Halo Mbak Ade

Beberapa hari lalu pernah diposting tulisan tentang wisata kuliner ke Condet, 
hasil tulisan Pak Barens Hidayat. FYI, beberapa postingan di milis masuk juga 
ke blog Bango Mania, bisa diklik:


http://www.bango-mania.org

Boleh tahu, Anda dari media mana?


Berikut saya postingkan lagi:

12 April 2008
Menjelajahi kuliner Condet 
Oleh Barens Hidayat

Kita mengenal Condet saat ini adalah sebagai sebuah eks panggung budaya yang 
lingkupnya sangat khas dengan budaya Betawi. Sebuah cagar budaya yang dahulu 
asri, hampir menjadi semacam 'sanctuary' bagi hiruk pikuknya kota megapolitan ( 
dulu masih metropolitan ) Jakarta.
Ke sinilah orang 'lari' untuk menghirup udara segar sekaligus 'ngalap' buah 
salak, kecapi atau duku setelah kawasan Pasar Minggu menjadi kenangan.

Saat masih bersekolah dasar di Kampung Melayu dulu, saya sering sekali bermain 
ke Condet dan 'memanen' duku di kebun teman. Bahkan ada beberapa teman pernah 
pulang ke rumah dengan bergetek ria menyusur kali Ciliwung dari Condet.

Tapi Condet segera bermetamorfosis tak terkendali. Kebun-kebun salak dan duku 
digusur dengan bangunan perumahan, tempat usaha dan lain-lain. Saking cepat dan 
semaraknya pembangunan itu status cagar budaya yang ditetapkan oleh Gubernur 
DKI- Bang Ali Sadikin, pada tahun 1975, telah dicabut dari Condet. Sekarang 
mungkin yang paling pas adalah sebutan cagar TKI saking banyaknya tempat 
pelatihan dan penampungan TKI di sini, selain berderetnya kedai penjual minyak 
wangi.

Dan, entah mengapa, budaya Timur Tengah juga segera merekat di Condet. 
Rumah-rumah makan adalah salah sebuah bagian budaya yang makin ramai di 
sepanjang daerah pinggir Ciliwung ini. Mungkin ini disebabkan berkembangnya 
komunitas Arab-Betawi di Condet. Dulu, kawasan yang paling terkenal dengan 
komunitas ini adalah, Kwitang, dengan adanya ulama Habib Ali dengan pengajian 
mingguan di Islamic Centernya hingga sebagian di Kampung Melayu. Selain itu 
juga di sebagian daerah Kebon Pala ( Tanah Abang ). Komunitas Arab Condet, ada 
yang berasal dari Jawa Timur dan terbesar Jawa Tengah, khususnya Pekalongan, 
yang lalu
berasimilasi dengan warga Betawi asli.

Deretan rumah makan, warung, gerai makan memanjang dari ujung jalan yang dekat 
Cililitan ke ujung jalan mendekat Outer Ring Road. Di jalan yang saat ini rusak 
dan banyak lubang, rumah-rumah makan itu sebagian besar memenuhi bagian Condet 
Batuampar yang lebih dekat ke tol Jakarta Outer Ring Road.

Sebuah diantaranya adalah RM Puas yang mengusung menu ala Timur Tengah yang 
lumayan kental. Pemiliknya adalah Syadiq Assegaf yang dulu populer dengan Nasi 
Kebuli Hotel Sriwijaya di jl. Veteran, Jakarta Pusat. Jadi, jangan pula keliru, 
RM Puas Condet ini bukan cabang dari RM Puas di Pekalongan yang juga markotop 
dengan Nasi Kebulinya. Yang di Condet ini, rintisan Maryam Assegaf umi dari 
Syadiq, cuma memiliki rangkaian dengan RM Puas lain di daerah Kebun Jeruk dan 
Jatiwaringin.

Menu andalan di rumah makan Puas adalah Nasi Kebuli, Roti Jala dan Martabak. 
Roti jalanya lembut, tidak asin dan saat dicelupkan dalam kuah kari kambing 
kelihatan mlekoh dan merangsang selera. Saya bisa menghabiskan berlembar-lembar 
kalau sudah begini. Tetapi Nasi Kebulinya tidak cukup kuat menarik urat 
gastronomi saya dibandingkan dengan Nasi Kebuli di RM Layla di Jl. Abdullah 
Syafei Kampung Melayu. Penampilannyapun kalah yahud dari Nasi Kebuli RM Ibu 
Layla yang kekuningan dan tampak 'berat' itu. Nasi Kebuli RM Puas datang dengan 
aroma yang enak untuk disesap, piring penuh nasi bertabur kismis dan topping 
irisan kenari di sekeliling potongan daging kambing yang lembut. Penampilan 
nasi lebih terang, bersih.
Tetapi, buat saya kurang terasa tekstur rempahnya. Tetapi acarnya yang asam 
segar membuat saya meminta sepiring kecil lagi untuk dibawa pulang dan nanti 
dimakan di rumah dengan roti jala dan kari kambingnya.

Karena masih ada bagian perut yang masih lowong ( not big tummy though..:p ), 
setelah shalat Dzuhur di situ juga, saya memesan seporsi Sambosa isi daging 
yang datang dalam sepiring isi 3. Sambosanya gurih, kulit pembungkus isinya 
garing walau digoreng agak kematangan. Tersedia pula Sambosa isi keju yang 
'beda'. Pesanan lain, Roti canai atau Roti Konde yang digoreng kering, tidak 
berminyak, cenderung krispi. Buat saya roti canai di sini masih yang terbaik 
dari roti canai tempat lain yang pernah sayacicipi. Gurih, menteganya dominan 
sekali. Ahh...biar panjang rasanya, saya juga membungkusnya pulang untuk nanti 
dimakan dengan madu atau gula serta taburan cinnamon.

Sekitar satu kilometer ke arah Outer Ring Road, kita bisa menemukan rumah makan 
yang sangat sederhana, tetapi masakannya lumayan cukup otentik, namanya Lesehan 
Jawa Timur. Ke sinilah dalam satu siang yang lain saya mampir.

Ini rumah makan milik Thalib Musawa, saudara dari Harun Musawa, wartawan senior 
di Tempo, yang menyediakan masakan khas Arab. Walau khas Arab, tetapi saya 
sedikit berspekulasi ada sampiran India di dalam masakannya. Memang mirip, sih..

Menu andalannya adalah Gule Kacang Hijaunya yang..ajiibb! Selain itu kaldu 
kikil, Nasi Tomat dan Harisa ( bubur gandum ). Perut saya siang itu terisi 
dengan sepiring nasi tomat, yang serupa sejenis dengan nasi goreng di 
rumah-rumah makan Aceh. Hanya rasa asam tomat membuncah disana-sini selain 
harum yang kuat dari daun salam koja. Sepotong daging kambing dan sejumput 
acar, lagi-lagi acar Timnas TCM ( Timun Nanas Tomat Cabe Merah ), menemani 
penampilan nasi tomat.

Gule Kacang Hijau saya makan di rumah bersama dengan Roti Maryam. Gule yang 
kental sekali dengan santan pekat, gurih karena berbagai rempah terjejak di 
dalamnya, serta 2 potongan tulang kambing yang berbungkus daging lembut. Roti 
Maryam, versi padat Roti Canai, lebih sedikit gepeng dan moist walau selapis 
lebih tawar dari roti Canai di RM Puas.

Tampaknya Kaldu Kikil yang sedang disantap orang lain di meja lesehan sebelah 
perlu dijelajahi lain waktu. Kental, sekilas mirip Marag, dan kikil yang 
menempel di kaki kambingnya (?) tebal-tebal. Sluurppss!!

Oya, saya juga mencicip dodol arab yang dijual di Lesehan Jawa Timur. 
Sebutannya Asid dan makannya dicocol dengan madu dan mentega yang harum. Di 
rumah setelah dihangatkan sebentar, Asid, yang legit, lebih lembut dari dodol 
tetapi tidak lengket saya colek sedikit demi sedikit dan membuat sore yang 
gerimis terlewatkan dengan cepat. Pendamping yang pas tentu saja kopi nasgitel 
itu. Panas legi kenthel!

Masih kuat? Ada sate Tegal Abu Salim yang..bujukkk, dahh! Kata orang Condet, 
ente jangan sok yahannu lah kalo belon nyoba sate hati kambing di Abu Salim. 
Ajjjiibbb!! Kombinasi dengan sate daging kambing yang berpotongan besar dan 
empuk, sate hatinya memang menjadi juara tak
tertandingi. Lapisan luar hati yang firm terbakar rata meretas ketika digigit 
dan langsung lumat begitu menyusur titik tengahnya.

Nasi Kebuli di Abu Salim juga 'jenis' yang lain lagi. Rempah-rempahnya datar 
saja, nasinya sudah masuk kategori nasi lembek dan...ada campur tangan kecap 
tampaknya. Menurut saya, adalah ide yang iseng memasukkan kucuran kecap dalam 
nasi kebuli. Tetapi kambing gorengnya, apalagi bagian dengkulnya, menuai resah 
yang mampu membuat berkeringat.

Bagi pedoyan susu, jangan segan mencoba susu kambingnya yang berempah itu. 
Aliran rasa hangat akan segera menyelimuti hingga ke pori-pori sesaat setelah 
meminumnya. Tapi, awas, seluruh kombinasi di atas akan membuat kita gelisah 
semalaman! Romance scene all over the place!! Hahaha!

Berhentilah sebelum kenyang. Ini risalah sebuah hadis. Tetapi Condet masih 
menunggu disambangi para penjelajah kuliner, food traveller,..whatsoever,.. 
masih ada Dodol Condet, Emping Condet yang gurih dan lebar buat oleh-oleh. Juga 
menu Harisa, bubur gandum dengan
daging kambing di rumah makan sederhana Thalib Musawa dan Bolion Pusa, minuman 
kesegaran dari kaldu+telor ayam kampung+rempah di RM Puas.

Masih di kawasan Condet Batuampar, ada warung mungil menjual Nasi Krawu dan 
Nasi Madura yang decent, Masakan Muslim Bali milik Jamal Mubarak, Makanan Khas 
Cirebon dengan Empal Gentongnya, juga gerai Baso Atom serta berbagai warung 
Sate Kambing Muda khas Betawi.

Nahh..!! Eat right, yuk!

Beberapa foto bisa dikunjungi di 

http://beha38b.multiply.com/photos/album/305


Syukron!

Barens Hidayat

..berhentilah sebelum kenyang

Sphere: Related Content 
di 2:59 AM    

Label: kuliner jakarta 




  ----- Original Message ----- 
  From: ade riska 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, April 24, 2008 1:35 PM
  Subject: Condet - Re: [bango-mania] Tanya resto kuliner Betawi yang enak


  mas tomas, kalau daerah condet?
  aku mau angkat warisan kuliner betawi, selain ceger rumah makan H. Bokir itu, 
kalau daerah condet mas, ada ga?

  ----- Original Message ----
  From: thomas sasongko /id.jkt-mktg <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Thursday, April 24, 2008 10:37:17 AM
  Subject: RE: [bango-mania] Tanya resto kuliner Betawi yang enak

  ya,...denger2. ..soto betawi itu di bikinnya keroyokan 
  Haji Nasir & Co itu, kemungkinan H.Bokir & Mpok Nori, join di 
  situ.....(sanggar tarinya Mpok Nori di Jl. Bambu Kuningg kalo ga 
  salah),...

  Ya 
  lopisnya bisa pesan,...harganya satu bungkus Rp 12ribu kalau bantet (kira20 
  cm),..kalo sukse ya Rp 15ribu (kira2 28cm), 



  / Thomas 
  Sasongko
  Inbound Marketing Dept.
  WAN HAI LINES. 


   

<<icon18_edit_allbkg.gif>>

Kirim email ke