Gudeg Gudeg tak hanya ada di Yogyakarta, tapi juga di Solo, dan sekitarnya. Kemungkinan besar mulai tersebar di kota-kota tersebut sejak zaman Sultan Agung berkuasa di Mataram.
Bahan utama Gudeg adalah Nangka Muda. Kalau tidak ada Nangka Muda (disebut juga Cecek) yang diolah secara khusus, namanya bukan Gudeg. Misal Telur Pindang, Sambel Goreng Krecek (Kulit), Opor Ayam, Tahu, Tempe Bacem, Areh (santap kental sebagai topping) dan lainnya adalah sekadar lauk pelengkapnya. Sekilas sejarah Gudeg Di zaman dulu kala, salah satu permaisuri Sultan Agung yang bergelar Ratu Wetan berasal dari Batang, Jawa Tengah. Beliau adalah putri Tumenggung Upasanta, Bupati Batang yang masih keturunan penasihat Mataram Ki Juru Martani (kelak salah satu putra mereka yaitu Raden Mas Sayidin meneruskan tahta di kerajaan Mataram dengan gelar Amangkurat I). Di wilayah Batang yang luas banyak tumbuh pohon Nangka. Oleh penduduk setempat Nangka Muda tersebut dimasak sebagai Sayur Lodeh (dicampur Santan) yang berkuah. Sedangkan Nangka matang dimakan sebagaimana layaknya buah-buahan. Saat rombongan Kerajaan Mataram bertandang ke Bupati Batang, mereka menyukai Sayur Lodeh tersebut. Namun saat dibawa ke Mataram yang butuh waktu berhari-hari, ternyata sayurnya basi. Oleh karena itu para juru masak Kraton Mataram berupaya membuat masakan yang bahannya dari Nangka Muda agar tak cepat basi. Mereka juga banyak membawa bibit-bibit pohon Nangka untuk ditanam di kawasan kerajaan. Setelah berbulan-bulan mencoba, akhirnya ditemukanlah Gudeg. Gudeg sendiri terdiri dari 2 macam, yaitu Gudeg Basah dan Gudeg Kering. Untuk hantaran ke kerabat di luar kota, yang ditenteng adalah Gudeg Kering, dimana arehnya dikeringkan, tidak berkuah, dan terpisah dari Gudegnya. Penambahan gula jawa pada proses pembuatan gudeg juga agar makanan itu tidak cepat basi, bisa tahan berhari-hari. Kenapa Gudeg lebih terkenal di Yogya daripada di Solo? Karena pada saat Mataram pecah menjadi dua usai Perjanjian Giyanti yang disokong Belanda, banyak juru masak kraton yang memilih pindah ke Yogyakarta daripada tinggal di Solo. Gudeg menurut WIkipedia Gudeg (bahasa Jawa gudheg) adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan dibumbui dengan kluwek. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek. Ada berbagai varian gudeg, antara lain: a.. Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. b.. Gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. c.. Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna putih. [sunting] Anekdot Penjual gudeg di Surakarta Ada sebuah cerita yang beredar di masyarakat yang mengisukan bahwa warna coklat pada gudeg dihasilkan dari darah ayam yang ditambahkan pada masakan. Mitos ini tidak benar, karena warna coklat dihasilkan dari daun jati.[rujukan?] Facebook: Radityo Djadjoeri ----- Original Message ----- From: sinar baskoro To: [email protected] Sent: Friday, January 15, 2010 8:23 PM Subject: [bango-mania] Mohon bantuan Salam kenal Mohon Bantuan dari para pecinta kuliner nusantara. Saya ingin mengetahui sejarah atau asal-usul makanan atau minuman di bawah; Bir pletok-betawi Gudheg-jogja Rujak Cingur-jatim Lontong balap-surabaya Apakah ada cerita di balik makananan tersebut? Mohon bantuannya Terima kasih salam Sinar Baskoro
<<180px-Penjual_Gudeg.jpg>>
<<magnify-clip.png>>
