Kuliner Dunia ala Kaki Lima



JAKARTA
| Budaya jajan alias makan di luar bagi warga Jakarta sudah mendarah
daging. Biar kantong tidak jebol, tetapi hobi tersalur dan tetap
kenyang, warung-warung kaki lima adalah solusinya. Apalagi, restoran
kelas emperan itu kini menyajikan beragam masakan internasional dengan
harga ”ramah”.

Bicara soal kuliner dunia, imajinasi langsung
berkembang dan terpaparlah pizza dan spaghetti ala Italia, tak lupa
lasagna dan fetucini. Empuknya daging steak membuat ngiler ketika
disuguhkan dengan kentang goreng renyah. Yang tidak pernah lekang
dimakan zaman tentu saja burger dan hotdog.

Itu saja? Jangan
salah, sekarang tren masakan impor tak terbatas pada makanan dari
Eropa. Lidah orang Jakarta makin akrab dengan masakan Jepang, Thailand,
Malaysia, juga Korea. Menemukan sumber sajian itu tak sulit. Susuri
saja jalanan Jakarta, warung-warung tenda dengan koki-koki pribumi yang
jago meracik masakan impor mudah ditemukan.

Wisata icip-icip
bisa dimulai di Jakarta Pusat, tepatnya di Bubur Ayam Penang di
Pejompongan. Membaca tulisan bubur ayam penang yang tertera di kaca
gerobak, penikmat kuliner tentu berpikir seperti apa rasa bubur ayam
Malaysia ini.

Di semangkuk bubur ayam penang seharga Rp 10.000
terdapat tongcai, seledri, bawang goreng, cakwe, dan kerupuk. Yang
membuatnya berbeda dari bubur ayam biasanya adalah ada sentuhan kecap
asin rasa ikan dan daun ketumbar. Kecap asin rasa ikan menunjukkan
kekhasan masakan melayu. Daun ketumbar mengingatkan kita akan masakan
Thailand. Sedap nian!

Bubur ayam penang memberikan tambahan
kejutan berupa kerupuk pangsit, yang membuat bubur ini terlihat lebih
ramai. Yang cukup membuat mata melek adalah sambal kacangnya… uiiihh…
pedas dan tajam. Jika Anda bukan penggemar makanan pedas, sebaiknya
hindari pemakaian sambal ini.

Menurut Adi, karyawan Bubur Ayam
Penang, walaupun bubur ayam ini baru beroperasi sekitar tiga bulan
lalu, peminatnya sudah mulai banyak. ”Yang pernah datang, sudah kembali
datang lagi. Berarti mereka cocok dengan bubur ayam kami,” kata Adi.

Warung
yang beroperasi di pelataran parkir Butik Muslim Mumtaz, Pejompongan,
ini buka pukul 17.00-24.00. ”Biasanya yang datang itu anak muda. Mereka
makan sore atau malam sekalian. Tetap enak karena buburnya selalu
hangat,” kata Adi.

Warung bubur ini hanya menyediakan bubur ayam
penang sebagai menu makanan. Sementara untuk minuman, mereka
menyediakan teh, kopi, dan jus. Mereka juga menyediakan teh tarik Thai
(Thailand, bukan ala Malaysia).

Selain bubur ayam, santapan yang
juga banyak dikunjungi konsumen, khususnya di malam hari, adalah Steak
Joni di kawasan Krekot, Pasar Baru, masih di Jakarta Pusat. Semula
Steak Joni hanya berupa kaki lima. Namun, karena pengunjungnya cukup
banyak, terutama pada malam Minggu, warung Steak Joni pun makin
diperbesar. Bahkan, telah dibuka cabang Steak Joni yang letaknya tepat
di seberang warung Steak Joni yang sudah ada.

Menu yang
disajikan tidak kalah dengan restoran steak. Ada tenderloin, sirloin,
baik yang impor maupun lokal. Harganya cukup bersaing. Untuk yang impor
sekitar Rp 40.000, sedangkan yang lokal sekitar Rp 27.000. Selain
steak, juga disajikan spaghetti bolognise yang di banderol Rp 17.000
untuk porsi yang cukup mengenyangkan.

Spaghetti sumpit

Masih
ingin mencoba yang lain? Jakarta Selatan menyediakan segudang warung
dengan sajian khasnya, cocok seperti yang diimpikan petualang kuliner.
Di Jalan Wijaya 9, dekat SPBU di kawasan Blok M, Warung Pizza Zull
langsung mencuri perhatian.

Pizza di warung ini memang lebih
kecil ukurannya dibandingkan dengan pizza dari restoran bermerek. Pizza
Zull dipotong enam bagian, terdiri atas roti tebal dan empuk. Taburan
sosis, daging, dan keju penuh menutupi permukaan roti.

Di sini
juga ada yang lucu dan unik, menikmati spaghetti dengan sumpit. Jangan
lupa pesan macaroni panggangnya yang meskipun tidak terlalu creamy,
tetapi lembut. Semua menu dibanderol pada harga rata-rata Rp 12.500.

Tak
jauh dari Warung Pizza Zull, tepatnya di Jalan Panglima Polim Raya,
telah menunggu Warung Cak Ruslan, penyaji masakan Jepang dengan nama
warung yang sangat Jawa, ”Sopo Ngiro”. Di sini, tersedia menu-menu
negeri Sakura, tetapi minus sushi dan tanpa sumpit, cukup pakai sendok
garpu saja.

Di Sopo Ngiro, makanan khas Jepang diolah dengan
bumbu yang disesuaikan lidah orang Indonesia. Jadi, tidak perlu takut
tidak doyan, yang ada justru ingin nambah.

Sama seperti Warung Pizza Zull, Sopo Ngiro Japanese Food juga melayani pesan 
antar dalam radius kurang dari lima kilometer.

Penikmat
masakan Jepang bisa merasakan Yaki mechi (nasi goreng Jepang) dan beef
teriyaki yang menjadi menu khas warung tenda dekat Pasar Blok A ini.
Bagi penggemar daging ayam, di sini tersedia chicken teriyaki dan
chicken yakiniku yang tidak kalah enak dengan makanan cepat saji khas
Jepang yang ada di sejumlah mal atau gedung perkantoran. Tempura dan
yakiniku bisa menjadi pilihan alternatif bagi yang sedang menjalani
program diet.

Dari segi harga dan rasa, warung-warung kaki lima
memang tidak kalah dengan restoran. Namun, dari segi kenyamanan, tentu
jauh. Selain panas dan harus berdesakan dengan pengunjung lain untuk
duduk, pengunjung juga harus menyediakan uang receh untuk pengamen dan
pengemis. Jika enggan menyediakan uang receh, konsumen dipersilakan
memasang wajah ramah, tetapi tegas untuk menolak mereka.

Apabila
pemesanan cukup banyak, beberapa pengunjung harus siap mengalami
pesanan yang tak kunjung datang. Akan tetapi, soal harga memang membuat
pengunjung merasa nyaman. Di warung Cak Ruslan, misalnya, harga per
porsi antara Rp 12.000-Rp 25.000. Minuman, seperti jeruk segar, es teh,
dan minuman ringan, hanya Rp 2.000-Rp 10.000.

Ternyata, menjadi
petualang kuliner dunia memang tidak perlu modal banyak. Coba saja! (M
Clara W, Pascal S Bin Saju, dan Neli triana)

Sumber: KOMPAS
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org


      

Kirim email ke