Jabar Tempati Posisi Kedua Jumlah Penderita HIV/AIDS Hingga April 2005 Tercatat 1.181 Orang
BANDUNG, (PR).- Provinsi Jawa Barat saat ini menempati peringkat kedua nasional dalam jumlah pengidap HIV/AIDS, seiring terus meningkatnya penderita penyakit ini, baik secara nasional, regional, dan internasional. Data dari Bidang Sosial Pemprov Jabar menunjukkan sejak 1989 hingga April 2005, pengidap HIV/AIDS berjumlah 1.181 orang. Jumlah itu terdiri dari penderita AIDS sebanyak 19 orang, sedangkan pengidap HIV sebanyak 984 orang. Kepala Bidang Pelayanan Sosial Pemprov Jabar Tio Indra Setiadi mengakui terjadi peningkatan epidemi HIV/AIDS di Jabar. "Untuk jumlah penderita HIV/AIDS, Jabar menempati posisi kedua dari 14 provinsi yang merupakan kantong-kantong HIV/AIDS," ungkap Tio di sela-sela Dialog Interaktif Advokasi tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Gedung DPRD Jabar, Rabu (6/7). Dialog diikuti siswa SMA di Kota Bandung. Perkembangan HIV/AIDS di Jabar sudah pada tahap memprihatinkan sebab yang paling rawan terkena HIV/AIDS adalah kalangan remaja. "Sebanyak 60 persen penyebarannya melalui jarum suntik," ujarnya. Sementara itu, anggota DPRRI Komisi VIII yang menjadi salah seorang pembicara, Zulkarnaen Djabar menguraikan dari sejak ditemukan kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia pada 1987 sampai 31 Maret 2005, jumlah penderita HIV mencapai 3.668 dan AIDS 3.121. "Jumlah keseluruhan mencapai 6.789. Estimasi jumlah ODHA (orang dengan HIV AIDS) pada akhir 2005 mencapai 90-130 ribu," katanya. Sementara, perkiraan jumlah pengidap HIV/AIDS dewasa dan anak-anak di dunia pada akhir 2005 adalah Amerika Timur mencapai 980 ribu pengidap, Eropa Timur, dan Asia Tengah 1,2 juta pengidap, Asia Timur dan Pasifik 1,2 juta pengidap, Asia Selatan dan Tenggara 6 juta pengidap. Itikad serius Wakil Ketua DPRD Jabar, Achmad Ru'yat pada pembukaan kegiatan mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS merupakan masalah serius. "Penanggulangannya membutuhkan good will, baik eksekutif, legislatif, maupun masyarakat. Semua pihak harus memiliki komitmen menanggulangi dan menyelesaikan permasalahan HIV/AIDS ini," ujar Ru'yat. Sesuai fungsi legislasi, DPRD siap mengalokasikan anggaran dan mengawasi penggunaan anggaran tersebut. Ia juga berharap legislatif bisa memberi arah dalam penanggulangan HIV/AIDS. "Keterlibatan legislatif dalam penanggulangan HIV/AIDS diharapkan menjadi motivasi yang dapat mendorong pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengatasi masalah HIV/AIDS," tegasnya. Sementara itu, secara kritis para pelajar yang hadir pada kegiatan tersebut mempertanyakan minimnya kehadiran anggota DPRD Jabar pada dialog interaktif tersebut. Dari 100 anggota DPRD Jabar, hanya dua orang yang mengikuti kegiatan hingga selesai, yakni Ani Rukmini dan Syaeful Islam Mubarak dari Komisi E (Fraksi PKS). "Bagaimana para anggota parlemen mau ikut menyosialkan upaya penanggulangan HIV/AIDS, kalau untuk hadir pada kegiatan ini pun sudah tidak bisa. Ketidakhadiran mereka untuk berdialog dengan kami-kami ini sebetulnya menunjukkan itikad yang tidak serius," ujar Mayang, siswa SMAN 4 Bandung. Ani Rukmini membantah ketidakhadiran rekan-rekannya karena tidak peduli pada upaya penanggulangan HIV/AIDS. "Undangan pertemuan sebetulnya hanya untuk para ketua komisi dan Komisi E secara khusus. Tapi, saat ini seluruh anggota DPRD Jabar berkonsentrasi pada tiga pansus yang tengah membahas beberapa masalah penting," tuturnya. (A-64)*** Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
