Ramai-ramai Menggandeng Whizer
Pesatnya perkembangan Internet telah melahirkan perubahan cukup dahsyat di 
jagat maya. Situs jejaring sosial--seperti Facebook dan Twitter--yang 
penggilanya dari hari ke hari terus menggunung, belakangan memunculkan sebuah 
fenomena yang sungguh menarik: social media whiz, pegiat aktif media sosial 
dunia maya. 

Fenomena itu lantas memacu perusahaan-perusahaan di sejumlah negara, termasuk 
Indonesia, ramai-ramai menggandeng whizer, demikian sebutan social media whiz, 
untuk mengelola dan menghidupkan account brand mereka. Sejumlah perusahaan di 
negara maju bahkan rela merogoh koceknya hingga ratusan juta rupiah untuk 
membayar seorang whizer-nya. 

Ya, sejak maraknya situs jejaring sosial, berbagai brand terkenal merasa perlu 
menggandeng whizer untuk menyapa konsumennya di jagat maya. Boleh dibilang, 
langkah itu ditempuh demi sejumlah tujuan: pangsa pasarnya bertambah luas, 
citra brand kian kinclong, dan laba perusahaan makin berlipat. 

Suatu hari di ambang Desember 2009. Sebuah pesan mampir di blog pribadi Fany 
Ariasari, http://blog.faniez.net/. Pesan itu datang dari 
http://twitter.com/anakcerdas, milik Pitra Satvika--rekan Fany, 26 tahun, yang 
juga seorang narablog (blogger). 

Isi pesan itu, Pitra menawarkan kepada Fany untuk ikut jalan-jalan dan 
mengikuti workshop ke Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bersama 
sebuah perusahaan vendor PT Acer Indonesia. Selain Fany, Pitra mengajak dua 
narablog lainnya, Aulia Halimatussadiah (www.Ollie's blog.com) dan Wicaksono 
(www.ndorokakung.com). 

Pitra adalah narablog pertama yang dihubungi PT Acer untuk terlibat dalam 
kegiatan perusahaan komputer tersebut. Atas permintaan Acer, Prita--lajang 
lulusan Institut Teknologi Bandung--lantas mengajak tiga rekan blogger lainnya. 
Keempat narablog itu dilibatkan dalam kegiatan workshop Acer bersama beberapa 
jurnalis media cetak dan elektronik. 

Pelibatan narablog seperti Pitra dan rekan-rekannya dalam aktivitas sebuah 
perusahaan dalam mengelola brand-nya bukan yang pertama terjadi sepanjang 2009. 
Sebelumnya, sejumlah perusahaan besar--seperti, AXE, Bask, BlackBerry, Centro, 
Coca-Cola, Microsoft, Nokia, dan Toyota--juga melakukan langkah serupa: 
melibatkan narablog dalam kegiatan bisnisnya. 

Sejak maraknya situs jejaring sosial di jagat maya--seperti Facebook dan 
Twitter--belakangan mulai muncul fenomena social media whiz. Sejumlah 
perusahaan membutuhkan profesi baru yang disebut social media whiz atawa biasa 
dikenal sebagai whizer--pelaku atau pegiat media sosial untuk mengelola account 
brand mereka. Whizer biasanya seorang narablog. Bisa blogger, pengguna 
Facebook, atau pegiat situs jejaring sosial lainnya. Intinya, seseorang yang 
secara aktif berinteraksi di social media. 

Tugas seorang whizer kira-kira begini. Saban hari dia membuka situs jejaring 
sosial (seperti Facebook dan Twitter), menjawab komentar, melempar topik, serta 
memonitor masukan-masukan yang masuk. Lalu, setiap pekan mendiskusikannya 
dengan pemilik brand. Pemilik brand ingin tahu apa saja yang dibicarakan orang 
tentang produk mereka dan bagaimana kemudian menjawabnya, sehingga menciptakan 
citra positif terhadap produk tersebut. 

Menurut Pitra, fenomena whizer tersebut salah satunya didorong oleh kian 
pesatnya pertumbuhan pengguna Internet. Data terakhir hingga Desember 2009, di 
Indonesia pengguna Internet telah mencapai sekitar 25 juta orang. Hampir 
separuhnya adalah pengguna aktif di situs jejaring sosial, seperti Facebook, 
Kaskus, dan Twitter. Sebuah survei menyebutkan, jumlah pengguna Facebook di 
Indonesia menduduki peringkat ketujuh terbesar di dunia. Sebagian besar dari 
pengguna jejaring sosial tersebut, termasuk Facebook, berstatus karyawan dengan 
rentang usia 18-40 tahun. 

Jumlah itu diperkirakan akan terus naik seiring dengan semakin banyaknya 
telepon seluler murah dengan promosi Facebook sebagai andalannya. "Jejaring 
sosial pasti akan jadi semakin popular," ujar Pitra, yang juga menjadi 
interactive communications manager sebuah perusahaan konsultan media online PT 
Strategi Optima, Jakarta, 

Pitra menyatakan, sekitar dua-tiga tahun yang lalu brand-brand selalu membuat 
microsite untuk kampanye aktivitas bisnis mereka di jagat maya, memusatkan 
promosi melalui situs yang dikembangkan sendiri. Promosi dilakukan seluruhnya 
dalam microsite. Kondisi itu sekarang berbalik, bukan masyarakat yang 
mengunjungi microsite sebuah brand, "Tapi brand-brand membuat aplikasi di 
Facebook." 

Setiap brand, tutur Pitra, akan semakin berkreasi memanfaatkan Facebook dan 
situs jejaring sosial lainnya untuk membangun brand dan komunitasnya. 
Percakapan horizontal terus dilakukan dengan memposisikan brand sebagai teman. 

Brand semakin butuh influencer (pemberi pengaruh) di ranah bisnisnya di dunia 
maya. Brand yakin ia tak bisa hidup sendirian di ranah tersebut. Ia butuh teman 
dan komunitas untuk ikut membuat produknya hidup dan dibicarakan di jagat maya. 
"Brand butuh blogger, pengguna Facebook, Twitter, atau Kaskus," Pitra 
menjelaskan. 

Lebih jauh, menurut Prita, peran narablog ikut mempromosikan sebuah produk 
lewat blognya cukup berpengaruh. Review seorang narablog di blognya bisa 
mempengaruhi orang lain. Khususnya seorang blogger yang sudah masuk kategori 
influencer, memiliki banyak pengikut, dan bisa mempengaruhi kawan atau pembaca 
blognya. 

Ketika seorang influencer mengkritik sebuah produk, pembaca akan setuju untuk 
membenci produk tersebut. "Sebaliknya, jika seorang influencer menyenangi 
sebuah produk, dia akan dengan senang hati meracuni pembaca blognya untuk ikut 
menggunakannya," ujar Pitra. 

Lontaran Prita boleh jadi ada benarnya. Setidaknya, ulasan para narablog di 
blognya bisa menjadi pertimbangan brand dalam melakukan strategi promosinya. 
Itu pula yang mendorong langkah Microsoft ketika peluncuran produk Windows 7 
pada Oktober tahun lalu. 

Menurut Business Marketing Organizations PT Microsoft Indonesia Lukman Susetio, 
beberapa hari sebelum launching, pihaknya telah meminta beberapa blogger 
mengulas Windows 7 di blognya masing-masing. Dalam penulisan, Microsoft tak 
melakukan intervensi. Narablog dipersilakan menulis sesuai dengan kenyataan, 
apa adanya. "Ini akan menjadi masukan buat kami," kata Lukman kepada Tempo di 
Jakarta, Selasa lalu. 

Strategi itu terbilang efektif untuk memasarkan produk ketimbang beriklan 
dengan menggunakan media lain. Umumnya narablog menulis dengan jujur, sesuai 
dengan yang mereka alami. Keuntungan lainnya, akan terjadi dialog dua arah, 
antara yang mengulas dan pembaca. Sehingga perusahaan tahu apa keinginan 
masyarakat saat itu. "Ini berbeda dengan ketika beriklan di media cetak, 
komunikasinya hanya satu arah," Lukman menerangkan. 

Perilaku konsumen belakangan juga mulai berubah. Marketing communication 
department sebuah perusahaan online, Astrid Irawati Warsito, menyatakan para 
konsumen sekarang umumnya lebih berpengetahuan, memiliki narasumber dan akses 
ke informasi, vokal, serta memiliki kultur untuk berbagi informasi. "Banyak 
potential buyer kami mencari referensi secara online, melalui milis, Facebook, 
atau Twitter," kata Astrid. 

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Astrid menambahkan, berbagai brand terkenal, 
seperti Acer dan Microsoft, mau tak mau harus membangun kredibilitas dan 
membuka dialog dua arah dengan konsumen lewat situs jejaring sosial di dunia 
maya. 

Dari sisi anggaran, baik Lukman maupun Astrid belum bisa memastikan besarnya 
biaya yang bisa dipangkas dengan berpromosi lewat jejaring sosial. "Namun, itu 
membantu kami mendapatkan reach atau jangkauan dengan biaya rendah," ujar 
Astrid. 

Begitulah. Dalam perkembangannya, tak hanya brand yang gencar menggunakan situs 
jejaring sosial sebagai media promosinya. Belakangan ini sejumlah konsultan 
media online yang menjadi partner instansi pemerintah juga menggunakan situs 
jejaring sosial untuk membangun citra dan mempromosikan kegiatan mereka. 

Konsultan kehumasan Radityo Djadjoeri mengatakan, saat ini dunia kehumasan 
sudah memasuki era Public Relations 2.0, di mana aktivitas media relations-nya 
tak lagi melulu di ranah media tradisional, tapi kini memasuki new media: 
merambah ke berbagai situs jejaring sosial. "Kami langsung menyapa masyarakat 
luas, baik konsumen brand tersebut maupun bukan," kata Radityo. 

Yang pasti, ke depan, social media whiz akan semakin marak. Itu seiring dengan 
kian meningkatnya pengguna Internet di Indonesia, kemudahan akses Internet 
melalui handphone, dan tarif yang kian murah. "Bahkan akses gratis melalui hot 
spot dan wi-fi," Radityo menjelaskan. 

Kondisi itu juga akan memacu kian maraknya profesi whizer di sini. Memang, saat 
ini di Indonesia whizer belum menjadi profesi utama. Pitra dan rekan blogger 
lainnya masih menjadikan profesi ini sebagai sampingan. 

Meski sampingan, profesi itu cukup menambah tebal kantong para narablog 
tersebut. Khususnya ketika mereka mendapat tawaran untuk mengulas sebuah produk 
merek terkenal. Seorang narablog menyatakan, untuk satu kali ulasan, mereka 
mendapat upah sekitar Rp 1-1,5 juta. 

Sebagai perbandingan, di Amerika dan di negara-negara maju lainnya seorang 
whizer yang direkrut khusus oleh sebuah perusahaan mendapat gaji puluhan hingga 
ratusan juta rupiah per bulan. Baru-baru ini sebuah perusahaan wine di Amerika 
membuka lowongan whizer dengan tawaran gaji US$ 10.000 atau sekitar Rp 100 juta 
per bulan. Sungguh menggiurkan.ERWIN DARIYANTO 

----------------------------------------------------

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/01/10/Topik/index.html



Facebook:
Radityo Djadjoeri

Kirim email ke