Rekans netter,
Saya baru baca berita ini tadi pagi on line, ada yang
bisa mencari info produk apa saja yang oleh YLKI
ditengarai mengandung hasil rekayasa genetika?
terutama susu formula nya. Mungkin kita perlu
klarifikasi ke produsennya.

Mamanya Dafi

Ditemukan, Produk Makanan Mengandung Bahan Transgenik


Jakarta, Kompas

Penelitian kualitatif kandungan rekayasa genetika
dalam produk pangan yang dilakukan Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia (YLKI) sejak 14 November-24
Desember 2001 di Jakarta menunjukkan beberapa produk
makanan turunan kedelai, jagung, dan kentang positif
mengandung unsur rekayasa genetika atau transgenik.
Hal itu diungkapkan Ketua YLKI Indah Suksmaningsih
dalam Fokus Grup Diskusi Hasil Penelitian Pangan
Rekayasa Genetika, di Jakarta, Kamis (7/1). Tampil
pula pada diskusi ini Dwi Andreas Santosa, (dosen
IPB), Dedi Fardiaz, (Deputi Bidang Pengawasan Keamanan
Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM), serta Thomas
Darmawan (Direktur GAPMMI Gabungan Pengusaha Makanan
dan Minuman seluruh Indonesia). 
Menurut Ilyani Sudardjat dari YLKI yang melakukan
penelitian itu, pengujian kandungan rekayasa genetika
dilakukan di laboratorium PT Saraswanti Indo Genetech
Bogor. Produk yang diteliti meliputi susu formula (5
merek), kecap (3 merek), kentang (3 merek), jagung (3
merek), dan mi instan (3 merek). 

Dari semua produk tersebut enam merek diketahui
positif mengandung unsur rekayasa genetika. Empat
merek merupakan produk turunan kedelai yaitu kecap dan
susu formula. Sedangkan dua lainnya kentang dan jagung
(lihat tabel). 

Sebelum pengambilan sampel, YLKI melakukan penelusuran
data dari BPS (Biro Pusat Statistik), importir,
produsen pangan, maupun Badan POM. Penelitian
dilakukan secara kualitatif dan produk yang diuji
dipilih dengan pertimbangan perusahaan bersangkutan
memiliki mekanisme pengujian mutu yang baik, sehingga
diangap semua mutu produknya standar. 

YLKI menuntut agar produsen yang produknya diketahui
mengandung unsur rekayasa genetika memberikan
klarifikasi, apakah telah memenuhi standar atau syarat
keamanan. Dalam hal ini YLKI sudah mengadakan kontak
dengan produsen yang bersangkutan, sejak 4-18 Januari
lalu. Namun, hingga kini baru dua perusahaan yang
memberikan tanggapan, yaitu PT Abbott
Indonesia-Jakarta yang memproduksi susu formula dan PT
Simba Indosnack Makmur produsen snack jagung. 

Dalam surat tanggapannya, PT Simba menyebutkan bahan
baku jagung yang digunakan pada produknya telah
bersertifikat Genetically Modified (GM) Free atau
bebas rekayasa genetika. Namun, perusahaan ini tidak
melampirkan salinan sertifikat itu dalam suratnya. 

Sedangkan PT Abbott Indonesia, melalui wakil yang
hadir mengatakan, produknya telah memenuhi standar uji
keamanan Eropa. Hal ini dipertanyakan Indah, apakah
standar produk yang ditujukan untuk pasar Eropa sama
dengan yang ke Indonesia. 

Karena menurut pengamatannya banyak perusahaan
internasional yang menerapkan standar ganda. "Bisa
saja untuk pasar Eropa digunakan standar keamanan yang
tinggi karena pengawasannya ketat, sedangkan di
Indonesia rendah karena longgarnya pengawasan produk
rekayasa genetika," ujarnya. 

Menurut Dwi Andreas Santosa, Dosen Fakultas Pertanian
IPB yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Center dor
Biodiversity and Biotechnology, Bogor, pengujian
produk rekayasa genetika menggunakan teknik yang sama
dengan yang diterapkan di negara lain, yaitu dengan
polimerase chain reaction. "Jadi, bila pemeriksaan
disana hasilnya positif disini pun begitu," tegasnya. 

Hak konsumen 

Indah mengemukakan, sebenarnya konsumen memiliki hak
atas keamanan pangan dan hak untuk mendapatkan
informasi yang dilindungi Undang-undang Perlindungan
Konsumen. Namun hingga kini belum terpenuhi dalam
kaitannya dengan produk rekayasa genetika. 

"Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam produk
makanan yang ada, tidak satupun mencantumkan informasi
keberadaan rekayasa genetika sehingga konsumen tidak
akan tahu proses uji keamanan yang berlaku dan jaminan
keamanan yang bisa diperoleh," paparnya. 

Perlindungan hak keamanan dan hak atas informasi
pangan rekayasa genetika juga terdapat dalam
Undang-undang Pangan tahun 1996, Peraturan Pemerintah
(PP) tentang Label dan Iklan Pangan tahun 1999. "Jadi
landasan hukum labeling rekayasa genetika dengan
prosedur uji keamanan yang ketat sudah kuat. Hanya
implementasi di lapangan tidak mengalami kemajuan.
Padahal keberadaan PP tersebut sudah berlangsung dua
tahun," ujar Indah. (yun) 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send FREE Valentine eCards with Yahoo! Greetings!
http://greetings.yahoo.com


>> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik, http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke