Boleh juga tuch mas Radityo, sayang telpnya / Emailnya/ Website Java banana tdk 
tertera.
Saya tertarik juga  untuk liburan anak kesana.
Boleh dong Infonya di tunggu.
Txs sebelumnya
Wassalam
Bambang S. Adrian

--- On Wed, 4/28/10, mediacare <[email protected]> wrote:


From: mediacare <[email protected]>
Subject: [bango-mania] Secangkir kopi di ketinggian 2.000 m
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Wednesday, April 28, 2010, 8:00 AM


  




SORE itu habis hujan di Bromo dan kawasan pegunungan Tengger pada umumnya.Kabut 
melayang-layang mendekati tanah.Dalam hawa yang lumayan dingin, secangkir kopi 
yang disuguhkan di kafe yang merangkap galeri foto sungguh merupakan suatu 
kemewahan.

Di Java Banana, sebuah hotel butik yang tidak jauh dari bibir kaldera 
pegunungan Tengger yang belum beberapa tahun berdiri, secangkir kopi memang 
merupakan suatu kemewahan yang senantiasa tersedia. Secangkir kopi itu pun 
selalu disertai dengan pisang, entah goreng, rebus ataupun bakar, kesemuanya 
selalu disiapkan dengan taburan keju, cokelat ataupun mentega.

Itu pulalah yang mengawali nama hotel tersebut, Java Banana, kombinasi kopi, 
yang dalam bahasa Inggris sering juga disebut “Java”, dengan pisang. Secangkir 
kopi itu pulalah yang membekali kami pada subuh pagi berikutnya. Setelah 
dibangunkan menjelang subuh, menyeruput secangkir kopi sungguh menghangatkan 
tubuh. Di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, meminum kopi di subuh 
itu merupakan sensasi tersendiri.

Pagi itu selain rombongan kami, rombongan turis Belanda juga bersiap menikmati 
pemandangan indah yang disuguhkan di daerah Penanjakan, dataran seluas beberapa 
ratus meter di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. Kami bisa 
menyaksikan terbitnya matahari yang secara pelanpelan menyinari Gunung Batok, 
Kawah Bromo, dan di kejauhan Gunung Semeru yang sekali-sekali melepaskan 
asapnya ke langit biru.

Di dataran inilah para penggemar fotografi banyak menemukan pengalaman 
menakjubkan. Perjalanan kami ke Penanjakan ternyata bersamaan dengan rombongan 
yang menginap di tempat lain, dengan jip Toyota yang menjadi ciri khas daerah 
tersebut, sehingga berjalan beriring-iringan menyeberang lautan pasir dan 
menyisiri punggung gunung layaknya sebuah safari. Kalau awal cerita ini terasa 
puitis, memang sepantasnyalah demikian.

Keindahan Gunung Bromo memang sangat dikenal di seluruh dunia. Bahkan Raffles, 
yang menjadi penguasa Jawa dari Inggris pada tahun 1800-an, juga mengagumi 
keindahan Gunung Bromo dan masyarakat suku Tengger sebagaimana digambarkan 
dalam bukunya The History of Java.Goenawan Mohammad menggambarkan kawasan 
Gunung Bromo sebagai mystical majestic mountain. Itulah sebabnya Bromo menjadi 
bagian yang dikenal dengan “3 B”, yaitu Borobudur, Bromo, dan Bali. Seperti 
sebuah sekuen, satu demi satu, dari barat ke timur.

Di galeri hotel tersebut,kita bisa melihat foto-foto yang sangat indah. 
Foto-foto tersebut tidak hanya menyajikan pemandangan indah, tetapi juga gurat 
wajah para penduduk di perdesaan Tengger tersebut. Penduduk yang umumnya 
beragama Hindu merupakan kelompok masyarakat yang masih memelihara tradisi yang 
telah diwarisi turun-temurun dan senantiasa menjaga harmoni dalam kehidupan 
mereka di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, daya tarik Bromo bukanlah sekadar kawah yang masih aktif 
hingga hari ini,juga kawasan pegunungan Tengger secara keseluruhan dengan 
berbagai keistimewaan serta masyarakatnya. Mereka tampak makmur dengan 
pertanian palawija yang sangat subur memungkinkan memiliki kawasan perumahan 
yang tampak apik. Bahkan populasi jip Toyota yang banyak dipergunakan untuk 
melayani para turis di kawasan tersebut––sekarang ini berjumlah sekitar 
350––jelas bukan suatu tanda kemiskinan.

Di kaldera Tengger, selain Gunung Batok dan Gunung Bromo, kita juga bisa 
menyaksikan dan mengambil gambar hamparan pasir yang menjadi tempat pengambilan 
gambar film Pasir Berbisik.Lebih jauh lagi, kita akan menyaksikan pergantian 
suasana dari lautan pasir menjadi kawasan padang ilalang yang menampilkan bunga 
ungu bak lavender,juga pohon kembang adas kekuningan di kawasan yang dikenal 
sebagai savanna.

Dari kawasan savannatersebut, kita bahkan bisa menyaksikan pemandangan alam 
sangat indah yang terbangun dari formasi bebatuan di dinding yang 
berlapis-lapis antara bebatuan warna hitam kelabu dengan tumbuhan warna hijau 
di antaranya. Jika kita naik ke dataran di atasnya yang merupakan bibir kaldera 
Tengger dari arah lain, kita akan menyaksikan pemandangan yang spektakuler. 
Sayangnya jalannya sangat sempit dan menanjak sangat tinggi sehingga jika kita 
berpapasan dengan kendaraan lain, pengalaman itu bisa saja mempercepat detak 
jantung kita.

Java Banana akhirnya melengkapi keindahan pegunungan Tengger dengan kompleks 
vila dan penginapan yang ditata sangat asri. Bangunan-bangunan yang 
mengombinasikan berbagai corak,tradisional Manado maupun Denmark, yang 
kesemuanya disajikan dalam bentuk minimalis dengan nuansa kayu yang merata di 
banyak bangunan,pada akhirnya bagaikan menyatu dengan bumi pegunungan 
tersebut.Sementara itu,pegunungan yang menjulang tinggi seakan mengelilingi 
kawasan perhotelan tersebut.

Hotel butik Java Banana dikemas dengan kamar-kamar sangat baik. Satu bangunan 
bahkan dipersiapkan sebagai tempat menginap sebuah rombongan dengan tiga kamar 
yang masing-masing berisi bunk bed (tempat tidur bertingkat) yang mampu 
menampung tiga orang sehingga pada akhirnya bangunan yang meniru vila di 
Denmark tersebut mampu menampung sembilan orang.Bangunan tersebut juga 
dipersiapkan dengan kamar tamu,kitchenette, dan kamar mandi yang bisa 
memanjakan rombongan yang menginap.

Hotel tersebut sudah menjadi destinasi wisata para turis di seluruh 
dunia.Mereka bisa mengetahui kehadiran hotel tersebut melalui situs internet. 
Bahkan mereka yang pernah tinggal memberikan testimoni dan juga memberikan 
peringkat untuk hotel tersebut. Sungguh suatu cara promosi modern yang sangat 
efisien.Hotel tersebut juga mampu mengisi kekosongan hotel premium untuk 
kalangan kelas menengah kita.

Kalau di Bali kita bisa mendapatkan butik hotel seperti itu dalam berbagai 
bentuknya, maka bisa dipahami bahwa kebutuhan akan tempat menginap yang mampu 
memanjakan para tamunya sudah banyak tersebar di Pulau Dewata tersebut. Dengan 
kehadiran Java Banana,kekosongan hotel di kelas seperti itu akhirnya terisi. 
Pada akhirnya, kita bisa memperkirakan para turis Jepang, yang sebelumnya 
mungkin menghindari Bromo karena kurangnya fasilitas yang mereka butuhkan, 
bukan tidak mungkin akan datang ke kawasan pegunungan tersebut.

Pada akhirnya, kawasan Gunung Bromo dan pegunungan Tengger pada umumnya 
merupakan suatu kawasan yang nilainya tidak terkira. Itulah sebabnya kita perlu 
memeliharanya sehingga sebanyak mungkin anak cucu kita masih memiliki 
kesempatan untuk menikmati dan menghargainya. Jika para tamu dari 
Eropa,Amerika, Australia,dan Asia lainnya memerlukan waktu untuk mengagumi 
keindahannya, rasanya amat layak jika pemerintah, baik pusat maupun daerah, 
menjadikan kawasan tersebut sebagai alam yang harus dilestarikan.

Sayangnya saya melihat jalan mendaki ke Penanjakan dari laut pasir dalam 
keadaan rusak, tidak terawat, dan sangat berbahaya. Ini sungguh kontras dengan 
kawasan Borobudur dan Bali yang dikelola secara profesional dan dengan sepenuh 
hati. Saya yakin, saya akan datang lagi lain kali menikmati keindahan kawasan 
tersebut dan penduduknya. Karena gunung Bromo ternyata bukan hanya untuk anak 
muda dan yang suka petualangan, Gunung Bromo dapat dinikmati oleh kita semua.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi 

http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 320155/



 
Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare








      

Kirim email ke