Kesengsem Tongseng Racikan Pak Naryo



JAKARTA
| Kalau badan sedang kurang prima, mungkin makanan yang satu ini bisa
jadi pengobatnya. Kuahnya kental kecokelatan nyaris mirip jamu Jawa.
Bumbu gule khas Solo terasa nonjok di mulut, daging kambingnya empuk
dan irisan tomat memberi sentuhan segar yang enak. Hmm..dijamin
kemringet!

Tiap kali tekanan darah menurun maka sayapun mulai
mencari hidangan dengan bahan daging kambing untuk menghangatkan badan.
Juga sore itu saat melintasi jalan Bintaro Utama. Tulisan tongseng dan
satai kambing berwarna merah langsung memikat. APalgia da tambahkan pak
Naryo Solo di belakangnya. Maka dengan mantap saya memasuki rumah makan
ini.

Dibandingkan dengan satai kambing, sebenarnya saya lebih
suka tongseng atau gule kambing. Di warung yang sederhana ini memang
satai kambing, gule dan sup kambing yang jadi andalan. Pilihan sayapun
jatuh pada tongseng kambing dan satai kambing. Aroma wangi bumbu gule
dan asap satai yang sedang dibakar beanr-benar wangi gurih menusuk
hidung.

Bicara soal gule Jawa atau gule Solo memang tidak sama
dengan gulai Sumatra. Gule Jawa memakai rempah yang komplet, ada 10
jenis lebih. Mulaid ari kapulaga, klabet, merica, kayu manis, cengkih,
jintan, adas, dan lain-lain. Karenanya bumbu gule warnanya kecokelatan
bukan kemerahan seperti gulai Sumatra.

Pak Naryo masih
mempertahankan cara memasak tradisional. Gule ditaruh dalam periuk
besar yang dipanaskan di atas api arang. Untuk membuat tongseng dan
memanggang satai juga dipakai api arang. Untuk memasak tongseng, juga
dipakai cara Solo. Wajan besi kecil tebal yang sudah lumayan dekil,
dipanaskan di atas api arang.

Tahap pertama irisan bawang merah
dan bawang putih ditumis hingga wangi. Barulah ditambahkan bumbu gule
yang sudah siap pakai, diaduk lalu satai kambingpun diloloskan dari
tusukan bambu. Diaduk dan diguyur kuah gule yang ada di periuk tanah
liat panas-panas. Terakhir barulah diberi irisan tomat dan daun kol
yang langsung diserut dari bongkolnya. Dimasak beberapa saat barulah
dituang ke piring cekung.

Bukan hanya aromanya yang wangi,
tampilan tongsengnya juga berbeda, kuahnya kecokelatan kental, nyaris
mirip jamu Jawa. Wah, karena sudah tergoda saat mengamati tongseng ini
diracik, langsung saya hirup kuahnya. Hmm..benar-benar teras pekat,
tonjokan rempahnya sangat kuat, tidak seperti tongseng lain yang
kuahnya encer. Rasa panas dan hangat langsung menjalari tenggorokan!

Daging
kambingnya empuk, dengan sedikit gumpalan lemak, kol dna tomatnya juga
renyah. Irisan cabai rawit hijau yang diadukd alam tongseng terasa
krenyes-krenyes renyah pedas dan segar. Agaknya pak Naryo tak pelit
dengan bumbu dan rempah. Hasil tonjokan bumbu gulenya langsung terasa,
butiran keringatpun mulai meleleh di dahi dan leher!

Satai
kambing yang disajikan panas mengepul juga tak kalah emmikat. Senagja
saya memesan sate kambing dengan lemak supaya terasa lebih gurih. Satai
kambing ini ditusuk dengan tusukan bambu yang pipih, sedikit lebar dan
ujungnya runcing. Khas satai kambing Solo.

Dgaing kambingnya
empuk, dan lemaknya meleleh dengan aroma gosong yang wangi. Setelah
dicocol kecap manis dan dilahak dengan irisan kol, bawang merah dan
tomat, makin terasa gurih, segar dan sedikit asam. Sebuah kombinasi
yang enak! Buat yang kurang suka daging kambing, pak Naryo juga
menyediakan satai ayam dan tongseng ayam yang sedap.

Soal harga,
sate kambung dan tongseng pak Naryo realtif lebih murah. Seporsi sate
kambing daging atau hati (10 tusuk) Rp. 16.000,00, tongseng kambing Rp.
11.000,00 per porsi dan nasi goreng kambing Rp. 12.000,00 per porsi.
Sepertinya lain kali jika tensi turun, saya harus menyambangi rumah
makan ini lagi! (eka/Odi)

Warung Sate Kambing/Ayam
Tongseng Pak Naryo Solo
Bintaro Utama Raya Sektor 3A No 41 Tangerang
Telpon: 021-71521770

Jl Raya Serpong Km 8 RT 004/02
Tangerang

Sumber: detikFood
Jangan lupa mampir ke blog Bangomania di http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke