Apakah Saya Cantik?

Oleh: Ninuk Mardiana Pambudy

Perempuan manakah di Indonesia yang Anda anggap
cantik? Bandung? Begitu barangkali asumsi sebagian
orang. Kenyataannya, perempuan Bandung umumnya merasa
paling tidak cantik.

Padahal, berbagai lagu dan pantun menyebut mojang
Priangan berhidung bangir, mata hitam bersinar, kulit
kuning langsat, dan tubuh lencir, stereotip yang
membuat banyak perempuan iri tanpa alasan.

Perasaan itu sebenarnya adalah juga perasaan 99 persen
perempuan dari Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya
yang ikut dalam survei Campaign for Real Beauty.
Survei dilakukan berdasarkan metodologi yang disusun
StrategyOne yang berbasis di New York bersama Dr Nancy
Etcoff dari Harvard University dan Dr Susie Orbach
dari London School of Economics atas permintaan Dove.

Survei dilakukan di 11 negara Asia dan sembilan negara
Eropa serta Amerika Utara dan Selatan, dengan total
jumlah responden lebih dari 5.000 perempuan untuk
melihat hubungan antara kepuasan hidup dan merasa
cantik. Bila survei di Eropa dan Amerika dilakukan
tahun lalu, survei di Asia diselenggarakan awal tahun
ini dan hasilnya di Indonesia diumumkan Kamis lalu di
Jakarta.

Di Asia, hanya tiga persen perempuan Thailand, Jepang,
Korea, Taiwan, China, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan
Singapura yang berani mengatakan dirinya cantik. Dan
di Eropa serta Amerika, jumlahnya hanya dua persen.

Survei ini—diklaim sebagai yang pertama di
jenisnya—tidak bermaksud mengatakan perempuan membenci
dirinya sendiri, putus asa, atau sekadar korban.
Justru, demikian Dr Etcoff menyebut dalam pengantar
The Real Truth About Beauty: A Global Report,
penelitian ini memberi gambaran terbukanya peluang
memperbaiki rasa puas dalam hidup selain mengukur
kepuasan hanya dari rasa cantik.

Medan sejahtera

Di antara berbagai aspek yang membuat perempuan
Indonesia merasa cantik, ternyata aspek spiritual dan
agama menyumbang 99 persen dan perempuan Indonesialah
satu-satunya yang menggunakan ukuran ini sebagai
penentu rasa cantik. Tetapi, dalam hal rasa humor
justru Indonesia berada di urutan terendah, sementara
di negara Asia lain rasa humor merupakan salah satu
penyumbang rasa cantik.

Lalu, perempuan Indonesia mana yang merasa paling
cantik? Ternyata perempuan di Medan dan Jakartalah
yang paling puas dengan kecantikan mereka. Dalam hal
berat badan, perempuan di Medan merasa paling puas dan
tidak ada masalah.

”Kalau perempuan Batak itu memang harus besar
badannya, makin besar makin cantik,” kata Tika
Panggabean, anggota Project Pop, yang menjadi panelis
dalam debat Campaign for Real Beauty.

”Kalau aku ketemu saudara- saudaraku orang Batak,
mereka pasti bilang aku kurus, harus makan banyak,”
kata Rosiana Silalahi dari SCTV yang juga ikut dalam
kampanye ini.

Meskipun tidak berkeberatan dengan berat tubuh,
perempuan di Medan merasa mereka akan lebih cantik
bila bisa lebih langsing. Ketika ditanya apakah akan
melakukan bedah plastik, semua responden umumnya
bilang tidak. Tetapi, perempuan di Surabaya paling
banyak berubah pikiran ketika pertanyaannya diubah
bahwa operasi itu gratis atau ditanggung asuransi.

Dunia konsumsi

Persepsi tentang cantik dipengaruhi banyak hal, antara
lain budaya, status, kekuasaan, dan uang. Gambaran
kecantikan berbeda antarsuku, bangsa, dan antarwaktu.
History of Beauty dengan editornya Umberto Eco (2005)
memperlihatkan bagaimana cantik berubah dari waktu ke
waktu. Dan cantik atau kecantikan selalu menimbulkan
debat dan tidak jarang direduksi menjadi persoalan
politik atau budaya.

Lima puluh tahun terakhir, tulis Orbach, dunia
mempersempit pengertian cantik menjadi sekadar fisik.
Padahal, perempuan dalam studi ini, termasuk di
Indonesia, melihat cantik ditentukan juga oleh harga
diri, kebaikan, kepercayaan diri, kecerdasan,
kebijaksanaan, kesuksesan ekonomi dan pekerjaan, bukan
hanya yang berurusan dengan fisik, seperti wajah,
bentuk dan ukuran tubuh, warna kulit, kemudaan, atau
rias wajah.

Menurut Orbach, 50 tahun terakhir terbentuk paradoks
yang di satu sisi mendemokratisasi kecantikan sebagai
bukan hanya milik bintang film, model, atau mempelai
perempuan. Pada saat yang sama ketika perempuan ingin
meraih kecantikan mereka tidak mungkin mendapatkannya
karena kecantikan dibatasi hanya pada tinggi dan
kurus, hal yang tidak mungkin bagi sebagian besar
perempuan di mana pun.

Iklan dan media dianggap bertanggung jawab atas
terbentuknya konsep cantik yang melulu fisik dan itu
pun sangat sempit—dalam hal Indonesia berwajah indo,
berkulit putih, berambut lurus. Dan menurut Naomi Wolf
dalam Beauty Myth, kecantikan adalah benteng terapuh
perempuan yang digempur industri kecantikan. Perempuan
dibuat merasa tidak nyaman pada tubuhnya, dan mereka
akan mencari pemecahan dengan membeli produk
kecantikan.

Namun, di tengah serbuan citra kecantikan yang
disodorkan berbagai produk kecantikan yang dianggap
tidak realistis, ada harapan untuk keberagaman atas
konsep kecantikan yang tidak dapat dilawan. Iklan dan
media memang menampilkan perempuan berkulit putih,
berambut hitam dan lurus, serta bertubuh langsing
sebagai cantik. Tetapi, pada saat yang sama media juga
menampilkan perempuan bertubuh subur, berambut
keriting, berkulit sawo matang sebagai bintang.

Dalam istilah Umberto Eco, penjelajah dari masa depan
tidak akan menemukan satu estetika ideal yang
disebarkan media massa abad ke-20 dan seterusnya. Dia
harus menyerah pada toleransi, sinkretisme, dan
politeisme absolut kecantikan.

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


                
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page 
http://www.yahoo.com/r/hs 
 


Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke