-Suksesi Ala "Dalem Kuwung-Kuwung"

KANJENG Dalem (Bupati) Kuwung-kuwung (Moel Mge) merasa heran dengan
segala tuduhan yang menimpa dirinya bahwa ia berlaku tidak adil
terhadap rakyat yang dipimpinnya, korup, dan sebagainya. Karena itu,
ia layak diganti.

OPANG Sang Kopral tak sanggup duduk di kursi panas saat ditunjuk
menjadi kanjeng dalem dalam longser Sunda "Harewos Goib" di Gedung
Kesenian Rumentangsiang, Bandung, Selasa (30/8).*HARRY SURJANA/"PR"

Kabar miring bahwa jabatannya sebagai dalem akan segera berakhir
ternyata sudah beredar luas di kalangan masyarakat dan para petinggi
di Kadaleman Kuwung-kuwung. Merebaknya kabar cukup merisaukan hatinya
itu, pada satu sisi ternyata telah menimbulkan berbagai konflik dan
kepentingan, yang berjalan di luar akal sehat di lingkungan Kadaleman
Kuwung-kuwung.

Konflik itu secara sengit justru muncul di kalangan sejumlah juag
demang (istri camat), yang merasa yakin bahwa suami mereka adalah
orang yang paling pantas menjadi dalem di Kadaleman Kuwung-kuwung.

Apa sebab?

Menurut kabar bahwa yang kelak akan menggantikan Dalem Kuwung-kuwung
itu adalah salah seorang demang yang ada di Kadaleman Kuwung-kuwung.

Konflik memperebutkan "pepesan kosong" antara Juag Demang 1 (Mira
Maelani) dan Juag Demang 2 (Nia Denok), yang dimainkan dengan bagus,
tidak hanya membicarakan soal borok-borok sosial-politik yang
dilakukan oleh suami mereka masing-masing, tetapi juga mengungkap soal
kebiasaan buruk para demang yang suka berselingkuh, di samping korupsi.

Selain saling mengungkap keburukan-keburukan sosial-politik yang
pernah dilakukan suaminya masing-masing, konflik yang terjadi antara
dua juag demang itu, tanpa disadari pada akhirnya mengungkap biografi
keduanya -- yang sebelum dinikahi oleh suaminya masing-masing --,
ternyata keduanya berasal dari kalangan rakyat jelata.

Dalam konteks yang demikian itu, Yosep Iskandar sang penulis naskah,
rupanya hendak mengungkapkan bahwa bius kekuasaan, sekalipun kekuasaan
itu masih berupa angan-angan, ternyata sanggup mengubah tingkah laku
seseorang jadi anarkis, merasa orang paling terhormat, terpilih. Yang
lebih parah adalah merasa sanggup mengubah nasib rakyat miskin menjadi
orang kaya dalam sekejap waktu. Semua bualan itu diutarakan dalam
janji-janji politik yang disampaikannya kepada rakyat.

Paling tidak, apa yang diungkap Yosep Iskandar dengan latar waktu dan
latar cerita yang terjadi pada abad ke-19 itu terasa aktual, ketika
kita menjenguk ke dalam realitas sosial-politik yang terjadi pada saat
ini, yakni saat pilkada berlangsung riuh-rendah dengan berbagai aksi
gugatan, protes atas ketidakpuasan suara yang diraih oleh para jagoannya.

Jika unsur humor menjadi sesuatu yang dominan dalam lakon Harewos
Goib, karena hal ini memang sangat dimungkinkan oleh adegan-adegan
yang disajikan secara komikal, terutama secara memikat bisa kita lihat
pada peran Opang (Komeng Komara) yang memegang rol cerita.

Opang yang bertugas sebagai upas di Kadaleman Kuwung-kuwung ini adalah
orang yang blak-blakan. Dia dengan polos dan lugu berani mengkritik
atasannya dengan cara yang penuh canda dan kadang serius pula.

"Di abad ke-20, bisa saja yang kelak jadi bupati itu dari kalangan
upas dan bukan dari kalangan menak seperti yang terjadi di abad
ke-19," katanya.

Hal itu diucapkannya langsung kepada Dalem Kuwung-kuwung, berdasar
pada wangsit alias harewos goib yang diterima dari para karuhunnya.

Dalem Kuwung-kuwung yang dipusingkan oleh isu suksesi yang tidak jelas
ujung pangkalnya itu, segera sadar bahwa dirinya memang sudah tua.
Lalu ia ingin menguji siapa saja di antara bawahannya itu yang kelak
bisa menggantikan kedudukannya sebagai dalem.

Keinginan menguji bawahannya itu muncul setelah mendengar pertengkaran
antara dua juag demang yang terjadi di Kadaleman Kuwung-kuwung, yang
mempermasalahkan "pepesan kosong" tentang kelayakan suami-suami mereka
menjadi dalem.

Ketika Dalem Kuwung-kuwung mencopot pakaian dan tanda kepangkatannya
-- untuk dipakai oleh Opang, apakah dirinya pantas jadi dalem atau
tidak, nyatanya Opang tidak sanggup. Demikian juga para demang dan
para petinggi lainnya di Kadaleman Kuwung-kuwung, ramai-ramai
menolaknya sambil menyatakan, pihaknya tidak sanggup jadi dalem.

Ini artinya, menjadi pemimpin yang adil ternyata tidak gampang. Susah.
Perkara suksesi rupanya hanya ramai diperbincangkan karena itu adalah
projek yang menguntungkan bagi para "tengkulak" politik.

Pola longser

Dalam pentas kali ini, Teater Sunda Kiwari menggarap lakon Harewos
Goib dengan memadukan unsur-unsur teater modern dan teater
tradisional. Dari teater tradisional, ia mengambil pola garapan yang
bersumber pada longser. Hal ini antara lain bisa kita lihat dari
adanya cempor dengan tiga sumbu, yang berkaki sebatang bambu, yang
panjangnya sekira 1,7 meter. Cempor tersebut disimpan di tengah-tengah
panggung pertunjukan. Selain itu, ada juga tabuhan awal dan ronggeng,
serta kawih yang ditampilkan pada saat pergantian adegan, di samping
adanya dialog interaktif antara pemain dan pangrawit serta dengan
penonton secara spontan.

Adegan pertama dibuka dengan masuknya sejumlah pemain ke atas
panggung, yang duduk di belakang pangrawit (penabuh alat musik).
Setelah itu lalu para pangrawit yang terdiri dari empat orang penabuh
saron, dua orang penabuh bonang, seorang penabuh goong, dan seorang
penabuh kendang, mulai tatalu yang kemudian disusul dengan adegan
menyalakan cempor sebagai tanda pertunjukan dimulai.

Setelah cempor dinyalakan sebagai tanda dimulainya denyut kehidupan di
atas pentas, yang sering disebut sebagai realitas pentas atau atmosfer
teater itu, masuklah empat ronggeng dengan tarian jaipong yang
terkenal dengan geol, gitek, dan goyang. Setelah itu, masuklah empat
penari laki-laki yang mengusung sebuah tandu. Di atas tandu itu duduk
Dalem Kuwung-kuwung (Moel Mge). Adegan ini mengingatkan kita pada pola
tarian Sisingaan dari Subang.

"Bertaut pada akar tradisi itulah pola garapan yang saya pakai kali
ini. Longser menjadi penting untuk dihidupkan kembali karena pada
kenyataannya kesenian ini nyaris punah. Pola-pola yang saya pakai dari
longser ini hanya bajunya. Tidak murni longser. Apa sebab? Karena di
dalam pertunjukan ini ada unsur-unsur teater modernnya, seperti adanya
naskah, pola pengadegan yang seluruh permainannya disajikan di atas
panggung, tata lampu, dan sebagainya. Sedangkan pertunjukan longser
seharusnya digelar di lapangan terbuka, semacam teater arena!" jelas
R. Dadi P. Danusubrata, Sutradara Teater Sunda Kiwari. (Soni Farid
Maulana/"PR")***





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke