Pengembaraan Pempek
Siapa tak kenal pempek asal tepian Sungai Musi di Palembang, Sumatera Selatan? Seluruh pelosok Ibu Kota akrab benar dengan pempek. Pengembaraan makanan yang semula berbahan dasar ikan belida itu sungguh sukses. Pempek dijual dari kelas gerobak dorong dari kampung ke kampung sampai resto sekelas Cawan Putih di Jalan Sabang, Jakarta. M Clara Wresti dan Soelastri Soekirno Secara umum pempek memiliki rasa gurih bercampur segar karena siraman kuah dari cuka atau asam plus taburan ebi tumbuk di atas adonan. Paduan rasa asin, gurih, manis, asam, dan segar dengan takaran pas membuat lidah bergoyang saat menyantap pempek dalam kondisi hangat. Rasa ini tampaknya cocok dengan selera warga Jakarta yang membutuhkan makanan dengan rasa unik serba cocok untuk segala cuaca. Maka jangan heran bila di seantero Jakarta semakin banyak warung dan rumah makan menyajikan pempek. Bahkan, kini sudah banyak pedagang keliling menjajakan pempek dengan gerobak maupun boks dipanggul. Rasa antara pedagang keliling, di warung, dan di rumah makan tentu berbeda. Untuk menentukan kualitas rasa, penikmat pempek harus mencicipinya dulu, baru memutuskan rasa pempek itu enak atau tidak. Masalahnya kualitas rasa pempek itu bukan bagaimana cara dia berdagang, tetapi dari tangan pembuatnya. ”Semua orang Palembang bisa bikin pempek. Mudah kok membuatnya, tetapi kalau rasa, tentu berbeda buatan yang satu dengan yang lain,” kata Eddy (51), pedagang pempek di halaman parkir sekolah St Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Johan, penjual pempek di Jalan Raya Ciledug, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, menyatakan hal senada. Johan dan istrinya, Merry, yang hanya menggantungkan hidup dari berjualan pempek menjaga cita rasa pempek buatannya. ”Perbandingan antara daging ikan tenggiri dan sagu harus pas agar daging pempek lembut di lidah dan rasanya nikmat,” ungkap Johan yang asal Palembang. Bisa jadi karena teguh pada komitmen, sekalipun ia berpindah tempat jualan, pelanggan tetap mencarinya. Adapun Eddy, selain punya warung di Karawaci, Tangerang, juga memilih berdagang di mobilnya dengan menggantungkan papan putih bertuliskan ”Pempek Palembang” yang diparkir di halaman parkir St Theresia. Eddy memilih berjualan dengan cara ini agar mudah dicari pelanggan. Semula dia berjualan di dekat bioskop Rivoli di kawasan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat. Rasa dagangan Eddy boleh disandingkan dengan warung atau rumah makan pempek terkenal. Pempek pastel yang terbuat dari parutan pepaya muda dibungkus pempek sangat kental dengan rasa ikan. Pembeli biasanya memilih pempek tanpa digoreng, tetapi langsung disiram kuah dan ditaburi ebi dalam jumlah banyak. Rasanya... hmm nikmat. Tak salah kalau dagangan Eddy selalu diserbu pembeli. Ada pelanggan yang secara rutin memesan 800 butir pempek per tiga minggu. Pempek itu bukan untuk dijual lagi, tetapi untuk disantap sendiri. ”Buat orang Palembang, makan pempek itu keharusan. Dalam seminggu minimal sekali kami menyantap pempek,” kata Janny Ganny (39), salah seorang pelanggan pempek Eddy. Adalah Jalan Garuda Kemayoran, Jakarta Pusat, yang merupakan tempat pempek pertama kali hadir di Jakarta. Awalnya, tahun 1980, Sutomo berjualan pempek di warungnya yang bernama Pempek Garuda dan sangat terkenal. Tahun 1990, setelah Sutomo meninggal, warung ini pun pecah menjadi tiga. Putra Sutomo, Hartono (38), memiliki salah satu warung ini yang bernama Pempek Garuda Putera Asli. Lalu ada dua orang lain membuka warung pempek di jalan yang sama. Kini di jalan itu ada lima warung pempek yang cukup besar. Kekhasan pempek Jalan Garuda, macam pempek sangat beragam. Selama ini pempek yang terkenal di masyarakat hanya pempek kapal selam, lenjeran, ada’an, kulit, dan keriting. Namun, di Jalan Garuda terdapat pula pempek panggang, pempek berisi sosis, pastel (pempek yang diisi daging pepaya muda), tahu, dan sebagainya. ”Setidaknya ada 18 macam pempek di sini,” kata Hartono. Selain beragam jenis pempek, kuah yang disediakan Hartono lebih terasa masam karena berasal dari buah asem. Selain kelas warung, pempek Palembang sejak lama dijual di restoran. Salah satu restoran pempek cukup tua dan berkelas adalah Cawan Putih di Jalan Sabang. Namun, sejak tahun 2000, hadir warung pempek Pak Raden yang cukup fenomenal. Warung dengan 12 cabang di Jakarta, Depok, dan Bandung itu milik Iwan Rifai (33) dan keluarga besarnya. Menurut Iwan, warung pempek Pak Raden berdiri pertama kali di Palembang. ”Nama Raden diambil dari nama kakek, tetapi ditambah ’Pak’ biar lebih mudah disebut,” kata Iwan. Grup Pak Raden memakai ikan gabus sebagai bahan baku pempek karena ikan gabus yang merupakan jenis ikan sungai tak berbau amis. Sementara ada penjual pempek memilih memakai ikan tenggiri sebagai ganti ikan belida (ikan khas Sungai Musi) yang makin sulit dicari. Mau pilih pempek dari tenggiri atau gabus, kembali ke selera masing-masing. Sumber: KOMPAS Foto: http://4.bp.blogspot.com Baca juga BLOG BANGOMANIA Gabung juga di FACEBOOK BANGOMANIA
