Kabinet Harus Fokus Ciptakan Lapangan Kerja Paket Insentif Dijalankan Jakarta, Kompas - Tim ekonomi hasil reshuffle kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus memfokuskan kebijakan untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Tanpa fokus ini, upaya pemerintah untuk menekan tingkat pengangguran sampai 5,1 persen tahun 2009 akan gagal.
Demikian diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto di Jakarta, Selasa (6/12). "Semua kebijakan ekonomi, baik itu fiskal, moneter, maupun ekonomi mikro, harus diarahkan untuk penciptaan lapangan kerja. Kebijakan ekonomi harus menunjang sektor riil sehingga pertumbuhan ekonomi bisa meningkat," katanya. Menurut Djimanto, tidak mudah menekan tingkat pengangguran dari 9,8 persen pada tahun 2004 (11 persen tahun 2006 Red) menjadi 5,1 persen tahun 2009. "Angkatan kerja baru terus tumbuh. Sementara itu, daya serap tenaga kerja masih terbatas," katanya Djimanto. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2005 menyebutkan, tingkat pengangguran terbuka mencapai 11,6 juta orang, atau 10,84 persen dari angkatan kerja 106,9 juta orang. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menekan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,1 persen tahun 2009 dibutuhkan lapangan kerja untuk menyerap sekitar 15 juta penganggur. Secara terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat mengatakan, tantangan yang dihadapi tim ekonomi yang baru bukan hanya menciptakan stabilitas makro, namun juga mendorong sektor mikro. "Sektor mikro harus didorong juga demi menciptakan lapangan kerja. Jadi, harus ada harmonisasi antara makro dan mikro. Dan saya rasa tidak ada lagi waktu bagi tim ekonomi yang baru untuk belajar karena waktunya tinggal empat tahun lagi," katanya. Hidayat menambahkan, tim ekonomi yang baru perlu bekerja keras lagi agar inflasi yang tinggi tidak berlangsung selama satu semester ke depan, tetapi lebih pendek lagi. "Ini agar suku bunga tidak tinggi terus sehingga kredit tertekan. Kalau kredit tidak tersalurkan, sektor riil juga tidak bisa tumbuh," ujarnya. Sektor riil Untuk menciptakan lapangan kerja, lanjut Djimanto, pemerintah perlu berupaya mengembangkan sektor-sektor industri yang berbasis sumber daya alam serta sektor manufaktur. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno mengatakan, untuk menciptakan lapangan kerja, sektor industri harus didukung. "Caranya, jalankan dulu paket kebijakan insentif 1 Oktober 2005. Misalnya, perubahan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk komoditas primer pada Januari 2006," katanya. Paket insentif sangat diperlukan, lanjut Benny, karena dunia usaha terbebani juga dengan biaya tinggi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Ada banyak faktor lain yang membuat biaya produksi kurang kompetitif di bandingkan dengan negara lain. Biaya energi listrik, biaya BBM untuk produksi industri dan transportasi, biaya buruh, bunga perbankan, dan pungutan di daerah," katanya. Wakil Ketua Umum Apindo T Rachmat menambahkan, tim ekonomi perlu mendorong pembangunan infrastruktur di daerah. "Perlu ada pembenahan tata ruang," katanya. Dengan adanya infrastruktur, pembangunan ekonomi melalui investasi akan lebih cepat terwujud. Sementara itu, Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi mengatakan, pengembang dapat menerima tim ekonomi pimpinan Menko Perekonomian Boediono. Oleh karena, tim yang ada diyakini pasar sebagai figur dengan reputasi dan integritas tinggi. "Kendati demikian, tim itu hendaknya jangan cuma memfokuskan diri pada masalah makro, tapi juga memberi perhatian yang lebih optimal pada mikro-ekonomi. Ini demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan rakyat," kata Lukman. (FER/JAN/OSA/TAV) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/LeSULA/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
