Hi mom Khansa,

Kalau memang nggak (belum) kelihatan batuk, pilek - tetap observe demamnya
ya, mbak.  Perbanyak terus cairan - syukur2 kalau anaknya mau makan juga.
Bahkan untuk kemungkinan menghadapi resiko deteksi awal DB pun (yang
notabene disebabkan virus dan tidak ada obatnya), cairan tetap jadi salah
satu treatment yang utama.

Sudah 3 tahunan kan mbak usianya?  Bisa tanyakan, lagi ingin apa makannya.
Kadang ini jadi salah satu cara 'jitu' untuk anak mau makan saat sakit :)
_Panadol_ bisa jadi salah satu obat untuk home treatment, tapi jangan lupa
juga dengan asupan makanan/minuman bergizi dan istirahat ya, mbak.

Kalau adiknya tertular juga, langsung lakukan home-treatment yang sama.
Saya malah biasakan untuk 'treat' anak2 saya yang 'sehat' dengan cara yang
sama kalau ada salah satu saudaranya di rumah yang sakit.  Maksudnya, supaya
mereka pun punya daya tahan tubuh yang tetap fit dan tidak sampai tertular.

Setuju dengan sharing moms yang lain, lakukan dulu home treatment sambil
tidak lupa  observasi ketat. Aktivitas ini sama sekali bukan gerakan 'anti
dokter', tapi memang kita diperlengkapi 'modal' untuk bersikap lebih
rasional dan tahu dengan jelas kapan harus minta bantuan ahli medis.
Artikel tentang 'kapan harus ke dokter' kiriman jeng Lita bisa jadi
referensi, mbak.

Btw, kebetulan di milis 'sebelah' beberapa waktu lalu dibahas tentang dokter
di Indonesia.  Saya coba cross-posting salah satu opini dari membernya, DSA
di RS. _Harkit_, tentang apa yang biasa dialami kita para ortu balita saat
menghadapi anak2 yang sakit.  Semoga jadi tambahan info.
(Ndah .. thanks a lot untuk izin cross posting-nya ya :))

..........

---------- Forwarded message ----------
From: *Endah Citraresmi*
Date: 2010/2/25
Subject: Re: [90sma3] Buat para dokter dan IDI
To: [email protected]



Mumpung udah basah, kecebur sekalian ahh :-)

Saya cuma ingin mengajak teman2 untuk kritis. Iya, kita semua butuh dokter
(saya juga kalo sakit gigi pergi ke dokter gigi lah, gak nambal sendiri).
Tujuan kita ke dokter bukan supaya anak kita sembuh, kita cuma mau tau
diagnosis sakit anak kita apa, lalu mendiskusikan pengobatannya apa.
Seringkali, penyakit anak itu gak butuh obat at all. Yang akan menyembuhkan
anak itu adalah daya tahan tubuhnya sendiri.

Moga2 kita semua cukup kritis. Please jangan panik dan menuntut anak cepat
sembuh dari dokter, ya. Ada prinsip yang tampaknya berlaku di tempat praktek
dokter: ada demand ada suply. Jika ibunya panik anak gak bisa tidur karena
hidung mampet batuk grok-grok, demam tinggi, bisa dipastikan oleh-oleh dari
dokter adalah: obat demam (bisa isinya sampe dua macem!) plus obat tidur
(biasanya luminal nih), lalu obat pilek, obat batuk (ini juga bisa berapa
macem nih) dan pastinya antibiotik. Saya sering terkejut kalo liat resep,
yang sederet dan antibiotiknya sampe dua jenis. Perlukah anak kita
mengkonsumsi obat sebanyak itu? Bagaimana kalau muncul efek sampingnya?
Ginjalnya rusak? Hatinya rusak?

Yang saya sarankan, be calm, coba tanya sama dokternya, diagnosisnya apa,
penyebabnya apa, perlukah obat, kalau perlu obat, jenisnya apa. Sebaiknya
minta diagnosis dalam bahasa kedokteran. Jangan mau cuma dibilang: radang,
atau ada luka di usus, atau verdag typhus. Sometimes saya gak tau diagnosis
pada pertemuan pertama, tapi saya gak merasa malu tuh mengakui saya belum
tau sakit anaknya apa.

Setelah tau diagnosis, please, gunakan BB dan komputer kita untuk browsing,
apa sih bendanya penyakit itu, cari juga terapinya apa sih. Sekarang ini
website organisasi profesi dokter yang bagus pasti punya parents corner.
Kalau untuk dokter anak di amerika (AAP) mereka punya website kidshealth.org.
Atau bisa browse di mayoclinic.com. Jangan baca blog orang, gak ada
kredibilitasnya itu mah.

Nah, setelah itu, cocokkan dengan obat2 yang diberikan dokter. Biasakan
minta salinan resep dari dokter ya, minta aja ke apotekernya.
Misalnya anak kita didiagnosis DBD, kita harus kritis kalau anak kita dikasi
antibiotik. DBD kan virus, sampe taun kuda juga, virus gak akan mati sama
antibiotik. DBD itu cuma butuh cairan dan monitoring.

Satu hal yang harus diingat, dokter itu manusia, gak selalu benar. Sangat
mungkin salah, misalnya karena kecapean praktek sampe tengah malam, belum
musti bangun buat jawab telfon dari RS atau sms dari pasien. Atau karena
dokternya gak sempat update ilmu baca hasil penelitian terbaru karena FB-an
melulu :-) Kalau dokternya salah, yang rugi siapa? Pasien juga kan. Oya,
kalau memang ada hal yang gawat, pergilah ke IGD ya. Ada dokter 24 jam di
sana kok.

Maaf, maaf kalo ada yang gak berkenan. Terutama buat para dokter di sini.

Thanks buat teman2 yang bisa memahami 'keanehan' saya .. Kalau ada yang
tidak sepaham, saya juga maklum kok, saya juga sangat mungkin salah.

Selamat kerja yaa ..

..........

2010/3/22 mama khansa dayana <[email protected]>

> anak saya khansa 3,3 bulan malam tiba2 panas. dianya sih enggak batuk,
> pilek. saya sudah coba kasih panadol 2 hari ini tapi panasnya belum turun2.
> apa perlu saya bawa ke dokter ya? soalnya selang sehari gantian adiknya 9
> bulan ikiutan panas.
>
> pls pencerahannya donk parents.
> trims-momkhansa-
>

<deleted>

Kirim email ke