Bertandang ke Sarang si Gabus



JAKARTA
| Sudah pernah makan ikan gabus? Ikan air tawar yang tampangnya tak
terlalu keren ini dagingnya tebal gurih dan enak. Di tempat ini gabus
diolah dengan aneka bumbu. Gabus pucungnya tampil elegan di panci
berpemanas, mendesis dengan kubangan kuah hitam kecokelatan yang
pedas-pedas gurih!

Ikan gabus merupakan ikan air tawar yang
mudah dipelihara karena senang dengan kolam yang sedikit berlumpur.
Tampangnya yang agak seram karena warnanya hitam kecokelatan dengan
bentuk kepala bulat panjang mirip ular membuatnya dapat julukan sebagai
'snakehead fish' alias ikan kepala ular.

Info tentang si gabus
berikut segala penjelasan lain soal ikan ini dipaparkan di buku menu
resto yang ada di pinggir jalan raya Serpong. Ikan gabus ini dikenal
dengan sebutan ikan kutuk, ikan haruan atau ikan males. Tidak hanya ada
di Indonesia tetapi juga ada di hampir semua negara Asia.

Karena
info dari teman soal si gabus yang dijual di resto ini saya jadi
tergoda untuk membuktikan kelezatan ikan air tawar yang satu ini. Benar
saja di resto ini gabus berwajah ular ini jadi primadona. Tinggal pilih
saja mau dibumbui apa, gabus pucung, gabus goreng tepung, gabus balut
telur asin, asam pedas atau tim. Baru sekali ini saya menenukan
restoran yang menyajikan menu gabus komplet.

Porsi pesanan bisa
disesuaikan dengan ukuran ikan mau 500 gram atau 750 gram. Jadi tak
usah takut kurang atau kebanyakan. Karena ingin menguji kehebatan sang
koki sayapun memesan seporsi gabus pucung plus seporsi tahu nenek
moyang yang kata sang pelayan sangat enak!

Gabus pucung
merupakan salah satu hidangan khas Betawi yang tak banyak lagi dibuat
oleh orang Betawi. Hanya ada beberapa warung Betawi di seputaran
Jakarta yang menyajikan hidangan ini. Ikan gabus goreng disajikan
dengan siraman kuah pucung atau keluak yang pedas gurih. Kebanyakan
orang Betawi mendapat ikan gabus dari empang di halaman rumah bersama
ikan air tawar lainnya.

Setelah menunggu agak lama, datanglah
pelayan dengan panci stainless steel berbentuk oval yang dilengkapi
dengan pemanas. O, la..la..si gabus pucung dengan cantik bertengger di
dalam panci yang kuahnya berdesis bergolak dan menebarkan aroma wangi
gurih yang menggelitik hidung. Terus terang saya sangat salut dengan
penyajian gabus pucung yang sangat elegan dan cantik ini!

Ikan
gabus seberat 500 gram dipotong menjadi beberapa bagian direndam kuah
yang hitam kecokelatan. Saya harus menunggu sejebak sampai asap
kaldunya sedikit mereda. Sekali hirup, terasa sekali kuah pucung ini
diberi bumbu yang royal, ada semburat gurih pedas sedikit asam yang
mantap. Nyaris mirip gabus pucung Haji Nasun yang jadi favorit saya.

Daging
ikan gabusnya cukup tebal,mirip ikan kakap dengan tekstur kenyal lembut
di bagian dalam dan garing di bagian dalam karena digoreng lebih dulu.
Gurih lembut daging gabus ini makin enak setelah disuap bersama kuahnya
yang gurih-gurih pedas. Tentu saja dengan selingan nasi hangat yang
pulen.

Tahu Nenek Moyang yang jadi andalan resto ini ternyata
tak mengecewakan. Empat potong egg tofu berlapis rumput laut digoreng
kering. Dua potong berbentuk segi empat panjang, satu berbentuk hati
dan satu berbentuk segitiga. Kuahnya bening kecokelatan dengan tambahan
irisan jamur, wortel dan daun bawang.

Yang menarik, di bagian
dasar hotplate ini terdapat telur dadar yang lengket menutupi dasar
hotplate. Ini berarti telur kocok dilapiskan saat hotplate masih panas.
Jadi saat disendok, lapisan telur dadar ikut terangkat bersama tofu dan
kuahnya. Rasanya? Hmmmm..sangat gurih dan lembut, lapisan rumput laut
memberi aroma seafood yang sangat wangi. Pantas saja banyak pengunjung
menyukai sajian yang satu ini.

Selain racikan gabus di resto ini
patut diacungi jempol. Buat saya yang paling membanggakan justru ada
orang yang peduli dan berusaha melestarikan hidangan Betawi asli dengan
sajian yang lebih memikat tanpa mengurangi rasa aslinya. Ada satu hal
lain yang saya catat dari info soal si ikan kepala ular ini. Ikan gabus
ternyata mengandung albumin, protein yang penting terutama untuk proses
penyembuhan jika tubuh sedang sakit. Hmm..kalau begitu sungguh enak
bukan, makan ikan gabus yang gurih dan badan makin sehat!

Khasiat
dan sajian special ikan gabus ini ternyata seimbang dengan harga yang
ditawarkan. Untuk ikan gabus, dijual per 500 gram Rp. 52.900.00.
Sedangkan seporsi tahu nenek moyang Rp. 32.000,00. Rasanya tak
berlebihan karena ikan gabus segar harganya cukup mahal. Saypun
berjanji akan kembali ke resto ini untuk mencicipi ikan gabus balut
telur asin yang pasti gurih renyah! (eka/Odi)


Saung Serpong
Jalan Raya Serpong Km.4 No.2 E-F Tangerang
Telpon:021-53127102/53127204

Sumber: detikFood
Jangan lupa mampir ke blog Bangomania di http://bango-mania.blogspot.com




      

Kirim email ke