Anaknya mbak Rina mungkin juga akan menulis surat buat mamanya kali ya mbak ? aku malah jadi kepikiran anaknya meskipun belum pernah lihat gara2 baca tulisan mbak nika di FB nih titip peluk ciumku buat anaknya mbak Rina ya mbak hiks,,,hiks,,,,
mamamarvel ________________________________ From: Nika Hanidhah <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, February 25, 2010 8:58:07 PM Subject: Re: [Ayahbunda-Online] (OOT) UNTUK ISTERIKU aku sebelumnya dah baca replyan mom yg telah baca email ini.. semua bilang nnagis semua... pas aku ketemu original emailnya aku baca, mana sih yg bikin nangis..mana .... aku baca terus... "surat surat itu untuk mommy..." doerrr...sedih banget aku.... nangis juga mana terdengar suara tahlilan tetanggaku yg kemaren tlah tiada... tambah sedih bangets mamut --- On Tue, 2/23/10, Rachel <rachel.stefanie@ muliagroup. co.id> wrote: >From: Rachel <rachel.stefanie@ muliagroup. co.id> >Subject: [Ayahbunda-Online] (OOT) UNTUK ISTERIKU >To: Manager-Indonesia@ yahoogroups. com, alamsut...@yahoogro ups.com, >"Ayahbunda-Online" <Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com> >Date: Tuesday, February 23, 2010, 12:31 AM > > > > >Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, >sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam >surgawi, >baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang >suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu >kecil. >Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah >gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal >untuk >menjadi ayah dan ibu untuk anak saya. > >Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera >berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan >makan >untuknya. > >Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. >Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas >berangkat >ke tempat kerja. > >Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari >ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang >hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke >kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan >ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, >tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan >hangat! >Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah >mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut! > >Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung >menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan main anny a, dengan >pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, >dia hanya memberi penjelasan singkat: > >"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum >pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan >untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di >sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas >untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena >aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimp anny a di bawah >selimut >supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan >ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad >... >" > >Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin >anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan >menangis >dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. >Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan >memberikan >obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya >untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. > >Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar >anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di >pantatnya, >tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya. > >Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, >untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan >juga >kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuh anny a. Tanpa >terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman >Kanak-kanak. >Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa >kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia. > >Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar >menyesal.... > >Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya >absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap >dia >bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar >rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di >sebuah >toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, >membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja >lalu >mengatakan, "Aku minta maaf, Dad". > >Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan >bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan >ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadir anny a karena ia tidak punya >ibu...... > >Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke >rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan >menulis. >Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk >berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya >ia akan >merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga! > >Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim >dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di >hati >setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok >jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang >menyelasaikan >pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena >pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang >sibuk-sibuknya, >suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. > >Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya >telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji >untuk >tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri >untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah >benar-benar >keterlaluan. . Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : >"Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alas anny a >melakukan >itu. > >Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa >alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong >anak >saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa >yang ada dikepalanya? > >Jawab anny a, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk >mommy.....". > >Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan >terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak >surat-surat, >pada waktu yg sama?" > >Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang >lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi >bagiku, >sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika >aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimk anny >a sekaligus". > >Setelah mendengar penjelas anny a ini, aku kehilangan kata-kata, aku >bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku >katakan .... > >Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk >selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan >membakar >surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal >ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan >nyenyak. >Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa >surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak >membuka >surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. > >Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur...... > >'Mommy sayang', > >Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di >sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi >kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak >memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis >dan merindukanmu >lagi. > >Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan >mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, >setelah >menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi >aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. > >Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat >padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. >Saya >pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, >saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam >mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang >jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan >melihat >orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul? > >Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak >pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak >ditinggalkan >oleh istri saya .... > >Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh >kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. >Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, >mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan >menyayangi >dirimu dan anak-anakmu. > >Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu >dengan segala kekurangan dan kelebih anny a, karena apabila engkau telah >kehilangan >dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya. > >PEACE & LOVE > >RACHEL > > Reply to sender | Reply to group Messages in this topic (9) Recent Activity: * New Members 32 Visit Your Group Start a New Topic Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] Info Belanja si Kecil: [email protected] Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use .
