Satuju sareng argumen Kang Moqsith. Agamawan atanapi para pamingpin agama 
sabenerna anu ngarasa teu rela teh, padahal Allah swt mah teu saeutik oge 
ngirangan "kaluhuran" sareng "ka-agungana-Na". 
Inget basa Rasulullah saw ngayakeun "Perjanjian Hudaibiyah". Waktu eta 
disepakati antara Muslimin jeung kafir Mekkah, lamun sapintas mah jigana 
ngarugikeun kaum Islam:
"Lamun aya orang Islam rek pindah ka kaum Quraesh (kafir), pihak Muslim teu 
meunang metot deui jeung kudu rela eta jelema pindah ka kaum Quraesh. Tapi 
sabalikna lamun aya diantara kaum Quraesh anu pindah jadi Muslim, maranehanana 
(kaum Quraesh) boga hak jang metot deui eta jelema supaya kaluar deui ti agama 
Islam".
Sapintas perjanjian ieu ngarugikeun pihak kaum Muslim. Tapi Rasulullah saw 
yakin, yen kaluhuran jeung kaagungan Islam bakal nyangcang umat Islam supaya 
tetep disisi Rasulullah saw. Sabalikna kabohongan jeung karusakan moral kaum 
Quraesh bakal nyadarkeun urang Mekkah yen jalan anu bener jeung lempeng teh nya 
euweuh deui salain agama Islam.
Hasilna, kayakinan Rasulullah saw terbukti. Beuki lila, beuki loba kaum Quraesh 
anu pindah ka Medinah, jeung asup Islam. Masing aya oge anu mayar mahal, 
ngorbankeun nyawa.
Didieu, aya pelajaran yen Rasulullah saw, pamingpin agama (Islam), mere contoh. 
Jelema mah teu kudu dipaksa2 komo bari aya ancaman2, boikot, bunuh didunia, 
jeung sajabana. Kuduna mah para pamingpin agama jaman kiwari teh mere contoh 
kumaha kebaikan akhlak, kasih-sayang, majukeun Islam jeung kaum Muslimin supaya 
jadi terhormat. Tingkatkeun tarbiyah. 
Lain ngagumbar hawa nafsu, nyebarkeun kebencian.... kawas anu ayeuna kaalaman 
di loba tempat. Aya oge (anu dianggap) pamingpin agama, malah korupsi. Lain rek 
memikat hati umat ari kalakuan kitu mah, malah jadi antipati jeung 
ngadatangkeun kebencian. Lain rek jadi terhormat agama Islam teh, malahan jadi 
ejekan jeung obyek hinaan, ti umat lain.
 
Ayeuna geus Akhir Zaman meureun nya??
 
Salam baktos,
Risman
 


Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pindah Agama
Oleh Abd Moqsith Ghazali
11/10/2005

Namun, pindah agama selalu menjadi fenomena
mengguncangkan. Kalau tidak bagi diri yang berpindah
agama, maka sekurangnya bagi keluarga dan lingkungan,
tempat yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Orang
tua bisa mengambil tindakan kejam dengan tidak
mengakui anak yang pindah agama sebagai bagian dari
keluarga. Para agamawan pun sering terpukul dengan
perkara pindah agama ini. Sebab, dengan adanya anggota
yang "tanggal" atau lepas, maka berkuranglah jemaat si
agamawan tadi.

Dalam konteks masyarakat demokratis, perkara pindah
agama bukan fenomena besar bahkan mungkin akan kerap
terjadi. Ada banyak faktor yang mendorong seseorang
berpindah agama. Mulai dari faktor-faktor
teologis-ideologis yang dalam hingga dorongan remeh
temeh seperti karena gengsi dan prestise. Mulai dari
motif yang bisa dinalar hingga motif yang tidak mudah
dikunyah akal sehat. Mulai dari dorongan ekonomi dan
politik hingga dorongan cinta kasih. Seorang teman
berani mengambil tindakan pindah agama hanya karena
ingin menyesuaikan dengan agama pasangannya. Ada juga
yang pindah agama untuk tujuan meningkatkan taraf
hidup yang bersangkutan karena diiming-imingi dana
dalam jumlah tertentu oleh kelompok agama tertentu.

Namun, pindah agama selalu menjadi fenomena
mengguncangkan. Kalau tidak bagi diri yang berpindah
agama, maka sekurangnya bagi keluarga dan lingkungan,
tempat yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Orang
tua bisa mengambil tindakan kejam dengan tidak
mengakui anak yang pindah agama sebagai bagian dari
keluarga. Para agamawan pun sering terpukul dengan
perkara pindah agama ini. Sebab, dengan adanya anggota
yang "tanggal" atau lepas, maka berkuranglah jemaat si
agamawan tadi. Agamawan yang tak jarang tampil bak
seorang pengiklan atau salesman dagangan, merasa gagal
dalam menyampaikan dakwah dan misinya ketika ada
anggotanya yang berpindah. Pindah agama adalah perkara
yang paling dibenci oleh agamawan--maaf, bukan oleh
Tuhan karena kebesaran Tuhan tidak akan pernah
mengalami defisit hanya karena makhluknya yang bernama
manusia ini mondar-mandir dalam menganut agama.

Saya hampir selalu menangkap kesan tentang
ketidak-relaan kaum agamawan untuk melepas kepergian
anggotanya ke "tempat" atau agama lain. Mereka tampak
berat hati. Maka, untuk membentengi agar seseorang
tidak keluar dari suatu agama, para teolog sering
membuat sejumlah "ancaman", mulai dari sanksi-sanksi
eskatologis seperti neraka hingga sanksi hukum bunuh
di dunia. Tanpa pernah dipahami konteks (sabab
al-wurud)nya, maka dirapalkanlah sebuah hadits, "man
baddala dinahu faqtuluhu (barang siapa yang mengganti
agamanya, maka bunuhlah). Karena itu, keputusan setiap
orang untuk mengkonversi agamanya bukan perkara mudah.
Diperlukan tidak hanya keberanian tapi juga kesiapan
mental jika suatu waktu mengalami diskriminasi dan
ekskomunikasi dari agamawan, keluarga, dan masyarakat
sekitarnya.

Sebagai seorang muslim yang pro-demokrasi, saya
sendiri cenderung tidak mempersoalkan seseorang untuk
melakukan apostasi karena dua alasan. Pertama, tidak
ada gunanya seseorang dipaksa berada di dalam suatu
agama sementara yang bersangkutan sudah tidak merasa
nyaman dan at-home dalam agama itu. Memeluk suatu
agama dengan keterpaksaan ini adalah cara beragama
yang pura-pura. Beragama yang fresh adalah beragama
yang berangkat dari kesadaran batin yang mendalam dan
dengan keyakinan penuh perihal kebenaran ajaran agama
itu. Kedua, setiap orang memiliki hak untuk masuk
dalam suatu agama atau keluar dari suatu agama. Itu
adalah hak fundamental yang lekat pada setiap orang.
Dalam Alquran, setiap orang diberi hak untuk memilih
apakah ia akan menjadi theis atau atheis. Allah SWT
berfirman, faman sya`a fal yu`min waman sya`a
falyakfur. Nah! (Abd Moqsith Ghazali) 

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


            
__________________________________ 
Start your day with Yahoo! - Make it your home page! 
http://www.yahoo.com/r/hs


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 



---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "Baraya_Sunda" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------





                
---------------------------------
 Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke