Sedih sekali baca cerita ini.teringat rahma ku yg selalu menangis dikala 
bundanya harus berangkat kerja.
Masih bersyukur sampe hari ini,karna masih punya waktu utk memberi rahma makan 
dan membuatkan susunya...

Alhamdulillah....YA ALLAH




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: Aybund <[email protected]>
Sent: Sun, December 20, 2009 8:16:36 PM
Subject: Re: [Ayahbunda-Online] For all moms

 

love is... the way you touch them the way you tret them right

Subhanallaaah
Adakalanya iri melihat working mom, pergi ke kantor,...

Syukuri apa yang ada
Syukuri apa yang ada


Sent from my StrawBerry®
BlackBerry makes you itch, BlueBerry makes you blue
________________________________

From: "ina_maryana" <ina_maryana@ yahoo.com>
Date: Fri, 18 Dec 2009 00:17:24 -0000
To: <Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com>
Subject: [Ayahbunda-Online] For all moms
 
Subject: Mandikan Aku Bunda.....?MANDIKAN AKU BUNDA ……………"Di bawah ini adalah 
salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidakmensyukuri apa yang 
diMILIKInya sampaiakhirnya .....Rani , sebut saja begitu namanya. Kawankuliah 
ini berotak cemerlang dan memiliki idealismetinggi. Sejak masuk kampus, sikap 
dan konsep dirinyasudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademismaupun 
profesi yang akan digelutinya. ''Why not thebest,'' katanya selalu, mengutip 
seorang mantanpresiden Amerika.Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk 
studiHukum Internasional di Universiteit Utrecht , Belanda ,Rani termasuk salah 
satunya. Saya lebih memilihmenuntaskan pendidikan kedokteran.Berikutn ya, Rani 
mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda 
profesi.Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkatsebagai staf 
diplomat, bertepatan dengan tuntasnyasuami dia meraih PhD. Lengkaplah 
kebahagiaan mereka.Konon, nama putera mereka itu
 diambil dari hurufpertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'',jadilah 
nama yang enak didengar: Alifya. Saya taksempat mengira, apa mereka bermaksud 
menjadikannyasebaga i anak yang pertama dan terakhir.Ketika Alif , panggilan 
puteranya itu, berusia 6 bulan,kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, 
nyaristiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dandari satu negara ke 
negara lain.Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alifterlalu kecil 
untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigapRani menjawab, ''Oh, saya sudah 
mengantisipasi segalasesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itubetul-betul 
ia buktikan. Perawatan dan perhatiananaknya, ditangani secara profesional oleh 
baby sittermahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewattelepon. . Alif 
tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,cerdas dan gampang mengerti.Kakek- 
neneknya selalu memompakan kebanggaan kepadacucu semata wayang itu, tentang 
kehebatanibu- bapaknya. Tentang gelar dan nama
 besar, tentangnaik pesawat terbang, dan uang yang banyak.''Contohlah 
ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.''Begitu selalu nenek Alif, ibunya 
Rani, berpesan diakhir dongeng menjelang tidurnya.Ketika Alif berusia 3 tahun, 
Rani bercerita kalau diaminta adik. Terkejut dengan permintaan tak terdugaitu, 
Rani dan suaminya kembali menagih pengertiananaknya. Kesibukan mereka belum 
memungkinkan untukmenghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocahkecil ini 
''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kataRani, ia tak lagi merengek minta adik. 
Alif, tampaknyamewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meskikedua 
orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekalingambek. Bahkan, tutur Rani, 
Alif selalu menyambutkedatangan nya dengan penuh ceria. Maka, Ranimenyapanya 
''malaikat kecilku''.Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski 
keduaorangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuhcinta. Diam-diam, saya iri 
pada keluarga ini.Suatu hari, menjelang Rani
 berangkat ke kantor, entahmengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. 
''Alifingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuansaja Rani, yang detik 
ke detik waktunya sangatdiperhitungka n, gusar. Ia menampik permintaan 
Alifsambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkankeperl uan kantornya. 
Suaminya pun turut membujuk Alifagar mau mandi dengan Tante Mien, baby 
sitter-nya.Lagi- lagi, Alif dengan pengertian menurut, meskiwajahnya 
cemberut.Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda,mandikan aku!'' 
kian lama suara Alif penuh tekanan.Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu 
karenaAlif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebihminta perhatian. 
Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alifbisa ditinggal juga.Sampai suatu sore, saya 
dikejutkan telponnya Mien,sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam 
dankejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengahterbang, saya ngebut ke UGD. 
But it was too late.Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si
 malaikatkecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.Rani, ketika diberi tahu soal 
Alif, sedang meresmikankantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di 
rumah,satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.Setelah pekan lalu 
Alif mulai menuntut, Rani memangmenyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan 
anaknyasendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelahtubuh si kecil 
terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bundamandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah 
jamaah yangsunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir darisampingnya, berusaha 
menyembunyikan tangis.Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, 
kamimasih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kaliRani, sahabatku yang 
tegar itu, berkata, ''Ini sudahtakdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya 
ataupundi seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergijuga kan ?'' Saya 
diam saja.Rasanya Rani memang takperlu hiburan dari orang lain. Suaminya 
mematungseperti tak bernyawa. Wajahnya pias,
 tatapannyakosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjutRani, tetap 
mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.Angin senja meniupkan aroma bunga 
kamboja.Tiba- tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunyahisteris, lantas 
tergugu hebat. Rasanya baru kali inisaya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih 
tangisanyang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikanAlif. Beri kesempatan 
Bunda sekali saja Lif. Sekalisaja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. 
Detikberikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya 
membanjiri tanah merah yangmenaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.-- Nasi 
sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.-- Hal yang nampaknya sepele 
sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.-- Sering kali 
orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak 
mengabaikan orang2 di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' 
buat mereka jadi abaikan saja dulu.-- Sering kali orang
 takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya 
tidak akan hilang. Merasa mereka akanmengerti karena mereka menyayanginya dan 
tetap akan ada.-- Pelajaran yang sangat menyedihkan. -- Yang terakhir, akhirnya 
sambil merenungi sendiri... betapa bahagianya kita yang bekerja ini bisa 
memandikan anak2 kita setiap pagi serta menggantikan pakaian mereka, love is... 
the way you touch them & the way you tret them right...Semoga yang membacanya 
bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah tsb 





      

Kirim email ke