Mas Radit nan budiman,

Kalau sudah ada, silahkan pakai. Saya kira belum ada jadi saya sekadar berikan 
informasi, sebab anggota bango-maya menulis daging harus dimasak dua kali! Saya 
bilang Dubai, karena saya beli disana.

Ada yang lupa saya beritahukan bahwa buntut sapi tidak dibuang,  tetapi dijual, 
biasanya direbus untuk bikin soup. Kalau tak salah  di Indonesia juga ada juga 
yang namanya  sup buntut, apa benar dari buntut sapi saya tak tahu. Di Polandia 
 dibikin sup, di restaurant ada di jual,  namanya "supa ogonowa", juga dijual 
semacam sup dari perut lembu namanya "flaki".

Dengan banyak orang dari berbagi penjuru dunia, bahagian-bahagian bintang 
potong, yang dulu tidak dijual sekarang di jual. Dulu di Swedia tidak dijual 
hati, jantung ayam sekarang dijual. Tidak dijual karena dianggap berbahaya bagi 
kesehatan manusia. Sekarang telah ditentutakan berapa besar ruangan dan 
kebersihan untuk ayam ternak, rupanya kesehatan  ayam "agak" terjamin.  
Mengenai hati ayam, saya diberitahukan bahwa di Lebanon, orang makan hati ayam 
mentah, katanya dipotong kecil dan ditaruh lemon dan garam.  Di Jepang, dijual 
shashimi ayam, saya sudah coba, karena diundang makan, tetapi bagi saya jalan 
masuk ke kerongkongan kurang begitu lancar seperti ikan.

Salam untuk semua, dan masaklah yang enak!
  



  ----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, April 04, 2009 7:45 AM
  Subject: Re: [bango-mania] Butuh Dua Kali Perebusan, Agar Daging Buntut Lunak


   
  Dear Tante Ambon,

  Panci "pressure cooker" sudah lama ada di Indonesia, dan sudah banyak yang 
bikinan lokal, seperti merk Maspion.

  Ngapain juga musti beli di Dubai....


  salam,


  My Facebook: 
  Radityo Djadjoeri
  Mediacare Indonesia

    ----- Original Message ----- 
    From: Sunny 
    To: [email protected] 
    Sent: Friday, April 03, 2009 8:52 PM
    Subject: Re: [bango-mania] Butuh Dua Kali Perebusan, Agar Daging Buntut 
Lunak


     
    Pakai "presure cooker",  panci yang khusus untuk memasak daging  keras 
menjadi lembut, waktunya pun jauh lebih singkat dari biasa, menghemat gas.

    Kalau tak ada dijual di Indonesia minta kenalan beli dari Dubai, harganya 
murah.



      ----- Original Message ----- 
      From: Abdur Rohman 
      To: [email protected] 
      Sent: Saturday, April 04, 2009 6:29 AM
      Subject: [bango-mania] Butuh Dua Kali Perebusan, Agar Daging Buntut Lunak


            Agar Daging Buntut Lunak, Butuh Dua Kali Perebusan 

            BAGIAN paling buncit dari sapi dulu hanya "sampah". Oleh para 
peternak kuno Italia, buntut dibuang bersama organ-organ seperti jeroan atau 
tanduk. Tapi sekarang, buntut naik kelas. Dari meja makan para buruh miskin 
Eropa, kini menu-menu buntut tercantum dalam daftar menu restoran mewah hingga 
hotel berbintang. Olahan menu itu tersebar ke seantero dunia.

            Letak buntut atau ekor memang paling buntut. Bagian belakang itu 
umumnya mempunyai berat 1-1,8 kg dengan panjang 1-1,4 m. Di pasaran, buntut 
dijajakan dalam bentuk potongan berdiameter antara 2-5 cm. Mengapa buntut 
digemari? Itu tak lepas dari rasanya yang cukup mengena di lidah. Meski, 
berdasar komposisi, buntut memiliki lebih banyak tulang daripada daging. 
"Persentase antara tulang dan daging sekitar 60 persen banding 40 persen," 
terang Budi Tri Utomo, head chef Bali Box.

            Tulang buntut berongga-rongga dengan isi gumpalan lemak. Untuk yang 
tidak tahu, lapisan lemak itu kerap dianggap sumsum karena warnanya hampir 
sama. Daging buntut lebih liat. Karena liat itulah, buntut sapi harus direbus 
terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut.

            Bila langsung dimasak, daging akan sulit digigit. Merebusnya tidak 
bisa sebentar. Minimal sejam di atas api kecil. Perebusan bermanfaat 
menghilangkan kotoran-kotoran yang mengendap di rongga-rongga tulang. Termasuk 
mengenyahkan lapisan lemak-lemak kotor yang bercampur darah dalam rongga 
tulang. Juga mengeliminasi bau amis buntut sapi.

            Idealnya, merebus buntut tak cukup sekali. Perebusan pertama 
dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran. Baru pada perebusan kedua, airnya bisa 
dimanfaatkan sebagai kaldu. "Perebusan kedua tidak perlu terlalu lama. Waktunya 
bisa 30 menit hingga sejam," terang pria 34 tahun tersebut.

            Pada perebusan kedua, bisa ditambahkan rempah-rempah, seperti jahe, 
anistar serai, atau daun jeruk untuk menghilangkan sama sekali bau anyir. Tapi, 
kalau mau dimanfaatkan sebagai kaldu, air rebusan tidak perlu dicampur dengan 
apa pun.

            Setelah direbus dan lunak, buntut siap diolah. Mengolahnya bisa 
dipanggang khas Irlandia, dijadikan olahan aneka sup, ditumis, atau cukup 
digoreng dan disajikan bersama sambal. Di Bali Box, salah satu menu spesial 
adalah olahan buntut bakar yang disajikan dengan saus jintan.

            Jintan hitam disangrai, dihaluskan bersama bawang merah, bawang 
putih, dan madu. Tumbukan halus bumbu-bumbu itu lantas dioleskan di atas 
permukaan buntut yang dipanggang. Hasilnya, bau harum jintan membuat rongga 
penciuman mabuk kepayang. Rasa gurih buntut bercampur sempurna dengan manisnya 
madu.

            Olahan buntut sapi tak hanya tenar di sini. Setidaknya, beberapa 
negara punya olahan kreatif buntut sapi. Misalnya, Italia punya Coda Alla 
Vaccinara, buntut sapi yang diolah menjadi sup kental. Di Korea ada Kkori 
Gomtang, yakni olahan sup yang dimakan dengan nasi, sama dengan Tiongkok dan 
Amerika bagian selatan. Sedangkan di Jamaika dan Trinidad, buntut ditumis 
bersama mentega dan kacang-kacangan. 

            Segar, Lihat Warna
            Kesegaran bahan adalah kunci utama setiap masakan. Termasuk, menu 
berbahan buntut. Pastikan bahwa yang ada di tangan merupakan buntut fresh. 
Ketidaksegaran berpengaruh terhadap citarasa. Apalagi buntut yang 
rongga-rongganya dipenuhi bercak darah. ''Kalau tidak segar, baunya lebih 
amis,'' ujar Budi Tri Utomo dari Bali Box.

            Kesegaran buntut, menurut Budi, bisa dilihat dari guratan serat. 
Untuk buntut segar, guratan seratnya jelas. Bagian tulang warnanya juga belum 
memudar. Terlihat putih, bukan kekuningan atau malah kecokelatan. Warna 
kecokelatan atau hitam merupakan pertanda buntut telah terkontaminasi bakteri. 
Pada daging juga begitu, warnanya merah segar atau pink. Tidak menghitam atau 
kecokelatan. ''Kalau sudah cokelat, buntut sudah kehilangan kesegarannya,'' 
jelasnya. (ign/tia)

            Sumber: Jawa Pos [Jum'at, 03 April 2009]
            Foto: 
http://jalanjajanjakarta.blogspot.com/2008/09/dapur-buntut.html
            Baca juga BLOG BANGOMANIA
            Gabung pula di FACEBOOK BANGOMANIA
           




  

Kirim email ke