Di masa krisis seperti sekarang, word of mouth marketing semakin relevan 
diterapkan untuk memperkenalkan maupun memperkokoh produk/merek Anda: simpel, 
murah, efektif dan berjangka panjang.

Harmanto Edy Djatmiko

Dalam bahasa Inggris, istilah ini memang terdengar angker: word of mouth 
marketing (WOMM). Kalau diindonesiakan, barulah terdengar lebih bersahabat: 
pemasaran dari mulut ke mulut. Lebih adem lagi kalau kita gunakan bahasa 
sehari-hari: getok tular. Inilah jurus pemasaran paling kuno tapi sampai 
sekarang masih banyak yang menerapkan. Hampir semua bisnis kecil mengandalkan 
sukses mereka dengan jurus ini. Warung bakso atau toko kue yang lezat, pijat 
refleksi yang ampuh atau tukang sablon jempolan pastilah mengandalkan pemasaran 
getok tular. Pelanggan yang puas menceritakan biasanya merekomendasikan kepada 
teman-temannya, akhirnya "memprovokasi" mereka untuk membeli. 

Selain simpel dan murah, jurus ini terbukti efektif. Karena, seperti disebutkan 
di atas, setelah direkomendasikan dengan meyakinkan, umumnya diakhiri dengan 
tindakan membeli produk atau jasa. Bukankah, esensi dari semua teori dan 
aktivitas pemasaran bermuara pada tujuan itu? Akan tetapi, meskipun jurus ini 
tampaknya simpel sekali, tidak demikian dalam praktiknya. Syarat yang dituntut 
amat berat. Agar dibicarakan dan direkomendasikan, produk atau jasa yang Anda 
tawarkan harus betul-betul excellent. Artinya, pertama-tama pelanggan harus 
menyukai produk atau jasa Anda. Karena suka, ia menceritakan dan 
merekomendasikan kepada teman-temannya. Nah, setelah membeli, mereka merasa 
bangga menjadi satu bagian dari sebuah keluarga besar pemakai produk atau jasa 
Anda.

Word of mouth (WOM) sendiri didefinisikan sebagai cara penyampaian informasi 
dari orang ke orang. Awalnya, istilah ini secara khusus merujuk pada komunikasi 
oral atau lewat percakapan. Harafiahnya, kata-kata yang keluar dari mulut 
seseorang. Akan tetapi, dalam perkembangannya, bentuk WOM bisa melalui 
komunikasi antarmanusia, seperti hubungan tatap muka, lewat telepon dan SMS, 
serta via e-mail.

Lalu, bagaimana dengan WOMM? Salah satu organisasi yang pertama kali 
mencetuskan dan secara aktif menggunakan istilah ini adalah sebuah perusahaan 
multilevel marketing Australia pada pertengahan 1980-an. Perusahaan ini 
mempromosikan jenis-jenis produk susu alternatif dengan menggunakan metode 
WOMM, antara lain produk susu untuk mengatasi penyakit asma, alergi dan 
jantung. Produk-produk yang diluncurkannya kemudian menjadi topik pembicaraan 
masyarakat, sehingga secara alami promosi bergulir dengan sendirinya, diikuti 
rasa ingin tahu masyarakat dengan mencoba produk tersebut secara langsung 
sehingga mau tak mau membelinya.

Begitulah. Karena sifat alami manusia memang suka menjalin komunikasi satu sama 
lain, maka informasi produk atau jasa yang dikomunikasikan melalui cara WOM 
cenderung lebih dipercaya. Sejumlah riset memang membuktikan, orang cenderung 
lebih percaya pada pemasaran dari mulut ke mulut dibanding metode promosi apa 
pun yang sifatnya lebih formal. Orang yang menerima rekomendasi berdasarkan 
getok tular cenderung lebih yakin bahwa sang pemberi rekomendasi berbicara 
jujur dan tidak ditunggangi motif tersembuyi -- misalnya keyakinan bahwa mereka 
tidak menerima insentif atas informasi yang mereka sampaikan.

Untuk mempromosikan dan mengelola komunikasi WOM, para pemasar umumnya 
menerapkan teknik-teknik publisitas ataupun metode viral marketing untuk 
mencapai respons perilaku yang diharapkan. Itu sebabnya, akhir-akhir ini, 
influencer marketing semakin banyak digunakan untuk menyemaikan benih-benih 
pemasaran dari mulut ke mulut dengan membidik orang-orang kunci yang memiliki 
otoritas dan hubungan personal yang luas.

Belakangan, dengan merebaknya Web 2.0, sejumlah web start-up seperti YouTube, 
Facebook, MySpace dan Digg menggunakan buzz marketing dengan menggabungkannya 
dengan jejaring sosial yang telah mereka kembangkan. Implikasinya, dengan 
meningkatnya penggunaan Internet sebagai paltform riset dan komunikasi, WOMM 
menjadi sumber yang jauh lebih powerful dan bermanfaat bagi konsumen maupun 
pemasar.

Tren mutakhir tersebut tentu saja menjadi kabar baik bagi para pelaku bisnis -- 
baca: pemilik brand -- di negeri ini. Mengapa? Dengan pengamatan sepintas pun 
langsung bisa kita simpulkan, karakteristik orang (baca: konsumen) Indonesia 
relatif lebih suka ngomong dibanding orang dari negara mana pun, apalagi 
dibanding orang-orang Barat. Ini tak lepas dari kuatnya budaya lisan yang 
mengakar kuat pada sebagian besar bangsa Indonesia yang turun-temurun sejak 
ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Kenyataan itu pula yang menyemangati SWA, bekerja sama dengan Octovate 
Consulting Group, menggelar survei untuk mengetahui sejauh mana produk atau 
merek di negeri ini menerapkan WOMM. Untuk tahap awal, responden survei 
mencakup kawasan Jabodetabek, plus empat kota besar di Indonesia yaitu Bandung, 
Surabaya, Medan dan Makassar.

Mengacu pada elemen-elemen yang mendasari konsep ini, ada empat variabel yang 
diukur survei ini: talking(sejauh mana suatu merek dibicarakan konsumen); 
promoting(bagaimana konsumen bersedia mempromosikan merek tersebut); 
selling(bagaimana konsumen mau menjual merek tersebut), serta variabel jejaring 
sosial sebagai pengali dari ketiga variabel tersebut. Dari hasil perkalian 
inilah diperoleh WOMM Indextertinggi. 

Selamat mencermati survei yang amat berharga dan baru pertama kali dilakukan di 
Indonesia ini. Apalagi, di masa krisis seperti sekarang, WOMM tentulah lebih 
relevan sekaligus efektif. Sebab, kita tidak perlu mengeluarkan biaya besar 
untuk memperkenalkan atau memperkokoh produk/merek kita di pasar. Dan, kalau 
strategi WOMM yang kita pilih betul-betul tepat, hasil yang kita petik jauh 
lebih dahsyat dan berjangka panjang dibanding jurus pemasaran mana pun.

Riset: Dian Solihati

Sumber: Majalah Swa


Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia

Kirim email ke