE READ & FORWARD, this is very IMPORTANT for those of you who has few 
knowledge about Autism) 
 
Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. 
Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah... anakku 
bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak 
cocok untuk dikonsumsi oleh anakku. 
Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku... yang aku tulis sejak 
pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat... berisi apa saja yang dia 
cocok untuk tubuhnya,...  reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak 
cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?... Diusia 4 bulan 
misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku,... Eh, gak lama kemudian dia muntah 
dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi... ULAT BULU... hiiii... Pernah aku beri 
dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. 
Kuberi dia susu instant,... anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan 
tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa 
lelah,... dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara 
mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam. Ahhh, sudahlah... life must go on 
anyway.  Kulirik sekali lagi food diarynya... hmm, hari ini aku harus mencoba 
memberinya 5ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yg lalu, dia sudah 
sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini.Baru saja hendak memasak, 
tiba2 kudengar jeritannya... Kucari anakku, tapi tidak kutemukan. Aku keruang 
setrika... dan disana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan 
setrika panas yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk 
membantuku memasak. Setrika panas ini masih nempel diatas punggung tangan 
kirinya.!!!Oh... My... God!!!  *panik* Dari punggung tangannya mengepul asap. 
Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku. 
Kuangkat setrika itu dari tangannya... dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat 
melihatnya.  Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu...  :(( :(( 
:((  AAAAAARRRRGGGHHH H...Sumpah kalau saja ini bukan anakku,... Aku pasti 
sudah mati berdiri karena ketakutan...  Melihat daging dari punggung tangannya, 
yang menempel pada setrika itu... itu sudah berubah menjadi putih kekuningan... 
 Dan luka di tangannya... juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam 
matang :(( 
Aku menjerit sekencang-kencangnya... Kupanggil Baby sitternya yang tadi aku 
suruh untuk membantuku didapur... lalu dengan kesetanan, ku kebut mobilku ke 
UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif.  Begitu anakku segera 
tertangani...  tiba2 aku kehilangan seluruh tenagaku.AKU PINGSAN!!! 
***
Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, Khusus untuk 
makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu 
berapa gram atau mililiter...  porsi makanan yang masih
bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.Sedang membersihkan kompor yang kecipratan 
makanan... tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. 
GEDEBUK!!!... Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan 
anakku...Damn. Oh Tuhan... lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan 
sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan 
berdarah.Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan.... Dan sambil 
berjalan, dial menggaruk luka di kepalanya yang bocor... Sementara darahnya 
terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya. Tangannya berlumuran 
darah... Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi 
dia tidak menangis... Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang 
ada dibelakang kepalanya.Aku menjeritttt sekuat2nya. Kepalanya kututupi dengan 
lap kompor yang tadi aku pegang. Tapi itupun gak lama... karena dalam sekejap, 
lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku
berteriak panik,... "mbak, minta handuk... handuk... CEPATTTT!!!"Dan lagi2 
kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah 
terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala 
anakku. Dia tidak menangis... hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. 
Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan... Hatikupun sedikit lega. 
Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar...Lagi-lagi 
aku... PINGSAN.
* * *
Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. 
Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan 
hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri. Tapi ini bukan 
keluhan kok,... karena saya selalu sadar.... Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. 
Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakanNYA, yang 
merupakan produk gagal. Jadi ketika Dia menciptakan seorang bayi yang memiliki 
kekurangan, Dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini.So, 
buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita... mari 
bantu mereka untuk menemukan kelebihan mareka. Anakku memang Autistik, tapi aku 
bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali 
menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah 
menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa.Selalu ada haru yang 
menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan2
 mungilnya menari2 dengan lincah diatas tuts2 piano,... mendengarnya bercakap2 
dalam bahasa Inggris,... seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli... yang 
nyasar dalam tubuh putriku.  Namun, dibalik itu... Walaupun bangga... selalu 
tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung... 
manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata "Autis". 
Minggu yang lalu sahabat saya menyelenggarakan pesta ultah disebuah resto 
terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain 
menegur begini..."Tuh,... liat tuh sill... autis banget khan dia...? KAYAK ANAK 
LOE khan?... Loe marahin deh sil... marahin sil... Coba loe terapi dulu nih 
dia,... biar sembuh kayak anak loe" Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak...
Saya??? hmmm... Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana 
Pesta Ulang Tahun sahabat saya... *doh*  Well, saya tahu mereka hanya bercanda, 
namun biar bagaimanapun,... Saya sudah merasakan dan  tahu betul sulitnya 
membesarkan anak autistik. Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman 
mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan "Stop Using 
Autism on our daily jokes" ini. Semoga berkenan. 
 
=Written by A mother of an Authistic Child=SiLLy



      

Kirim email ke