Bertemu Kembali Generaal Spoor Tak sekalipun saya mimpi apalagi berkeinginan tinggal di Belanda. Dalam benak ini Belanda bikin repot saja. Jika tidak datang menjajah, pasti tak kusut komat-kamit menghapal tahun perang, nama, kelahiran pahlawan berikut gugurnya dalam pelajaran sejarah. Tambah ekstra hukuman guru sejarah super galak bila tak bisa jawab. Padahal mulut sudah berbusa coba menghapal. Saking banyak gugur, sulit mengingat. Belum lagi tempat kejadian, kuburan berikut judul perangnya. Namun tanpa sadar, pelajaran sejarah dari SD-SMA, melekat erat di hati. `Bekal' itu terbawa ketika pada satu titik harus menetap di negeri kumpeni.
`Penjajahan modern' langsung menyapa saat baru sebulan tiba. Dapat surat perintah belajar bahasa Belanda 9 bulan. Sepatutnya berterima kasih bisa sekolah atas biaya pemerintah. Berhubung ada kata `wajib' jadi merasa terjajah. Saya tanya dosen, "Tidak bisakah belajar sebab ingin belajar? Bukan karena kewajiban pendatang baru. Belum cukup leluhur meneer menjajah 350 tahun, hingga sekarang masih dipaksa belajar dengan ancaman denda? Kembali saya merasa `terjajah'." Dosen tertawa menganggap ucapan saya canda. Padahal disampaikan dari sanubari terdalam. Saya coba abaikan teguran pemerintah lewat surat tapi diam-diam di rumah ngebut belajar membaca tulisan Belanda. Dua malam langsung ahli tanpa perduli arti, lalu nekad melamar jadi anggota koor karena bisa melafaskan baik. Namun tetap ada kendala meski semua anggota sangat penuh perhatian. Akhirnya demi hasrat berkomunikasi dengan para tetua terkasih, saya mendaftar sekolah memenuhi panggilan kesekian. Seorang di antara teman koor jadi sahabat baik dan menyayangi seperti anak sendiri. Pada suatu kesempatan minum kopi, suaminya mengeluarkan album tua. Biji mata nyaris keluar melihat foto-foto dalam suasana Jawa tengah, Jogjakarta dan tangsi militer. Dengan tenang dia bercerita semasa jadi tentara KNIL di Salatiga. Tja, rahasia apa gerangan? Orang terdekat di negeri ini ternyata bekas tentara kolonial. Barangkali di telapak tangannya pernah tercecer darah bangsaku. Dengan semangat prajurit pula dia tunjukkan pisau yang masih disimpan hingga kini. "Banyak darah `pelopor' tercecer di ujung belati ini," ujarnya fasih. Sejurus saya tanya kenapa tega berperang melawan bangsa Indonesia. Setenang lautan tak berombak katanya dikirim dalam status wajib militer, tak tahu dikirim kemana, menurut saja. Dalam hati dia sangat mencintai Indonesia dan senang di sana. Itu dikemukakannya sungguh-sungguh. Di lain kesempatan, saya menyeduh kopi saat istirahat latihan koor. Seorang bapak tua berkata, "Terima kasih, bade kamana juragan?" Lalu dia terbahak. Cerita punya cerita, juga bekas tentara KNIL tapi wilayah Jawa Barat dengan alasan sama, waktu dikirim tak mengerti kalau harus perang. Lagi saya terperangah. Orang-orang dekat, sangat sayang dan penuh perhatian, yang justru tangannya pernah berbekas di tanah air sana. Perlahan otak ini berputar, kenapa juga kerap jengkel akibat sejarah penjajahan. Toh sudah berlalu lama sekali. Selama ini Belanda yang bersama saya pun baik-baik dan santun? Perlahan saya tanggalkan kejengkelan dan kenangan buruk sejarah kolonial. Sampai suatu kali membaca lagi buku Romo Mangunwijaya, Burung-burung Manyar. Jelas roman itu sangat bersentuhan dengan `para kumpeni'. Jadi begitu mengesankan daripada ketika baca di Jakarta. Seminggu setelah selesai baca, masih segar dalam ingatan tokoh-tokoh penting dalam buku itu (salah satunya Generaal Spoor), saya diundang ke Breda. Kota di mana dalam buku Romo Mangun kerap disebut dan jadi penting. Ada pertemuan pemuda se-Eropa dan saya diminta mendokumentasikan acara untuk koran lokal. Di samping pertemuan dengan 650 pemuda, ditawarkan pula berkeliling Breda, dengan pilihan mengunjungi penjara, mesjid Turki dan KMA. Inginnya mengunjungi penjara sekedar membuktikan cerita, konon penjara Belanda tak ubahnya hotel melati. Membuat para penjahat lebih betah di penjara daripada harus kerja keras di luar cari makan. Tak ada kengerian sama sekali. Sayang lupa bawa paspor, jadi tidak bisa masuk. Akhirnya pilih KMA. Tapi apa itu KMA? Tak seorangpun menjelaskan, manut saja saking takut dikira `vervelend', banyak tanya seperti satpam. Tiba di KMA, penjagaan berlapis dan di halaman ada pesawat tempur tua. Petugas pemeriksa dan pengantar menuju menara tempat pertemuan berseragam militer. Ada pemutaran video KMA yang belakangan saya tahu adalah Koninklijke Militaire Academie. Jadi di sinilah dulu para jenderal berkuasa di tanah Batavia dan sekitarnya, juga beberapa pembesar Indonesia dapat pendidikan militer. Di acara perkenalan saya bilang, "Saya dari Indonesia, terus terang takut sekali lihat tentara Belanda." Tanpa terduga, niat menyindir malah jadi tertawaan para siswa muda di deretan belakang. Seolah saya bocah ingusan takut tentara. Untung kaptennya langsung menyela, "Aahhhh ..itu masa lalu " Saya bernafas lega, syukur ada yang tahu sejarah. Kami berdua melempar senyum penuh arti sementara para prajurit muda tetap `kosong'. Tak menangkap arti di balik kalimat sederhana tadi. Tiba acara memutari gedung. Di koridor, tiap jarak satu meter ada patung dalam kaca tanpa kepala, berseragam lengkap sesuai pangkat. Sama sekali tidak menarik perhatian. Lima patung terlewati tanpa ingin tahu kepala siapa gerangan meski di bawah terpasang foto, nama dan sejarahnya. Sampai beberapa terlewati termasuk patung berseragam putih dekil berlencana kebesaran, pun tidak menggugah. Berjalan terus lewat dua patung lagi, namun tiba-tiba kaki ini berat, seakan mengajak mundur. Entah kekuatan apa menarik-narik minta kembali mengamati si seragam putih dekil. Dan itu terjadi. Berjongkok mengalah, ingin tahu siapa gerangan pemilik seragam tersebut. Mulut ini tak bisa menahan seruan, tertera jelas: GENERAAL SPOOR. Berikut sejarah perjuangan dan tempat-tempat yang sangat akrab buat saya. "Ah..akhirnya ketemu juga orang yang pernah begitu berkuasa di tanah leluhur," kata saya seperti menyimpan rasa. Pakai seragam inilah pasti dulu menakuti seraya mengayunkan tongkat tipisnya. Belakangan saya tahu pula, kakek suami saya dulu jadi Kepala Duane (bea cukai) di Jakarta saat jaman kolonial, bersekolah di KMA pula. Keluar gedung, para prajurit muda tadi lagi lagi memburu saya, berkata tanpa maksud apa-apa, "Sekarang masih takut?" Seolah kanak-kanak baru menyaksikan sesuatu yang lain dari pikiran selama ini. Saya angkat bahu tersenyum tipis. Malas bicara pada orang tak kenal sejarah. Percuma! Ketika menceritakan pengalaman ini kepada seorang teman lewat email, malah menjuluki saya Forrest Gump -tokoh aneh yang diperankan Tom Hanks dalam film layar lebar pada 1994-, selalu ada secara kebetulan di tempat-tempat istimewa, lekat pula dengan sejarah bangsa. Tadinya saya pikir kata `kebetulan' yang sangat kebetulan hanya dalam sinetron, film atau novel. Heran juga kenapa terus `terdampar' di tengah kisah yang kerap justru menganggu pikiran. Andai saya si Forrest Gump itu, pastilah sangat rindu kemerdekaan sejati tanpa bayang-bayang penjajah meski cuma sejarah. Minimal begitu perasaan ini saat mengheningkan cipta 17 Agustus di tanah mantan penjajah. Merdeka! ita sembiring ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hsh96dg/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124299450/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
