Ya Pak Hapid..ke Baduy dalam memang perlu perjuangan.. Tapi asyik kok..
Nanti kalau mau jalan lagi diinfo Salam wisata, AMGD YM : [email protected] FB : [email protected] www.mlancong.com-Indahnya Indonesia --- On Wed, 5/19/10, Hapid M <[email protected]> wrote: From: Hapid M <[email protected]> Subject: Re: [bango-mania] Semalam di Baduy To: [email protected] Date: Wednesday, May 19, 2010, 12:31 AM Alamak ngiri kali awak, Aku ini orang pandeglang tapi tak pernah kesana. insya alloh aku ingin kesana. Kalau ke baduy lagi undang undang ya bos. Salam hangat, Hapid Mansur pemilik Kedai Mamak masakan medan melayu From: Akhmad Masun <amgd...@yahoo. com> Sent: Tue, May 18, 2010 10:52:52 AM Subject: [bango-mania] Semalam di Baduy Semalam Di Baduy ( untuk foto2 silkan dilihat di www.malncong. com ) Berkunjung ke Baduy tidak hanya melihat dan memahami keunikan adat istiadatnya, namun ujian fisik juga harus kita lalui...dan yang lulus akan mencapai Baduy Dalam. Perjalanan ke Baduy kali ini boleh saya katakan sebagai perjalanan dadakan karena memenuhi salah satu undangan teman perjalanan yang sudah beberapa tahun tidak bersua, jadi tidak ada persiapan fisik sama sekali. Saya dan teman-teman lainnya sepakat untuk melakukan perjalanan ini ala backpacker. Duh...dah lama juga tidak naik angkot dan kereta...ok lah sepertinya ini perjalanan mengulang masa lalu ketika masih hobi jalan-jalan dengan modal apa adanya. Selayang Pandang Baduy Baduy terletak sekitar 175 kilometer dari Jakarta, 37 kilometer dari Rangkasbitung, 17 kilometer dari Leuwidamar. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Cikadu, sebelah timur berbatasan dengan Desa Karang Combong dan Desa Cilebang, sebelah utara berbatasan dengan Desa Cisimeut Raya-Desa Nayagati dan Desa Bojong Menteng. Jumlah penduduk sekitar 11 ribu orang, dimana jumlah laki-laki dan perempuan hampir seimbang dan sekitar 1200-an orang adalah Baduy dalam. Untuk perkampungan Baduy dibagi menjadi dua yaitu Baduy dalam: desa Cibeo, desa Cikesik dan desa Cikartawarna; Baduy luar : desa Kaduketug, Babakan Cipondok, Kaduketug I, Balingbing, Marengo, Gajeboh, Cicakal lewibuled, Cipaler dan lain-lain. Asal usul suku Baduy masih menjadi perdebatan dari berbagai pihak, sehingga melahirkan beberapa versi yang berbeda satu sama lain. Namun demikian berdasarkan keterangan dari Ayah Mursyid bahwa orang Baduy bukanlah pelarian dari Pajajaran dan bukan keturunan dari Prabu Siliwangi. Ayah Mursyid menyebutkan bahwa, ”Orang Baduy adalah keturunan dari Adam yakni manusia pertama di muka bumi. Atas kepercayaan ini mereka tetap mempertahankan ajaran adat istiadat yang telah diwariskan hingga akhir zaman nanti sebagai bentuk pengabdiannya kepada Sang Khalik yang telah memberikan rizki untuk manusia di muka bumi. Menurut sejarah wiwitan yang dipaparkan oleh Ayah Mursyid yaitu, bumi suci yang pertama adalah yang di atas Allah Yang Maha Kuasa, bumi suci yang kedua adalah wiwitan bumi suci dan yang ketiga adalah Mekah Madinah. Keberangkatan Kring...handphone saya berbunyi ketika baru beberapa saat saja sampai di Stasiun kereta api Tanah Abang. Hmm..rupanya saya peserta pertama yang tiba di stasiun tempat meeting point kami semua. Karena di seberang sana rekan saya Diana menelpon dan mengatakan sedang on the way ke stasiun. Setelah membeli tiket kereta Rangkas Jaya, kereta express jurusan Tanah Abang – Rangkasbitung dengan harga hanya Rp 4 ribu rupiah, saya sempatkan untuk menikmati pisang goreng sembari menunggu teman-teman yang lain. Ita, Erna, Diana, Sugeng, Yana dan semua peserta akhirnya kumpul semua pada jam 7 pagi. Menurut info yang saya dapat sebelumnya, kereta akan berangkat tepat pukul 7 pagi, namun ternyata kata petugas di lapangan diinformasikan kalau kereta akan berangkat pukul 8 pagi. Huuu..penonton kecewa...semua peserta kecewa..dan yang paling kecewa adalah rekan saya Erna karena harus naik ojek dengan ongkos Rp 30 ribu demi mengejar jam 7 pagi sampai di Stasiun Tanah Abang. Nasib..nasib. ...semua orang jadi komplain ke saya. Sembari menunggu kereta, kami ngobrol ngobrol sana – sini (maklum, kami teman lama yg jarang berjumpa). Kemudian kami semua bersiap dengan kereta Rangkas Jaya di jalur enam yang siap mengantarkan ke Stasiun Rangkas Bitung. Selama perjalanan masing-masing dari kami istirahat tuk mengumpulkan tenaga...siap- siap trekking. Satu setengah jam lamanya kami ”terbang” bersama Rangkas Jaya sebelum akhirnya tiba di Stasiun Rangkas Bitung. Seperti biasa yang dicari pertama kali oleh teman-teman saya ketika tiba di stasiun adalah ”toilet”...dan untungnya toilet yang bersih terletak tak jauh dari stasiun. Dari stasiun Rangkas Bitung perjalanan dilanjutkan ke Terminal Aweh, untuk meneruskan perjalanan menggunakan mobil jurusan Ciboleger. Dengan menyewa angkot dengan tarif Rp 3 ribu rupiah per orang kami berlima belas segera meluncur menuju Terminal Aweh. Lima belas menit kemudian Terminal Aweh sudah terlihat di depan mata, tampak semua tim tidak sabar...segera ingin sampai Ciboleger... tempat memulai perjalanan ke Baduy luar dan dalam. Setelah bernegosiasi dengan sopir elf...kami sepakati untuk sewa satu mobil penuh dengan tarif sewa 300 ribu. Karena elf sudah kami sewa, perkiraan waktu sampai di Ciboleger ternyata lebih cepat dari yang kami perkirakan. Biasanya dua jam perjalanan dari Terminal Aweh ke Ciboleger, namun perjalanan ini bisa dicapai dalam waktu satu jam. Dibantu juga oleh Mas Salim, ’Sang Sopir Elf” yang sangat piawai membawa elf untuk berkelok dan menanjak. Ciboleger Begitu sampai di Ciboleger, saya dan teman2 semua langsung menuju warung sekaligus kediaman Pak Agus ”Bule” atau sebagian orang juga memanggil ”Patrick”...( duh keren banget namanya )... untuk makan siang dan melakukan segala persiapan sebelum trekking. Pak Agus dengan ramah menyambut kami semua dan segera menyiapkan makan siang. Nasi putih, ditambah sambel dan ikan mas menjadi obat lapar kami setelah hampir 5 jam menempuh perjalanan dari Ibu Kota. Kami sempatkan juga berfoto di depan tugu Ciboleger... sebagai kenang2an buat temen-temen saya yang ikut ke Baduy. Setelah semuanya selesai, satu per satu kami bersiap, ada yang berganti celana, berganti sepatu dan lain-lain. Dan rupanya beberapa orang dari Baduy dalam juga sudah siap menemani perjalanan kami...teman2 dari Baduy Dalam ini diperbantukan sebagai porter untuk membawa tas. Berapa biaya porternya... hehehe..rahasia ya...temukan saja di Ciboleger. Perjalanan ke Baduy Dalam Perjalanan ke Baduy kami mulai tepat pada pukul 13.30 siang hari waktu Indonesia bagian Ciboleger. Satu per satu kami melangkahkan kaki dengan ditemani tongkat bambu yang dibeli dengan harga seribu rupiah. Bersama kami Pak ”Agus Bule” dan tiga orang dari Baduy dalam. Yang pertama kami temukan setelah melewati tugu perbatasan antara bukan Baduy dan Baduy luar adalah rumah-rumah panggung yang menjual berbagai souvenir khas Baduy. Ada kain tenun, gelang kayu, gantungan kunci dan lain-lain. Kami semua menyempatkan melihat setelah sebelumnya melapor tentang keberangkatan kami ke Baduy Dalam ke Jaro Dainah, Ketua adat Baduy luar. Tak saya sangka-sangka dan tak saya duga-duga, ternyata perjalanan awal kami langsung dihadang dengan tanjakan tajam dengan kemiringan sekitar 35 – 45 derajat dan trek yang lumayan panjang..alah maak. Semuanya tak terkecuali saya juga dibuat ngos-ngosan. .bahkan beberapa diantara kami yang mempunyai tekanan darah rendah harus berisitirahat sekitar setengah jam untuk menghilangkan pening kepala setelah melalui tanjakan ini. Praktis setelah tanjakan ini treking yang kami lalui banyak jalan datarnya, melalui persawahan penduduk dan akhirnya bertemu dengan danau indah....bernama Dang Dang Ageng yang artinya Danau yang besar. Memang indah danaunya...sebuah danau yang terletak di lembah dengan untaian hutan lebat di sekelilingnya. Beberapa orang terlihat sedang memancing dan mencari ikan ketika kami melintas disana....woww. ..cantik sekali. Puas menikmati Dang Dang Ageng perjalanan dilanjutkan ke Kampung Kaduketer. Ujian kedua kami lalui..karena tanjakan dan turunan tajam mulai menghadang kami semua. Satu per satu rombongan mulai terpisah.... yang kuat yang menang..he.he. .maksudnya yang kuat yang jalan duluan. Kaki sudah mulai terasa kaku dan dengkul sudah sedikit terasa ngilu...”apakah sudah mengalami osteoporosis ya” ? hehehe. Rasa capai kami sedikit terobati ketika memasuki Kampung Kaduketer. Perkampungan khas Baduy dengan rumah panggungnya yang terletak secara berundak-undak yang membuat terlihat sangat eksotik. Inilah salah satu eksotisnya Baduy...! Puas melihat keindahan Kampung Kaduketer perjalanan dilanjutkan terus untuk menuju Desa Cibeo-Baduy Dalam. Tenaga kami mulai habis ketika memasuki perbatasan antara Baduy luar dan Baduy Dalam. Betul-betul perjalanan yang luar biasa setelah hampir 5 tahun tidak melakukan trekking di gunung. Ketika rasa hampir patah semangat mulai menggelayuti kami..rekan- rekan dari Baduy Dalam terus menyemangati kami semua. ”Ayo sudah deket kok,” tutur Yuli salah satu rekan dari Baduy Dalam yang cukup lancar berbahasa Indonesia. Pucuk dicinta ulam pun tiba..turunan Pagelaran yang super curam sebagai turunan terakhir sebelum mencapai Baduy dalam di depan mata...duh jalurnya mengerikan,” Gumam kami semua”. Dengan dengkul yang sedikit nyeri langkah demi langkah kami lalui dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset. Tak jauh dari turunan Pagelaran... samar-samar terlihat atap ijuk yang berwarna hitam. Horee....beberapa dintara kami berteriak..”Sampai juga di Desa Cibeo”. Sebuah jembatan bambu terlihat membentang di atas sungai seakan mengucapakan selamat datang kepada kami semua. Dan setelah melangkah melalui jembatan tersebut, kami semua betul-betul sudah berada di Baduy Dalam. Rumah-rumah panggung yang dengan bentuk yang sama terletak berdekatan yang berjumlah 98 buah, ”Bagaikan berada di planet lain,”. Beberapa perempuan dan anak-anak melihat kami dengan pandangan yang heran dan ingin tahu...duh benar-benar seperti berada di planet lain. Rumah Pak Ardi, begitu beliau mempekenalkan namanya adalah tempat kami menginap malam itu. Setelah meletakkan semua tas dan istirahat beberapa saat...saatnya mandi di sungai. Yap...mandi tanpa sabun, tanpa shampo dan tanpa odol...karena memang sesuai dengan adat, siapapun orangnya tidak diperbolehkan memakai barang-barang tersebut selama berada di Baduy Dalam. Arti secara ilmiah menurut saya pribadi adalah tidak diperbolehkan adanya pencemaran di Baduy Dalam, adat betul-betul ingin menjaga keaslian dan kemurnian alam yang ada. Di Cibeo Malam segera merambat, gelap gulita pun merayap seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan ketika kami ngobrol di teras rumah pun lawan bicara tak kelihatan sama sekali...gelap sekali. Sementara kami ngobrol, Pak Agus menyiapkan menu makanan malam itu, dan kurang lebih pukul 19.15 malam kami semua makan bersama di beranda rumah Pak Ardi. Ehm..nyaman dan unik makan di tengah keremangan lilin dan lampu teplok. Selesai makan malam langsung dilanjutkan dengan ramah tamah dengan Putra Puun Cibeo yaitu Pak Mursyid. Seorang yang telah berumur namun belum terlihat tua dengan tinggi di atas rata-rata orang Cibeo dan sorot mata yang tajam tampak duduk di depan kami. Kami semua terdiam sebelum akhirnya pembicaraan dibuka oleh Pak Agus dengan beberapa kalimat pembuka dan memperkenalkan secara pendek tentang Ayah Mursyid. Ketika Ayah Mursyid mulai berbicara, gaya dan cara berbicaranya yang sangat tenang mengisyaratkan bahwa beliau mempunyai kewibawaan yang cukup tinggi. Banyak sekali hal yang diulas malam itu dan dilanjutkan dengan tanya jawab diantara kami. Beberapa hal penting yang bisa saya sampaikan adalah; tentang arah (Qiblat) masyarakat Cibeo adalah selatan. Kenapa selatan? karena selatan dipercaya sebagai arah yang baik oleh pemangku adat. Tentang asal mula keberadaan suku Badui, Pak Mursyid mengatakan ”wiwitan" (mulainya) itu ada hitungannya dan perlu waktu satu minggu untuk menjelaskannya,”. Hal lain yaitu tentang larangan orang Baduy Dalam untuk naik kendaraan jenis apapun, tidak boleh memakai sandal, tidak boleh merokok dan masih banyak lagi yang diceritakan malam itu. Karena asyiknya pembicaraan diantara kami, tak terasa waktu sudah larut malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan diskusi malam itu pun harus diakhiri dengan menyisakan tanda tanya di hati kami masing-masing. Hampir serentak kami semua mengambil posisi tempat tidur masing-masing. Karena terlalu capai kami semua kurang begitu nyenyak tidur malam itu. Apalagi pada pukul 4 pagi alunan musik pagi yang begitu menderu-deru, dengan alunan yang teratur dan menggetarkan hati. Rupanya Ibu-Ibu Baduy mulai menumbuk padi dalam rangka upacara pernikahan yang akan diadakan empat hari lagi. Sungguh suatu pemandangan yang indah..dari kejauhan terlihat api yang menyala diiringi dengan bayangan-bayangan gerakan perempuan... wuuh...sunguh tak dapat dipercaya bisa melihat pemandangan seperti ini. Kami semua akhirnya memutuskan untuk menikmati sisa pagi yang ada sembari ngobrol di Beranda. Matahari pagi pun pelan-pelan muncul dengan sinarnya yang menembus Baduy Dalam. Dan Pak Agus segera memanggil kami semua, ” makan pagi sudah siap” sedaap..nasi goreng dan telur ceplok menemani makan pagi kami. Selesai makan dan beres-beres. .tiba waktunya untuk segera meninggalkan Baduy Dalam. Sebetulnya kami masih ingin berlam-lama, tapi beberapa teman kami masih banyak keperluan lainnya sehingga pagi-pagi sekali sudah harus meninggalkan Desa Cibeo. Perjalanan Pulang Kami semua berpamitan dengan Pak Ardi dan beberapa penduduk Baduy lainnya yang melepas kepergian kami. Anak-anak kecil banyak yang berdiri dan mengiringi kami semua...tak lupa kami berikan kenang-kenangan kepada anak-anak kecil tersebut, baik berupa makanan ataupun uang ala kadarnya. Langkah pun kami ayunkan secara pasti menuju Ciboleger melalui jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatan. Pagi itu cuaca sekitar Baduy masih berkabut, dari atas lembah-lembah terlihat kabut, memancarkan misteri yang tak pernah bisa terpecahkan. Sayang seribu sayang, keindahan-keindahan tersebut tidak bisa kami abadikan karena adanya larangan adat untuk tidak boleh memfoto apapun di Baduy Dalam. Beberapa menit kemudian kami bertemu dengan turunan maut, saya sebut sebagai turunan maut atau turunan Tambayang karena kemiringannya lebih dari 45 derajat dan lumayan panjang, mungkin sekitar 500 meteran. Sukar dipercaya... sukar dipercaya..dalam hati saya bergumam,” uar biasa kekuatan orang Badui...tiap hari sanggup melewati turunan seperti ini,”. Berhasil melewati turunan Tambayang, sampailah kami di jembatan bambu yang membatasi antara Baduy Dalam dan Baduy Luar. Jalanan mulai lumayan enak, turun-naik namun tidak begitu curam. Beberapa saat kemudian sampailah kami di kampung Cicakal, dan kami sempatkan untuk beristirahat sebentar. Perjalanan kami lanjutkan dan setelah menyusuri sungai sampailah di jembatan Gajeboh, jembatan favorit (untuk di foto) para wisatawan yang berkunjung ke Baduy. Boleh dikatakan belum berkunjung ke Baduy kalau tidak ke Gajeboh. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak..persis setelah melewati jembatan Gajeboh hujan deras mengguyur dan memaksa kami untuk beristirahat di Kampung Gajeboh. Setengah jam lamanya kami menunggu hujan reda, dan semakin ditunggu hujan malah semakin besar. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menembus hujan. Satu per satu kampung-kampung Baduy luar kami lalui di tengah derasnya hujan, Kampung Marengo, Kampung Balingbing dan akhirnya sampailah di tanjakan terakhir sebelum Ciboleger. Tanjakan maut yang bernama tanjakan Balingbing dengan kemiringan sekitar 40 derajat dengan panjang 500 meter lebih...ngelihatnya dari bawah saja dah ogah-ogahan. ...terpaksa harus lewat tanjakan Balingbing karena tidak ada jalan lain untuk sampai di Ciboleger. Setelah tanjakan Balingbing selesai, ibarat perjuangan sudah selesai karena praktis tidak ada medan yang berat lagi. Melewati Kampung Cipondoh, Kampung Kaduketeg Babakan sebelum akhirnya sampai di Ciboleger. Ibarat telah memenangkan pertempuran ketika kami menginjakkan kaki di parkiran mobil Ciboleger... hampir 5 jam lamanya perjalanan pulang kami dari Cibeo sampai dengan Ciboleger di tengah guyuran hujan yang sangat deras. Kembali kami semua makan siang di tempat ”Pak Agus Bule” sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Sebuah Perjalanan yang mengesankan. ... By : AMGD
