Agar Daging Buntut Lunak, Butuh Dua Kali Perebusan



BAGIAN
paling buncit dari sapi dulu hanya "sampah". Oleh para peternak kuno
Italia, buntut dibuang bersama organ-organ seperti jeroan atau tanduk.
Tapi sekarang, buntut naik kelas. Dari meja makan para buruh miskin
Eropa, kini menu-menu buntut tercantum dalam daftar menu restoran mewah hingga 
hotel berbintang. Olahan menu itu tersebar ke seantero dunia.

Letak buntut atau ekor memang paling buntut. Bagian belakang itu umumnya 
mempunyai berat 1-1,8 kg dengan panjang 1-1,4 m. Di
pasaran, buntut dijajakan dalam bentuk potongan berdiameter antara 2-5
cm. Mengapa buntut digemari? Itu tak lepas dari rasanya yang cukup
mengena di lidah. Meski, berdasar komposisi, buntut memiliki lebih
banyak tulang daripada daging. "Persentase antara tulang dan daging
sekitar 60 persen banding 40 persen," terang Budi Tri Utomo, head chef Bali Box.

Tulang buntut berongga-rongga dengan isi gumpalan lemak. Untuk yang tidak tahu,
lapisan lemak itu kerap dianggap sumsum karena warnanya hampir sama.
Daging buntut lebih liat. Karena liat itulah, buntut sapi harus direbus
terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut.

Bila langsung
dimasak, daging akan sulit digigit. Merebusnya tidak bisa sebentar.
Minimal sejam di atas api kecil. Perebusan bermanfaat menghilangkan
kotoran-kotoran yang mengendap di rongga-rongga
tulang. Termasuk mengenyahkan lapisan lemak-lemak kotor yang bercampur
darah dalam rongga tulang. Juga mengeliminasi bau amis buntut sapi.

Idealnya,
merebus buntut tak cukup sekali. Perebusan pertama dimaksudkan untuk
menghilangkan kotoran. Baru pada perebusan kedua, airnya bisa
dimanfaatkan sebagai kaldu. "Perebusan kedua tidak perlu terlalu lama.
Waktunya bisa 30 menit hingga sejam," terang pria 34 tahun tersebut.

Pada
perebusan kedua, bisa ditambahkan rempah-rempah, seperti jahe, anistar
serai, atau daun jeruk untuk menghilangkan sama sekali bau anyir. Tapi,
kalau mau dimanfaatkan sebagai kaldu, air rebusan tidak perlu dicampur
dengan apa pun.

Setelah direbus dan lunak, buntut siap diolah.
Mengolahnya bisa dipanggang khas Irlandia, dijadikan olahan aneka sup,
ditumis, atau cukup digoreng dan disajikan bersama sambal. Di Bali Box, salah 
satu menu spesial adalah olahan buntut bakar yang disajikan dengan saus jintan.

Jintan hitam disangrai, dihaluskan bersama bawang merah, bawang putih, dan 
madu. Tumbukan halus bumbu-bumbu itu lantas dioleskan di
atas permukaan buntut yang dipanggang. Hasilnya, bau harum jintan
membuat rongga penciuman mabuk kepayang. Rasa gurih buntut bercampur
sempurna dengan manisnya madu.

Olahan buntut sapi tak hanya tenar di
sini. Setidaknya, beberapa negara punya olahan kreatif buntut sapi.
Misalnya, Italia punya Coda Alla Vaccinara, buntut sapi yang diolah
menjadi sup kental. Di Korea ada Kkori Gomtang, yakni olahan sup yang dimakan 
dengan nasi, sama dengan Tiongkok dan Amerika bagian selatan. Sedangkan di 
Jamaika dan Trinidad, buntut ditumis bersama mentega dan kacang-kacangan. 

Segar, Lihat Warna
Kesegaran bahan adalah kunci utama setiap masakan. Termasuk, menu berbahan 
buntut. Pastikan bahwa yang ada di
tangan merupakan buntut fresh. Ketidaksegaran berpengaruh terhadap
citarasa. Apalagi buntut yang rongga-rongganya dipenuhi bercak darah.
''Kalau tidak segar, baunya lebih amis,'' ujar Budi Tri Utomo dari Bali Box.

Kesegaran
buntut, menurut Budi, bisa dilihat dari guratan serat. Untuk buntut
segar, guratan seratnya jelas. Bagian tulang warnanya juga belum
memudar. Terlihat putih, bukan kekuningan atau malah kecokelatan. Warna
kecokelatan atau hitam merupakan pertanda buntut telah terkontaminasi
bakteri. Pada daging juga begitu, warnanya merah segar atau pink. Tidak
menghitam atau kecokelatan. ''Kalau sudah cokelat, buntut sudah
kehilangan kesegarannya,'' jelasnya. (ign/tia)

Sumber: Jawa Pos [Jum'at, 03 April 2009]
Foto: http://jalanjajanjakarta.blogspot.com/2008/09/dapur-buntut.html
Baca juga BLOG BANGOMANIA
Gabung pula di FACEBOOK BANGOMANIA


      

Kirim email ke