Anak-anak Ternyata Menyukai Seni Sunda Klung...klung...klung...toroktok, Klung...klung...dug...dug...dug
SUARA buluh bambu yang dipukul saling bersahutan dengan suara goong , jidor (bedug kecil), jenglong, dan saron. Suaranya tidak begitu beraturan saat mengiringi juru kawih melantunkan tembang Sunda yang dapat dipastikan tidak dikenal penonton yang kebanyakan anak-anak sekolah dan sebagian tamu undangan. SEJUMLAH anak perempuan dari Lingkung Seni Suka Wargi Cileunyi memainkan alat musik klung-klung dalam pergelaran "Kaulinan Budak Lembur dan Pameran Nuansa Waditra Sunda" di Museum Sri Baduga Jalan BKR Bandung, Selasa (30/8).* RETNO HY/"PR" Sementara itu, seorang pria dengan mengenakan kedok berbentuk macan dengan badan tertutup karung goni lusuh dan bolong di beberapa bagian, terus mengitari penonton. Mulutnya tak mau diam, membuka dan menutup sambil berteriak ketika mendekati penonton, Kontan saja, penonton anak-anak itu menjadi terkejut. Kehadiran kesenian kungklung, dari Lingkung Seni Mekar Wargi Cileunyi, Selasa (30/8) di pelantara parkir Museum Sri Baduga, Jalan BKR 185 Kota Bandung, mengundang gelak tawa anak-anak sekolah. Terutama, tingkah laku maung lugay. Gayanya membuat perhatian penonton, kadang merunduk kadang berlari dengan gaya tidak selazimnya binatang. Ya, ia bisa berlari dengan kedua kaki belakangnya karena memang di dalamnya manusia. Tingkahnya, benar-benar sangat menghibur dan menjadi atraksi menarik. Di belakangnya , pemain alat musik kungklung yang memiliki laras salendro, diikuti sejumlah penari wanita berpakaian kebaya warna -warni yang membawa bibit padi. Sementara penari pria di belakangnya memanggul hasil kebun berupa umbi-umbian dan buah-buahan, tentu saja mereka masih bisa menari-nari, dan berteriak-teriak bersahutan satu dengan lainnya. Di bagian lain, ada enam pemain jangkungan (egrang) yang tidak mau kalah memperlihatkan kemahiran mereka memainkan permainan budak lembur terbuat dari bambu itu. Mereka berjalan keliling di antara pemain musik jidor, goong, dan jenglong, yang diikuti pemain sisingaan dan para sinden (juri kawih). Pameran dan rapat Kesenian Sunda buhun (lama) kungklung yang juga biasa disebut kunclung atau maung lugay, merupakan satu dari beberapa seni Sunda buhun yang digelar Museum Sri Baduga, mulai Selasa (30/8) dan akan berakhir Sabtu (17/9) mendatang. Selain pergelaran seni Sunda buhun, juga digelar pameran Nuansa Waditra Sunda yang menampilkan berbagai alat kesenian tradisional Sunda dan Rapat Koordinasi Antarmuseum se Indonesia. Pembukaan seni Sunda buhun dan kaulinan urang lembur serta pameran Nuansa Waditra Sunda tersebut disambut antusias anak-anak sekolah. Bahkan beberapa warga yang tengah melintasi di Jalan BKR, tepatnya di sekitar Lapangan Tegallega, berkesempatan untuk menyaksikan pergelaran. Selain seni Sunda kungklung, dalam pembukaan kemarin, juga di tampilkan seni Sunda tarawangsa asal Rancakalong Sumedang bertempat di Auditorium Museum Sri Baduga. Permainan ngek-ngek (alat musik gesek semacam biola) dan jentreng ternyata bisa juga membuat anak-anak tidak beranjak dari tempat duduk. Apresiasi yang sama juga diarahkan pada permainan angklung dari anak-anak SDN Moch. Toha, seni toleat dari Sumedang, dan tari jaipongan dari Lingkung Seni Madurasa Ujungberung. Antusias dan apresiasi anak-anak ternyata di luar dugaan, mereka sangat menikmatinya. Mungkin karena baru pertama kali menyaksikan pergelaran semacam ini, ujar Dra.Hj. Any Diah Sumirat, M.Si., Plh. Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga. Kekaguman anak-anak juga terlihat saat ruang pamer alat-alat kesenian (waditra) Sunda dibuka, Mereka terlihat berebut untuk lebih dulu masuk ke ruang pamer yang terletak di ruang atas. Memasuki ruang pamer, pengunjung bisa mengetahui apa itu waditra Sunda. Pihak museum melalui alat peraga bukti-bukti tertulis memperlihatkan mengenai sejarah waditra Sunda. Di bagian lain pengunjung dapat melihat alat musik dari rumpun macakal atau alat musik yang dimainkan secara tunggal (mandiri). Di rumpun ini ada alat musik karinding serta berbagai macam seruling, mulai dari toleat, elet, suling kumbang , suling lubang empat dan enam dan banyak lagi. Setelah rangkaian alat tiup, giliran rumpun angklung menyambut pengunjung. Di antara yang dipamerkan adalah alat musik bangkong reang dari Lebak Muncang Ciwideuy Kab. Bandung, kungklung dari Cileunyi, dan angklung Gubrag dari Kp. Cipining Desa Arga Pura Kec. Cigudeg Kab. Bogor. Alat-alat ini ternyata paling banyak menarik perhatian pengunjung. Mungkin karena bentuknya yang aneh dan ukurannya yang besar. Selain itu, juga ditampilkan alat musik tradisional Sunda dari rumpun bela diri, helaran, gamelan, dan terebang. Ternyata nenek moyang kita yang ada di kampung suka main musik juga yah, ujar Maya (12) kepada rekannya sambil sekali-sekali tangannya memegang alat-alat musik langka itu. (Retno HY/PR)*** Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
