wuaaahhh... lengkap banget!
makasih ya mas thomas.

aku dari majalah selera, jawa pos group.
salam kenal ya mas

senang bisa kenal dengan mas thomas sasongko
_salam 


----- Original Message ----
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, April 24, 2008 3:24:25 PM
Subject: Re: Condet - Re: [bango-mania] Tanya resto kuliner Betawi yang enak


Halo Mbak Ade
 
Beberapa hari lalu pernah diposting tulisan tentang 
wisata kuliner ke Condet, hasil tulisan Pak Barens Hidayat. FYI, beberapa 
postingan di milis masuk juga ke blog Bango Mania, bisa diklik:
 
 
http://www.bango- mania.org
 
Boleh tahu, Anda dari media mana?
 
 
Berikut saya postingkan lagi:
 
12 April 2008
 
Menjelajahi kuliner Condet 
Oleh Barens Hidayat

Kita 
mengenal Condet saat ini adalah sebagai sebuah eks panggung budaya yang 
lingkupnya sangat khas dengan budaya Betawi. Sebuah cagar budaya yang dahulu 
asri, hampir menjadi semacam 'sanctuary' bagi hiruk pikuknya kota megapolitan ( 
dulu masih metropolitan ) Jakarta.
Ke sinilah orang 'lari' untuk menghirup 
udara segar sekaligus 'ngalap' buah salak, kecapi atau duku setelah kawasan 
Pasar Minggu menjadi kenangan.

Saat masih bersekolah dasar di Kampung 
Melayu dulu, saya sering sekali bermain ke Condet dan 'memanen' duku di kebun 
teman. Bahkan ada beberapa teman pernah pulang ke rumah dengan bergetek ria 
menyusur kali Ciliwung dari Condet.

Tapi Condet segera bermetamorfosis 
tak terkendali. Kebun-kebun salak dan duku digusur dengan bangunan perumahan, 
tempat usaha dan lain-lain. Saking cepat dan semaraknya pembangunan itu status 
cagar budaya yang ditetapkan oleh Gubernur DKI- Bang Ali Sadikin, pada tahun 
1975, telah dicabut dari Condet. 
Sekarang mungkin yang paling pas adalah sebutan cagar TKI saking banyaknya 
tempat pelatihan dan penampungan TKI di sini, selain berderetnya kedai penjual 
minyak wangi.

Dan, entah mengapa, budaya Timur Tengah juga segera merekat 
di Condet. Rumah-rumah makan adalah salah sebuah bagian budaya yang makin ramai 
di sepanjang daerah pinggir Ciliwung ini. Mungkin ini disebabkan berkembangnya 
komunitas Arab-Betawi di Condet. Dulu, kawasan yang paling terkenal dengan 
komunitas ini adalah, Kwitang, dengan adanya ulama Habib Ali dengan pengajian 
mingguan di Islamic Centernya hingga sebagian di Kampung Melayu. Selain itu 
juga 
di sebagian daerah Kebon Pala ( Tanah Abang ). Komunitas Arab Condet, ada yang 
berasal dari Jawa Timur dan terbesar Jawa Tengah, khususnya Pekalongan, yang 
lalu
berasimilasi dengan warga Betawi asli.

Deretan rumah makan, 
warung, gerai makan memanjang dari ujung jalan yang dekat Cililitan ke ujung 
jalan mendekat Outer Ring Road. Di jalan yang saat ini rusak dan banyak lubang, 
rumah-rumah makan itu sebagian besar memenuhi bagian Condet Batuampar yang 
lebih 
dekat ke tol Jakarta Outer Ring Road.

Sebuah diantaranya adalah RM Puas 
yang mengusung menu ala Timur Tengah yang lumayan kental. Pemiliknya adalah 
Syadiq Assegaf yang dulu populer dengan Nasi Kebuli Hotel Sriwijaya di jl. 
Veteran, Jakarta Pusat. Jadi, jangan pula keliru, RM Puas Condet ini bukan 
cabang dari RM Puas di Pekalongan yang juga markotop dengan Nasi Kebulinya. 
Yang 
di Condet ini, rintisan Maryam Assegaf umi dari Syadiq, cuma memiliki rangkaian 
dengan RM Puas lain di daerah Kebun Jeruk dan Jatiwaringin.

Menu andalan 
di rumah makan Puas adalah Nasi Kebuli, Roti Jala dan Martabak. Roti jalanya 
lembut, tidak asin dan saat dicelupkan dalam kuah kari kambing kelihatan mlekoh 
dan merangsang selera. Saya bisa menghabiskan berlembar-lembar kalau sudah 
begini. Tetapi Nasi Kebulinya tidak cukup kuat menarik urat gastronomi saya 
dibandingkan dengan Nasi Kebuli di RM Layla di Jl. Abdullah Syafei Kampung 
Melayu. Penampilannyapun kalah yahud dari Nasi Kebuli RM Ibu Layla yang 
kekuningan dan tampak 'berat' itu. Nasi Kebuli RM Puas datang dengan aroma yang 
enak untuk disesap, piring penuh nasi bertabur kismis dan topping irisan kenari 
di sekeliling potongan daging kambing yang lembut. Penampilan nasi lebih 
terang, 
bersih.
Tetapi, buat saya kurang terasa tekstur rempahnya. Tetapi acarnya 
yang asam segar membuat saya meminta sepiring kecil lagi untuk dibawa pulang 
dan 
nanti dimakan di rumah dengan roti jala dan kari kambingnya.

Karena masih 
ada bagian perut yang masih lowong ( not big tummy though..:p ), setelah shalat 
Dzuhur di situ juga, saya memesan seporsi Sambosa isi daging yang datang dalam 
sepiring isi 3. Sambosanya gurih, kulit pembungkus isinya garing walau digoreng 
agak kematangan. Tersedia pula Sambosa isi keju yang 'beda'. Pesanan lain, Roti 
canai atau Roti Konde yang digoreng kering, tidak berminyak, cenderung krispi. 
Buat saya roti canai di sini masih yang terbaik dari roti canai tempat lain 
yang 
pernah sayacicipi. Gurih, menteganya dominan sekali. Ahh...biar panjang 
rasanya, 
saya juga membungkusnya pulang untuk nanti dimakan dengan madu atau gula serta 
taburan cinnamon.

Sekitar satu kilometer ke arah Outer Ring Road, kita 
bisa menemukan rumah makan yang sangat sederhana, tetapi masakannya lumayan 
cukup otentik, namanya Lesehan Jawa Timur. Ke sinilah dalam satu siang yang 
lain 
saya mampir.

Ini rumah makan milik Thalib Musawa, saudara dari Harun 
Musawa, wartawan senior di Tempo, yang menyediakan masakan khas Arab. Walau 
khas Arab, 
tetapi saya sedikit berspekulasi ada sampiran India di dalam masakannya. Memang 
mirip, sih..

Menu andalannya adalah Gule Kacang Hijaunya yang..ajiibb! 
Selain itu kaldu kikil, Nasi Tomat dan Harisa ( bubur gandum ). Perut saya 
siang 
itu terisi dengan sepiring nasi tomat, yang serupa sejenis dengan nasi goreng 
di 
rumah-rumah makan Aceh. Hanya rasa asam tomat membuncah disana-sini selain 
harum 
yang kuat dari daun salam koja. Sepotong daging kambing dan sejumput acar, 
lagi-lagi acar Timnas TCM ( Timun Nanas Tomat Cabe Merah ), menemani penampilan 
nasi tomat.

Gule Kacang Hijau saya makan di rumah bersama dengan Roti 
Maryam. Gule yang kental sekali dengan santan pekat, gurih karena berbagai 
rempah terjejak di dalamnya, serta 2 potongan tulang kambing yang berbungkus 
daging lembut. Roti Maryam, versi padat Roti Canai, lebih sedikit gepeng dan 
moist walau selapis lebih tawar dari roti Canai di RM Puas.

Tampaknya 
Kaldu Kikil yang sedang disantap orang lain di meja lesehan sebelah perlu 
dijelajahi lain waktu. Kental, sekilas mirip Marag, dan kikil yang menempel di 
kaki kambingnya (?) tebal-tebal. Sluurppss!!

Oya, saya juga mencicip 
dodol arab yang dijual di Lesehan Jawa Timur. Sebutannya Asid dan makannya 
dicocol dengan madu dan mentega yang harum. Di rumah setelah dihangatkan 
sebentar, Asid, yang legit, lebih lembut dari dodol tetapi tidak lengket saya 
colek sedikit demi sedikit dan membuat sore yang gerimis terlewatkan dengan 
cepat. Pendamping yang pas tentu saja kopi nasgitel itu. Panas legi 
kenthel!

Masih kuat? Ada sate Tegal Abu Salim yang..bujukkk, dahh! Kata 
orang Condet, ente jangan sok yahannu lah kalo belon nyoba sate hati kambing di 
Abu Salim. Ajjjiibbb!! Kombinasi dengan sate daging kambing yang berpotongan 
besar dan empuk, sate hatinya memang menjadi juara tak
tertandingi. 
Lapisan luar hati yang firm terbakar rata meretas ketika digigit dan langsung 
lumat begitu menyusur titik tengahnya.

Nasi Kebuli di Abu Salim juga 
'jenis' yang lain lagi. Rempah-rempahnya datar saja, nasinya sudah masuk 
kategori nasi lembek dan...ada campur tangan kecap tampaknya. Menurut saya, 
adalah ide yang iseng memasukkan kucuran kecap dalam nasi kebuli. Tetapi 
kambing 
gorengnya, apalagi bagian dengkulnya, menuai resah yang mampu membuat 
berkeringat.

Bagi pedoyan susu, jangan segan mencoba susu kambingnya yang 
berempah itu. Aliran rasa hangat akan segera menyelimuti hingga ke pori-pori 
sesaat setelah meminumnya. Tapi, awas, seluruh kombinasi di atas akan membuat 
kita gelisah semalaman! Romance scene all over the place!! 
Hahaha!

Berhentilah sebelum kenyang. Ini risalah sebuah hadis. Tetapi 
Condet masih menunggu disambangi para penjelajah kuliner, food 
traveller,.. whatsoever, .. masih ada Dodol Condet, Emping Condet yang 
gurih dan lebar buat oleh-oleh. Juga menu Harisa, bubur gandum dengan
daging 
kambing di rumah makan sederhana Thalib Musawa dan Bolion Pusa, minuman 
kesegaran dari kaldu+telor ayam kampung+rempah di RM Puas.

Masih di 
kawasan Condet Batuampar, ada warung mungil menjual Nasi Krawu dan Nasi Madura 
yang decent, Masakan Muslim Bali milik Jamal Mubarak, Makanan Khas Cirebon 
dengan Empal Gentongnya, 
juga gerai Baso Atom serta berbagai warung Sate Kambing Muda khas 
Betawi.

Nahh..!! Eat right, yuk!

Beberapa foto bisa dikunjungi 
di

http://beha38b. multiply. com/photos/ album/305


Syukron!

Barens Hidayat

...berhentilah sebelum 
kenyangSphere: Related Content 
di 2:59 AM    
Label: kuliner jakarta 
 
 
 
----- Original Message ----- 
From: ade riska 
To: bango-mania@ yahoogroups. com 
Sent: Thursday, April 24, 2008 1:35  PM
Subject: Condet - Re: [bango-mania] Tanya  resto kuliner Betawi yang enak

mas tomas, kalau daerah condet?
aku mau angkat warisan kuliner betawi,  selain ceger rumah makan H. Bokir itu, 
kalau daerah condet mas, ada  ga?

----- Original Message ----
From: thomas sasongko /id.jkt-mktg  <thomas_sasongko@ wanhai.com>
To: bango-mania@ yahoogroups. com
Sent:  Thursday, April 24, 2008 10:37:17 AM
Subject: RE: [bango-mania] Tanya resto  kuliner Betawi yang enak

ya,...denger2. ..soto betawi itu di bikinnya  keroyokan 
Haji Nasir & Co itu, kemungkinan H.Bokir & Mpok Nori,  join di 
situ.....(sanggar tarinya Mpok Nori di Jl. Bambu Kuningg kalo ga 
salah),...

Ya 
lopisnya bisa pesan,...harganya satu bungkus Rp  12ribu kalau bantet (kira20 
cm),..kalo sukse ya Rp 15ribu (kira2 28cm), 



/ Thomas 
Sasongko
Inbound Marketing Dept.
WAN HAI  LINES. 
    


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke