Semalam Di Baduy
( untuk foto2 silkan dilihat di www.malncong.com )
Berkunjung ke
Baduy tidak hanya melihat dan memahami keunikan adat istiadatnya, namun
ujian fisik juga harus kita lalui...dan yang lulus akan mencapai Baduy
Dalam.
Perjalanan
ke Baduy kali ini boleh saya katakan sebagai perjalanan dadakan karena
memenuhi salah satu undangan teman perjalanan yang sudah beberapa tahun
tidak bersua, jadi tidak ada persiapan fisik sama sekali. Saya
dan teman-teman lainnya sepakat untuk melakukan perjalanan ini ala
backpacker. Duh...dah lama juga tidak naik angkot dan kereta...ok lah
sepertinya ini perjalanan mengulang masa lalu ketika masih hobi
jalan-jalan dengan modal apa adanya.
Selayang Pandang Baduy
Baduy terletak sekitar 175 kilometer dari Jakarta, 37 kilometer dari
Rangkasbitung, 17 kilometer dari Leuwidamar. Sebelah
barat berbatasan dengan Desa Cikadu, sebelah timur berbatasan dengan
Desa Karang Combong dan Desa Cilebang, sebelah utara berbatasan dengan
Desa Cisimeut Raya-Desa Nayagati dan Desa Bojong Menteng. Jumlah
penduduk sekitar 11 ribu orang, dimana jumlah laki-laki dan perempuan
hampir seimbang dan sekitar 1200-an orang adalah Baduy dalam. Untuk
perkampungan Baduy dibagi menjadi dua yaitu Baduy dalam: desa Cibeo,
desa Cikesik dan desa Cikartawarna; Baduy luar : desa Kaduketug,
Babakan Cipondok, Kaduketug I, Balingbing, Marengo, Gajeboh, Cicakal
lewibuled, Cipaler dan lain-lain.
Asal
usul suku Baduy masih menjadi perdebatan dari berbagai pihak, sehingga
melahirkan beberapa versi yang berbeda satu sama lain. Namun demikian
berdasarkan keterangan dari Ayah Mursyid bahwa orang Baduy bukanlah
pelarian dari Pajajaran dan bukan keturunan dari Prabu Siliwangi. Ayah
Mursyid menyebutkan bahwa, ”Orang Baduy adalah keturunan dari Adam
yakni manusia pertama di muka bumi. Atas kepercayaan ini mereka tetap
mempertahankan ajaran adat istiadat yang telah diwariskan hingga akhir
zaman nanti sebagai bentuk pengabdiannya kepada Sang Khalik yang telah
memberikan rizki untuk manusia di muka bumi. Menurut sejarah
wiwitan yang dipaparkan oleh Ayah Mursyid yaitu, bumi suci yang pertama
adalah yang di atas Allah Yang Maha Kuasa, bumi suci yang kedua adalah
wiwitan bumi suci dan yang ketiga adalah Mekah Madinah.
Keberangkatan
Kring...handphone
saya berbunyi ketika baru beberapa saat saja sampai di Stasiun kereta
api Tanah Abang. Hmm..rupanya saya peserta pertama yang tiba di stasiun
tempat meeting point kami semua. Karena di seberang sana rekan saya
Diana menelpon dan mengatakan sedang on the way ke stasiun. Setelah
membeli tiket kereta Rangkas Jaya, kereta express jurusan Tanah Abang –
Rangkasbitung dengan harga hanya Rp 4 ribu rupiah, saya sempatkan untuk
menikmati pisang goreng sembari menunggu teman-teman yang lain. Ita,
Erna, Diana, Sugeng, Yana dan semua peserta akhirnya kumpul semua pada
jam 7 pagi. Menurut info yang saya dapat sebelumnya, kereta akan
berangkat tepat pukul 7 pagi, namun ternyata kata petugas di lapangan
diinformasikan kalau kereta akan berangkat pukul 8 pagi. Huuu..penonton
kecewa...semua peserta kecewa..dan yang paling kecewa adalah rekan saya
Erna karena harus naik ojek dengan ongkos Rp 30 ribu demi mengejar jam
7 pagi sampai di Stasiun Tanah Abang. Nasib..nasib....semua orang jadi
komplain ke saya.
Sembari
menunggu kereta, kami ngobrol ngobrol sana – sini (maklum, kami teman
lama yg jarang berjumpa). Kemudian kami semua bersiap dengan kereta
Rangkas Jaya di jalur enam yang siap mengantarkan ke Stasiun Rangkas
Bitung. Selama perjalanan masing-masing dari kami istirahat tuk
mengumpulkan tenaga...siap-siap trekking. Satu setengah jam lamanya
kami ”terbang” bersama Rangkas Jaya sebelum akhirnya tiba di Stasiun
Rangkas Bitung. Seperti biasa yang dicari pertama kali oleh teman-teman
saya ketika tiba di stasiun adalah ”toilet”...dan untungnya toilet yang
bersih terletak tak jauh dari stasiun.
Dari stasiun Rangkas Bitung perjalanan dilanjutkan ke Terminal Aweh, untuk
meneruskan perjalanan menggunakan mobil jurusan Ciboleger. Dengan menyewa
angkot dengan tarif Rp 3 ribu rupiah per orang kami berlima belas segera
meluncur menuju Terminal Aweh. Lima
belas menit kemudian Terminal Aweh sudah terlihat di depan mata, tampak
semua tim tidak sabar...segera ingin sampai Ciboleger...tempat memulai
perjalanan ke Baduy luar dan dalam. Setelah
bernegosiasi dengan sopir elf...kami sepakati untuk sewa satu mobil
penuh dengan tarif sewa 300 ribu. Karena elf sudah kami sewa, perkiraan
waktu sampai di Ciboleger ternyata lebih cepat dari yang kami
perkirakan. Biasanya dua jam perjalanan dari Terminal Aweh ke
Ciboleger, namun perjalanan ini bisa dicapai dalam waktu satu jam.
Dibantu juga oleh Mas Salim, ’Sang Sopir Elf” yang sangat piawai
membawa elf untuk berkelok dan menanjak.
Ciboleger
Begitu
sampai di Ciboleger, saya dan teman2 semua langsung menuju warung
sekaligus kediaman Pak Agus ”Bule” atau sebagian orang juga memanggil
”Patrick”...( duh keren banget namanya )... untuk makan siang dan
melakukan segala persiapan sebelum trekking. Pak Agus dengan ramah
menyambut kami semua dan segera menyiapkan makan siang. Nasi putih,
ditambah sambel dan ikan mas menjadi obat lapar kami setelah hampir 5
jam menempuh perjalanan dari Ibu Kota. Kami sempatkan juga berfoto di
depan tugu Ciboleger...sebagai kenang2an buat temen-temen saya yang
ikut ke Baduy. Setelah semuanya selesai, satu per satu kami bersiap,
ada yang berganti celana, berganti sepatu dan lain-lain. Dan rupanya
beberapa orang dari Baduy dalam juga sudah siap menemani perjalanan
kami...teman2 dari Baduy Dalam ini diperbantukan sebagai porter untuk
membawa tas. Berapa biaya porternya...hehehe..rahasia ya...temukan saja
di Ciboleger.
Perjalanan ke Baduy Dalam
Perjalanan
ke Baduy kami mulai tepat pada pukul 13.30 siang hari waktu Indonesia
bagian Ciboleger. Satu per satu kami melangkahkan kaki dengan ditemani
tongkat bambu yang dibeli dengan harga seribu rupiah. Bersama kami Pak
”Agus Bule” dan tiga orang dari Baduy dalam. Yang pertama kami temukan
setelah melewati tugu perbatasan antara bukan Baduy dan Baduy luar
adalah rumah-rumah panggung yang menjual berbagai souvenir khas Baduy.
Ada kain tenun, gelang kayu, gantungan kunci dan lain-lain. Kami semua
menyempatkan melihat setelah sebelumnya melapor tentang keberangkatan
kami ke Baduy Dalam ke Jaro Dainah, Ketua adat Baduy luar.
Tak
saya sangka-sangka dan tak saya duga-duga, ternyata perjalanan awal
kami langsung dihadang dengan tanjakan tajam dengan kemiringan sekitar
35 – 45 derajat dan trek yang lumayan panjang..alah maak. Semuanya tak
terkecuali saya juga dibuat ngos-ngosan..bahkan beberapa diantara kami
yang mempunyai tekanan darah rendah harus berisitirahat sekitar
setengah jam untuk menghilangkan pening kepala setelah melalui tanjakan
ini. Praktis setelah tanjakan ini treking yang kami lalui banyak jalan
datarnya, melalui persawahan penduduk dan akhirnya bertemu dengan danau
indah....bernama Dang Dang Ageng yang artinya Danau yang besar. Memang
indah danaunya...sebuah danau yang terletak di lembah dengan untaian
hutan lebat di sekelilingnya. Beberapa orang terlihat sedang memancing
dan mencari ikan ketika kami melintas disana....woww...cantik sekali.
Puas
menikmati Dang Dang Ageng perjalanan dilanjutkan ke Kampung Kaduketer.
Ujian kedua kami lalui..karena tanjakan dan turunan tajam mulai
menghadang kami semua. Satu per satu rombongan mulai terpisah....yang
kuat yang menang..he.he..maksudnya yang kuat yang jalan duluan. Kaki
sudah mulai terasa kaku dan dengkul sudah sedikit terasa
ngilu...”apakah sudah mengalami osteoporosis ya” ? hehehe. Rasa capai
kami sedikit terobati ketika memasuki Kampung Kaduketer. Perkampungan
khas Baduy dengan rumah panggungnya yang terletak secara berundak-undak
yang membuat terlihat sangat eksotik. Inilah salah satu eksotisnya
Baduy...!
Puas
melihat keindahan Kampung Kaduketer perjalanan dilanjutkan terus untuk
menuju Desa Cibeo-Baduy Dalam. Tenaga kami mulai habis ketika memasuki
perbatasan antara Baduy luar dan Baduy Dalam. Betul-betul perjalanan
yang luar biasa setelah hampir 5 tahun tidak melakukan trekking di
gunung. Ketika rasa hampir patah semangat mulai menggelayuti
kami..rekan-rekan dari Baduy Dalam terus menyemangati kami semua. ”Ayo
sudah deket kok,” tutur Yuli salah satu rekan dari Baduy Dalam yang
cukup lancar berbahasa Indonesia.
Pucuk
dicinta ulam pun tiba..turunan Pagelaran yang super curam sebagai
turunan terakhir sebelum mencapai Baduy dalam di depan mata...duh
jalurnya mengerikan,” Gumam kami semua”. Dengan dengkul yang sedikit
nyeri langkah demi langkah kami lalui dengan sangat hati-hati agar
tidak terpeleset. Tak jauh dari turunan Pagelaran...samar-samar
terlihat atap ijuk yang berwarna hitam. Horee....beberapa dintara kami
berteriak..”Sampai juga di Desa Cibeo”. Sebuah jembatan bambu terlihat
membentang di atas sungai seakan mengucapakan selamat datang kepada kami semua.
Dan
setelah melangkah melalui jembatan tersebut, kami semua betul-betul
sudah berada di Baduy Dalam. Rumah-rumah panggung yang dengan bentuk
yang sama terletak berdekatan yang berjumlah 98 buah, ”Bagaikan berada
di planet lain,”. Beberapa perempuan dan anak-anak melihat kami dengan
pandangan yang heran dan ingin tahu...duh benar-benar seperti berada di
planet lain. Rumah Pak Ardi, begitu beliau mempekenalkan namanya adalah
tempat kami menginap malam itu. Setelah meletakkan semua
tas dan istirahat beberapa saat...saatnya mandi di sungai. Yap...mandi
tanpa sabun, tanpa shampo dan tanpa odol...karena memang sesuai dengan
adat, siapapun orangnya tidak diperbolehkan memakai barang-barang
tersebut selama berada di Baduy Dalam. Arti secara ilmiah menurut saya
pribadi adalah tidak diperbolehkan adanya pencemaran di Baduy Dalam,
adat betul-betul ingin menjaga keaslian dan kemurnian alam yang ada.
Di Cibeo
Malam
segera merambat, gelap gulita pun merayap seiring dengan berjalannya
waktu. Bahkan ketika kami ngobrol di teras rumah pun lawan bicara tak
kelihatan sama sekali...gelap sekali. Sementara kami ngobrol, Pak Agus
menyiapkan menu makanan malam itu, dan kurang lebih pukul 19.15 malam
kami semua makan bersama di beranda rumah Pak Ardi. Ehm..nyaman dan
unik makan di tengah keremangan lilin dan lampu teplok. Selesai makan
malam langsung dilanjutkan dengan ramah tamah dengan Putra Puun Cibeo
yaitu Pak Mursyid. Seorang yang telah berumur namun belum terlihat tua
dengan tinggi di atas rata-rata orang Cibeo dan sorot mata yang tajam
tampak duduk di depan kami.
Kami
semua terdiam sebelum akhirnya pembicaraan dibuka oleh Pak Agus dengan
beberapa kalimat pembuka dan memperkenalkan secara pendek tentang Ayah
Mursyid. Ketika Ayah Mursyid mulai berbicara, gaya dan cara
berbicaranya yang sangat tenang mengisyaratkan bahwa beliau mempunyai
kewibawaan yang cukup tinggi. Banyak sekali hal yang diulas malam itu
dan dilanjutkan dengan tanya jawab diantara kami. Beberapa hal penting
yang bisa saya sampaikan adalah; tentang arah (Qiblat) masyarakat Cibeo
adalah selatan. Kenapa selatan? karena selatan dipercaya sebagai arah
yang baik oleh pemangku adat. Tentang asal mula keberadaan suku Badui,
Pak Mursyid mengatakan ”wiwitan" (mulainya) itu ada hitungannya dan
perlu waktu satu minggu untuk menjelaskannya,”. Hal lain yaitu tentang
larangan orang Baduy Dalam untuk naik kendaraan jenis apapun, tidak
boleh memakai sandal, tidak boleh merokok dan masih banyak lagi yang
diceritakan malam itu. Karena asyiknya pembicaraan diantara kami, tak
terasa waktu sudah larut malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10
malam. Dan diskusi malam itu pun harus diakhiri dengan menyisakan tanda
tanya di hati kami masing-masing.
Hampir
serentak kami semua mengambil posisi tempat tidur masing-masing. Karena
terlalu capai kami semua kurang begitu nyenyak tidur malam itu. Apalagi
pada pukul 4 pagi alunan musik pagi yang begitu menderu-deru, dengan
alunan yang teratur dan menggetarkan hati. Rupanya Ibu-Ibu Baduy mulai
menumbuk padi dalam rangka upacara pernikahan yang akan diadakan empat
hari lagi. Sungguh suatu pemandangan yang indah..dari kejauhan terlihat
api yang menyala diiringi dengan bayangan-bayangan gerakan
perempuan...wuuh...sunguh tak dapat dipercaya bisa melihat pemandangan
seperti ini.
Kami semua akhirnya memutuskan untuk menikmati sisa pagi yang ada sembari
ngobrol di Beranda. Matahari
pagi pun pelan-pelan muncul dengan sinarnya yang menembus Baduy Dalam.
Dan Pak Agus segera memanggil kami semua, ” makan pagi sudah siap”
sedaap..nasi goreng dan telur ceplok menemani makan pagi kami. Selesai
makan dan beres-beres..tiba waktunya untuk segera meninggalkan Baduy
Dalam. Sebetulnya kami masih ingin berlam-lama, tapi beberapa teman
kami masih banyak keperluan lainnya sehingga pagi-pagi sekali sudah
harus meninggalkan Desa Cibeo.
Perjalanan Pulang Kami
semua berpamitan dengan Pak Ardi dan beberapa penduduk Baduy lainnya
yang melepas kepergian kami. Anak-anak kecil banyak yang berdiri dan
mengiringi kami semua...tak lupa kami berikan kenang-kenangan kepada
anak-anak kecil tersebut, baik berupa makanan ataupun uang ala
kadarnya. Langkah pun kami ayunkan secara pasti menuju Ciboleger
melalui jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatan.
Pagi
itu cuaca sekitar Baduy masih berkabut, dari atas lembah-lembah
terlihat kabut, memancarkan misteri yang tak pernah bisa terpecahkan.
Sayang seribu sayang, keindahan-keindahan tersebut tidak bisa kami
abadikan karena adanya larangan adat untuk tidak boleh memfoto apapun
di Baduy Dalam. Beberapa menit kemudian kami bertemu dengan turunan
maut, saya sebut sebagai turunan maut atau turunan Tambayang karena
kemiringannya lebih dari 45 derajat dan lumayan panjang, mungkin
sekitar 500 meteran. Sukar dipercaya...sukar dipercaya..dalam hati saya
bergumam,” uar biasa kekuatan orang Badui...tiap hari sanggup melewati
turunan seperti ini,”.
Berhasil
melewati turunan Tambayang, sampailah kami di jembatan bambu yang
membatasi antara Baduy Dalam dan Baduy Luar. Jalanan mulai lumayan
enak, turun-naik namun tidak begitu curam. Beberapa saat kemudian
sampailah kami di kampung Cicakal, dan kami sempatkan untuk
beristirahat sebentar.
Perjalanan
kami lanjutkan dan setelah menyusuri sungai sampailah di jembatan
Gajeboh, jembatan favorit (untuk di foto) para wisatawan yang
berkunjung ke Baduy. Boleh dikatakan belum berkunjung ke Baduy kalau
tidak ke Gajeboh. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat
ditolak..persis setelah melewati jembatan Gajeboh hujan deras mengguyur
dan memaksa kami untuk beristirahat di Kampung Gajeboh. Setengah jam
lamanya kami menunggu hujan reda, dan semakin ditunggu hujan malah
semakin besar. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan
menembus hujan.
Satu
per satu kampung-kampung Baduy luar kami lalui di tengah derasnya
hujan, Kampung Marengo, Kampung Balingbing dan akhirnya sampailah di
tanjakan terakhir sebelum Ciboleger. Tanjakan maut yang bernama
tanjakan Balingbing dengan kemiringan sekitar 40 derajat dengan panjang
500 meter lebih...ngelihatnya dari bawah saja dah
ogah-ogahan....terpaksa harus lewat tanjakan Balingbing karena tidak
ada jalan lain untuk sampai di Ciboleger. Setelah tanjakan Balingbing
selesai, ibarat perjuangan sudah selesai karena praktis tidak ada medan
yang berat lagi. Melewati
Kampung Cipondoh, Kampung Kaduketeg Babakan sebelum akhirnya sampai di
Ciboleger. Ibarat telah memenangkan pertempuran ketika kami
menginjakkan kaki di parkiran mobil Ciboleger...hampir 5 jam lamanya
perjalanan pulang kami dari Cibeo sampai dengan Ciboleger di tengah
guyuran hujan yang sangat deras. Kembali kami semua makan siang di
tempat ”Pak Agus Bule” sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Sebuah
Perjalanan yang mengesankan....
By : AMGD