Adam wrote:
Pelaku Pembobol Kartu Kredit Rp 2 M Diciduk
E Mei Amelia R - detikinet

Jakarta - Satuan Cyber Crime Polda Metro Jaya bekerjasama dengan
kepolisian Singapura dan Federal Berau of Investigation (FBI)
menangkap pelaku pembobolan kartu kredit sejumlah perusahaan
internasional. Total kerugian mencapai US$ 200.000 atau sekitar Rp 2
miliar.

Tersangka, Afung (30), telah ditahan sejak Juli 2008 lalu. Afung yang
merupakan warga Palembang diduga telah melakukan kejahatan ini sejak
tahun 2005.

“Kami masih mengembangkan kasus ini, untuk mengungkap kemungkinan
adanya jaringan,” ujar Kasat Cyber Crime Polda Metro Jaya, AKBP
Winston Tommy yang mengaku tengah berada di California.


  
terimakasih ya pak info keamanan komputer nya. saya senang baca info kayak gini. kalau ada info-info keamanan komputer lainnya mohon dibagi di milis ini. soalnya kalau di TV acara yg topiknya soal kejahatan kebanyakan cuma mengulas seputar kejahatan di dunia nyata, sementara kejahatan di dunia cyber jarang dibahas. saya jadi bertanya-tanya kenapa ya para reporter TV itu nggak mau mengupas tuntas sampai ke hal-hal teknisnya soal cyber crime? padahal saya peminat dunia IT sangat mengharapkan ada acara seperti itu.

mungkin reporter TV cuma menganggap acara bertopik kejahatan itu yg rame kalau dalam aksinya si penjahat menggunakan senjata api, bom, senjata tajam, dan korbannya sampai berdarah-darah. kalau penjahatnya cuma pakai kode-kode pemrograman komputer mungkin rating acaranya nggak bakalan naik-naik, begitu kali ya?

saya lihat di acara e-lifestyle di MetroTV, operator selular Telkomsel meluncurkan produk T-cash, satu lagi produk pembayaran elektronik, tapi yg ini berbasis handphone. wah, tambah lagi nih lahan belajar buat para penjahat cyber. kalau pakai hp berarti kan lokasi si pemakai t-cash ini bisa dilacak oleh telkomsel. kayak sejumlah kasus kejahatan yg pelanggannya tertangkap gara-gara hp nya bisa dilacak. jadi ingat film "enemy of the state" & film "hidden camera". film berjudul "Swordfish" juga bagus.

apalagi hp berbasis wireless berarti lebih rentan dong sinyalnya untuk disadap. walaupun dienkripsi tetap ada resiko enkripsinya bisa dibobol. kalau saya sih lebih pilih bayar apa-apa pakai uang tunai. biar uangnya udah kumal & bau tapi masih lebih sulit dilacak secara elektronik. kan para penjahat bisa juga dilacak keberadaanya lewat penggunaan kartu kredit yg dia pakai.

pas nonton e-lifestyle dan posting bapak Adam saya jadi ingat cuplikan salah satu novel Supernova karya Dewi Lestari yg berjudul Petir. ceritanya tokoh utama novel itu yg bernama Elektra sedang berdiskusi di depan komputer dengan seorang carder bernama Mpret. Ini cuplikan isi novelnya:

....Aku berkenalan dengan Toni

satu kali aku pernah bertanya, kenapa ia lakukan itu semua? dan bagaimana ia menentukan orang-orang yg rekening atau kartu kreditnya akan digasak? apakah ia memikirkan mereka, orang-orang yg seolah dirampok dalam mimpi?

Mpret mengangkat bahu: gua ngerasa uang itu cuma ilusi. Apa coba ini, Tra? Ia mengklik mouse. nih gua klik, duitnya pindah kesono. keringat yg punya duit pindah, nggak? kerja kerasnya ngikut,nggak? gua klik lagi duitnya pindah ke sini. mau sepuluh kali bolak-balik? bisa. mau jadi nol? bisa juga. tapi orang yg punya duitnya bisa bunuh diri kali, ya. haha! mpret tertawa keras, dan tak lama aku ikutan. orang yg menukar jiwanya sama duitlah yg bikin duit punya nyawa, katanya lagi. padahal kalau dia duduk bareng sama gua disini, kali dia bisa ketawa-ketawa juga......

jadi kamu pikir semua ini cuma main-main? tanyaku tak percaya. kurang lebih, jawabnya ringkas. orang-orang yg gua kerjain ada baiknya bersyukur. Mereka jadi tahu, duit itu cuma mainan. jangan terlalu dianggap seriuusss!


dan di bawah ini kutipan dari artikel lama yg terdapat di situs kecoak elektronik:

=============================================================================
Amankah Kartu Kredit Ini?
oleh: b3ck (Kecoak Elektronik)
=============================================================================

[Catatan Redaksi:
 Segala informasi yang dimuat di artikel ini hanyalah untuk digunakan
 sebagai bahan referensi untuk tujuan pengetahuan saja. Jika kamu
 memutuskan untuk melakukan tindak kejahatan, hal itu diluar tanggung
 jawab 'kecoak elektronik'. Informasi bukanlah kejahatan. Mengetahui
 cara berbuat sesuatu *BUKANLAH* kejahatan. Gunakan informasi ini untuk
 melindungi diri kamu sendiri.]

Semenjak dipopulerkannya sistem kartu kredit sekitar tahun 70-an dulu,
semakin banyak orang yang menggunakan sistem pembayaran kartu kredit sebab
kartu kredit dianggap lebih praktis untuk dibawa-bawa dan lebih mudah
sebab sistem pembayarannya adalah online. Di Amerika, Kanada dan
negara-negara Eropa, kartu kredit adalah hal yang sangat lumrah digunakan,
bahkan oleh para pelajar SMA sekalipun. Di Indonesia, biar bagaimanapun,
kartu kredit masih dipandang sebagai simbol status. Dulu saya ingat di
waktu saya masih SMA di Lampung ada teman yang punya kartu kredit dan tiap
hari diporotin oleh anak-anak. Beberapa tahun belakangan, dengan makin
ramainya 'online business' di Indonesia, semakin meluaslah pemakaian kartu
kredit sebagai sistem pembayaran, terutama di kota-kota metropolitan
seperti Jakarta, Medan dan Surabaya.

Bagaimana kartu kredit bisa jatuh ke tangan orang lain.
=======================================================

Pada prinsipnya, sang kartu sendiri (plastik) sangat jarang didapatkan.
Hal ini sebab orang beranggapan, jika kartu kreditnya disimpan di lemari
dan hanya dikeluarkan pada saat ingin digunakan, maka akan sangat susah
untuk menyalah gunakan kartu tsb. Ini adalah kesalahan yang cukup besar.

Pada pokoknya, jika kamu ingin melakukan kejahatan penyalahgunaan kartu
kredit, yang diperlukan adalah *nomor* kartu tersebut, beserta nama
pemiliknya (banyak juga bisnis yang meminta tanggal kadaluwarsa, namun di
Internet, biasanya kamu bisa lolos menggunakan nomor dan nama saja,
asalkan tanggal kadaluwarsa diisi (dikarang-karang) paling tidak enam
bulan didepan).

Bagaimana caranya memperoleh nomor-nomor kartu kredit ini ??? Di
negara-negara dimana kartu kredit digunakan secara meluas, untuk
mendapatkan nomor kartu kredit, biasanya tidak memerlukan ketrampilan
khusus. Kamu bisa iseng ngaduk-ngaduk tempat sampah toko grosir atau bisa
coba kerja di pom bensin, dan mendapatkan bon kartu kredit pelanggan.

Di Indonesia, hal ini semakin mungkin dilakukan, terutama di pasar-pasar
swalayan besar seperti Sogo, segitiga Senen, M Plaza, dll. Biasanya bon
penerimaan berupa kertas berwarna yang mencantumkan nama, nomor kartu
kredit, berapa total harga, dan seterusnya. Jika kamu seorang perempuan,
itu lebih bagus lagi. Cari kerjaan sebagai kasir dan sempatkan diri untuk
menyalin nomor-nomor tersebut. Perempuan juga jarang dicurigai ;-).

Mengaduk-ngaduk tempat sampah juga bisa berguna, sebab selain bisa
mendapatkan salinan bon, jika kamu ngaduk-ngaduk tempat sampah di dekat
bangunan ISP, kamu juga bisa mendapatkan password/login, dll (lihat
artikel 'Trashing dan Social Engineering').

Metode mutakhir yang sekarang banyak digunakan di negara-negara maju
adalah dengan cara menggunakan perangkat 'surveillance' untuk mendapatkan
nomor kartu kredit calon korban. Tentu saja jika kamu berhasil
mendapatkan akses ke database milik ISP atau Web komersil, kamu bisa
memanen ratusan bahkan ribuan nomor kartu kredit dari situ.

Sudah dapat kartunya, lalu?
===========================

Umumnya, para kriminil tingkat kecil-kecilan yang berhasil mendapat nomor
kartu kredit milik orang lain menggunakannya untuk kebutuhan pribadi. Hal
ini masih agak sulit dilakukan di Indonesia sebab masih jarang bisnis
komersil yang bersedia menerima pembayaran kartu kredit tanpa mengecek
detailnya. Di Kanada sini, cara yang banyak dipraktekkan adalah sbb:

- temukan rumah kosong / yang lagi ditinggalkan penghuninya untuk jangka
  waktu yang lama
- buka katalog-katalog barang-barang menarik yang diinginkan
- telepon sang penjual, bayar dengan kartu kredit tsb (perlu tgl
  kadaluwarsa, dan biasanya alamat sang empunya kartu).
- minta diantarkan ke alamat rumah kosong tadi (atau, lebih bagus lagi,
  kamar hotel), dan minta 'express delivery' (hari berikutnya)
  karang alasan seperti: perlu mendadak untuk presentasi lusa, atau
  tetek bengek lainnya. gunakan social engineering.
- tunggu kedatangan barangnya.
- ambil barangnya, dan ... CABUT!

Dengan cara ini kadang-kadang para kriminil (umumnya anak ABG) bisa
mendapatkan laptop Tilamook terbaru bernilai $5000. Sang pemilik kartu
sendiri pada saat mengetahui bahwa kartunya telah disalah gunakan tidak
akan dikenakan biaya apa-apa, selain mungkin administrasi pengurusan
kasus, yang nilainya tidak sampai $50.

Dengan makin maraknya servis internet, semakin banyak pula kriminil yang
men(yalah)gunakan kartu kredit curian untuk mendapatkan servis gratis.
Karena komputer itu bodoh, kamu bisa dengan gampangnya mengaku sebagai

pemilik yang sah.


Biasanya dengan mengisi 'form' di webpage, kamu bisa registrasi untuk layanan

tsb (kalau tidak salah d-net sudah punya fasilitas ini, melalui diffy.com-nya,

tapi kurang pasti) atau bisa untuk mengorder sesuatu. Di Indonesia, yang

paling sering digunakan oleh para kriminil jenis baru ini (yang, umumnya adalah

cowok ABG) adalah, apalagi kalau bukan, registrasi 'member' untuk klub-klub

porno di Internet.


Beberapa anggapan

=================


1. Tidak mungkin saya bisa dilacak, toh, ini Internet, dan tak ada yang

melihat.


Hampir benar. Mungkin jika kamu hanya menggunakannya untuk pemalsuan

kelas teri, akan dibiarkan saja berlalu. Dalam pemalsuan kelas kakap, pun,

kamu masih bisa lolos tanpa dilacak. Tapi dengan syarat kamu benar-benar

hati-hati. Gunakan line telepon yang bukan milikmu, gunakan account

internet bukan milikmu, dari web gunakan Anonymizer, dll dll (seperti

layaknya cracking/intruding). Namun resiko kamu terlacak jelas ada, bahkan

di Indonesia sekalipun. Setiap transaksi di Internet merekam nomor IP

kamu, walaupun browser kamu tidak diset 'secure'. Anonymizer tidak

bersedia melayani protokol https:// (secure HTTP). Dial-in server yang

kamu gunakan punya catatan nomor mana yang memanggil. Dan, kalo

dipikir-pikir, jika kamu benar-benar konak, kenapa susah-susah, sih? Toh

gambar-gambar kayak gituan banyak tersedia eceran kaki lima. Menggunakan

kartu kredit milik orang ada gunanya jika misalnya kamu berhasil

mendapatkan kartu kredit milik Bambang Suharto atau sodara-sodaranya. Nah,

itu baru enak, bisa kamu porotin tuh orang-orang yang selama ini morotin

rakyat.


2. Kita bisa menggunakan kartu kredit hasil dari 'CC Generator'.

Biasanya tidak benar. Memang, banyak program-program yang beredar di

internet dan bisa menghasilkan nomor kartu kredit, namun program-program

tsb biasanya bekerja atas dasar logaritma nomor kartu kredit. Dan 'nomor

kartu kredit' hasil buatan program-program tsb adalah fiktif. Sedikit

servis di Internet yang melakukan check hanya berdasarkan algoritma ini

saja. Pada umumnya servis-servis komersial menggunakan check berdasar:

Nama Pemegang Kartu, Nomor Kartu, dan Kode Pos alamat pemegang kartu.


3. Saya sudah berhasil mendapatkan password/login untuk barely.hustler.com

(atau sejenisnya) tentunya mulai dari sekarang, saya selalu bisa

mengakses site tsb sebagai 'member'.


Tidak benar. Biasanya nomor kartu kredit hasil curian mempunyai 'umur

hidup' tertentu. Umur hidup ini bervariasi. Kadang-kadang setelah kamu

meregistrasi/mengorder barang pada malam hari, keesokan harinya sang

perusahaan korban melakukan check, dan menemukan kejanggalan (contoh:

Alamat tidak sinkron). Atau bisa juga minggu depannya. Kemungkinan lain

adalah sang pemilik kartu kredit yang asli akan menemukan kejanggalan di

'bill' (laporan rekening) kartu kreditnya. Hal ini akan membuatnya waspada

dan melaporkan kepada bank/institusi finansialnya. Segera setelah itu,

account ilegal kamu akan dimatikan (dan, jika serius masalahnya, bisa

dilakukan pelacakan). Cara yang bisa digunakan untuk memperpanjang 'umur

hidup' nomor curianmu antara lain adalah dengan cara menggunakan kartu

kredit korporasi (milik perusahaan besar), membatasi transaksi ilegal yang

dilakukan (jangan diumbar sekali pakai habisin $200), dlsb.


4. Jangan sekali-kali menggunakan kartu kredit untuk telepon SLJJ/Long

Distance.


Cukup benar. Di Amerika, perusahaan-perusahaan seperti Sprint, AT&T, dll

menerima kartu kredit sebagai ganti koin untuk layanan telepon jarak jauh,

atau bahkan kadang-kadang internasional. Walaupun kamu menggunakan telepon

umum, resiko masih ada. Mereka bisa melacak siapa yang kamu telepon. Hal

ini tentunya bukan masalah jika kamu menelepon teman kamu yang *juga*

menggunakan telepon umum, atau teman kamu yang tinggal di, ... Libya,

misalnya.


Penutup

=======


Kayaknya cukup segini dulu, deh, sebab udah mulai kepanjangan nih. Saran

saya kepada kalian yang tertarik untuk menjadi 'professional carder',

hati-hatilah selalu. Eksplorasi adalah hal yang baik, tapi pastikan

sedapat mungkin kamu tidak merugikan orang lain atau dirimu sendiri. Gitu

dulu, deh. Ciao ...


- Belleville, ON

b3ck



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Balikpapan Information, Communication & Technology Community" group.
 To post to this group, send email to [email protected]
 To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
 For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/balikpapan-ict?hl=en-GB

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke