Waktu acara kantor awal tahun 2009 aku set dinner disini..untuk acara 
openingnya..abis makan kita ditemanin oleh istri pak gusti joyokusumo..and kita 
juga ditemani tour melihat2 dalem isi rumahnya..banyak barang2 peninggalan 
keraton disana.. Dan rupanya tempat ini nyambung dgn rumah pribadi pak 
gusti..trus skalian dihibur dengan tarian keraton..

Foto2nya ada di FB daku hehehe...

"El" 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "mediacare" <[email protected]>
Date: Fri, 8 Jan 2010 16:45:50 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
warga<[email protected]>; <[email protected]>; Kis 
FM<[email protected]>; Female-Radio<[email protected]>
Subject: [bango-mania] Lezatnya Gurami Lombok Ketok Favorit Raja

Lezatnya Gurami Lombok Ketok Favorit Raja 
Odilia Winneke - detikFood



Hidangan Gadri
Jakarta - Di rumah Gusti Joyokusumo ini bukan hanya suasana keraton Jawa yang  
bisa dinikmati tetapi juga aneka sajian hidangan keraton. Makanan keraton dari 
resep turun temurun ini sangat memikat selera. Dari namanya yang unik hingga 
citarasanya yang penuh pesona. Semuanya hanya bisa dinikmati di sini!

Meskipun sudah agak lama saya tak singgah ke resto yang dikelola oleh GBPH 
Joyokusumo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X ini tetapi suasananya tak jauh 
berubah. Resto bernama Gadri Resto ini ada di kawasan Rotowijayan, sebelah 
barat keraton dan mulai dibuka tahun 1984.

Begitu sampai di pendopo yang luas berlantai marmer, kami langsung disambut 
hangat oleh pelayan. Untuk bersantap bisa memilih di teras luar atau di ruang 
makan bagian dalam. Di depan teras ini ada tempat untuk pertunjukan tari yang 
biasa digelar untuk rombongan tamu.

Segala jenis benda pusaka dipajang di tiap sudut rumah tanpa mengubah tatanan 
seperti rumah umumnya. Ada kurungan ayam yang biasa dipakai untuk upacara 
'tedak sinten' atau turun tanah, segala jenis keramik dinding, peralatan rumah, 
tombak dan beragam hiasan lain yang diatur seperti di rumah biasa. Rumah yang 
berfungsi sebagai resto dan museum ini memang banyak memberikan informasi 
tentang kehidupan keluarga sultan.

Di bagian dalam sebelum sampai ke ruang makan, ada kamar sultan lengkap dengan 
ranjang kuno, kaca hias oval panjang, meja rias marmer yang semua ditata 
layaknya sebuah kamar tidur. Di ruang tengahpun (Peringgitan) dengan furnitur 
jati ditata seperti ruang keluarga lengkap dengan TV plasma berukuran besar. 
Tamupun bisa duduk dan berfoto di lokasi ini.

Ruang makan terletak agak di belakang, ada yang berupa meja panjang dengan 20 
kursi dan ada juga yang berupa meja-meja bundar. Kami memilih duduk di meja 
bundar bersisian dengan seperangkat gamelan kuno bernama Kyai Retno Puspo. Jika 
ada acara khusus maka tamu yang makan akan diiringi dengan live music berupa 
gamelan.

Buku menu yang disodorkan sedikit berubah dari yang dulu. Selain makanan khas 
keraton juga diselipkan berbagai jenis makanan Barat yang populer seperti 
sandwich, spaghetti, steak Seperi sup vermicelli, breaded chicken stick, dan 
penne carbonara. Mungkin menu ini untuk menyesuaikan selera tamu yang datang.

Seporsi nasi blawong, gurami lombok ketok, manuk nom dan wedang secang menjadi 
pilihan kami untuk santap malam. Ada berbagai pilihan menu lainnya seperti 
Urip-urip Gurami, prawan kenes, kapiratu, tapak kucing dan lain-lain. Semuanya 
memakai nama yang unik dan merupakan makanan favorit sultan-sultan Yogyakarta.

Bukan hanya namanya yang unik, pemilihan bahan, pemaduan dan proses 
pemasakannya juga berbeda dengan makanan awam sehingga cita rasanya tentulah 
lebih utama. Inilah yang saya buktikan kembali dengan racikan nasi blawong. 
Racikan nasi plus lauk kegemaran Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan IX ini 
warnanya sedikit kecokelatan, mirip nasi merah.

Di kelilingnya ditata aneka lauk seperti ayam goreng lengkuas, lombok ketok, 
telur dengan sambal plus irisan timun dan tomat. Rasa nasinya yang pulen makin 
enak dengan serpihan rempah, ada jejak bawang putih, kencur, merica dengan 
sentuhan rasa pedas yang  lamat. Lombok kethok yang tak laina dalah oseng cabai 
hijau dan merah besar dengan daging sandung lamur berbumbu kecap terasa pedas 
manis dan gurih.

Tak kalah enaknya ayam lengkuas yang garing dengan serpihan lengkuas dan 
ketumbar yang wangi semerbak. Gurami Lombok Kethok yang kami pesanpun tak 
mengecewakan. Daging ikan gurami disayat tipis lalu dibalut tepung dan digoreng 
kering. Dipadu dengan bumbu cabai merah dan hijau besar dengan kecap manis. 
Gurih, pedas, manis, sebuah paduan rasa yang sedap di lidah.

Rasa pedaspun saya redakan dengan suguhan Manuk Nom yang berwarna hijau kuning 
memikat mata. Dessert ini seperti puding kukus yang terbuat dari tape ketan 
hijau, adonan telur susu dengan rasa legit plus aroma wangi pandan. Cara 
menyantapnya, dengan memakai emping goreng yang disendokkan pada puding  yang 
lembut ini. Hmm... sebuah paduan yang renyah gurih, lembut manis, benar-benar 
sebuah 'ending' yang sempurna!.

Tiupan udara malam yang dingin pun kami usir dengan segelas wedang secang yang 
wangi semerbak, pedas dan menghangatkan badan. Semua resep-resep warisan para 
juru masak keraton ini memang dibukukan dan dicatat secara rapi olah istri 
Gusti Joyokusumo, BrAy. Hj. Nuraida Joyokusumo yang mengelola resto ini. Sebuah 
terobosan baru untuk melestarikan kuliner keraton yang patut dihargai.

Gadri Resto
Jl. Rotowijayan No.5 Kraton, Yogyakarta (sebelah barat Kraton Jogja)
Telepon : (0274) 373520
Yogyakarta
Jam buka : 08.00 - 20.00
Harga : makanan mulai dari Rp. 10.000,00 - Rp. 60.000,00 per porsi

( dev / Odi )

http://food.detik.com/read/2009/12/28/140720/1266982/287/lezatnya-gurami-lombok-ketok-favorit-raja



Facebook:
Radityo Djadjoeri

Kirim email ke