Mi, Lezat Bergizi tetapi Rawan Formalin!

Oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi

Mi basah rawan terhadap penambahan formalin dan boraks. Zat kimia ini
dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Sayangnya, kandungan formalin dan boraks hanya bisa diketahui melalui
pemeriksaan laboratorium.
 
Mi pertama kali dibuat dan berkembang di Cina. Teknologi pembuatan mi
disebarkan oleh Marcopolo ke Italia, hingga ke seluruh daratan Eropa.
Kini mi populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mi yang
beredar di Indonesia terdiri dari empat jenis, yaitu mi mentah, mi
basah, mi kering, dan mi instan. Keempat jenis tersebut mempunyal
pasar sendiri-sendiri, dengan jumlah permintaan yang semakin meningkat
dari waktu ke waktu.
 
Di Indonesia, mi digemari herbagai kalangan, mulai anak-anak hingga
lanjut usia. Alasannya. sifat mi yang enak, praktis, dan mengenyangkan.

Kandungan karbohidrat yang tinggi, menjadikan mi digunakan sebagai
sumber karbohidrat pengganti nasi. Mi dapat diolah menjadi berbagai
produk seperti mi baso, mi goreng, soto mi, mi ayam, dan lain sebagainyaa.
 
Seiring perkembangan teknologi dan semakin meningkatnya kesadaran
orang akan gizi, sekarang ini mi tidak hanya dijadikan sebagai
penyuplai energi, melainkan juga sebagai sumber zat gizi lain.
Berbagai vitamin dan mineral dapat difortifikasikan ke dalam mi.
seperti yang sering kita jumpai pada pembuatan mi instan.

Walaupun demikian, kecukupan zat gizi belum dapat dipenuhi hanya
dengan mengandalkan sebungkus mi. Kombinasi dengan sayuran dan sumber
protein perlu dilakukan dalam upaya mendongkrak kelengkapan komposisi
gizi ini.

Nilai Gizi

    * Diversifikasi konsumsi pangan terutama dimaksudkan untuk
mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. 

Saat ini persediaan beras di Indonesia mulai menipis, seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan semakin banyaknya lahan persawahan
yang digunakan sebagai pemukiman.
 
Berdasarkan kandungan gizinya, mi merupakan bahan pangan yang
berpotensi besar untuk dijadikan sebagai produk diversifikasi.
Kandungan gizi mi sudah dapat mencukupi sebagai pengganti beras.
 
Sebungkus mi instan yang beratnya 75 gram (lengkap dengan minyak dan
bumbu), serta ditambah dengan sayuran dan protein dari luar, dapat
diandalkan untuk sarapan pagi. Untuk makan siang, porsinya perlu
dinaikkan menjadi dua bungkus.
 
Terdapat beberapa kelemahan dalam produk-produk mi. Umumnya mi sedikit
sekali mengandung serat (dietary fiber) serta vitamin B dan E.
Komposisi bahan mi instan belakangan ini sudah semakin komplet.
Beberapa merek mi instan telah dilengkapi dengan serat, sedikit
sayuran, dan irisan daging kering, serta vitamin B dan E. Namun, kita
tetap saja perlu menambahkan bahan-bahan lain dari luar, terutama
sayuran dan sumber protein, agar nilai gizinya menjadi semakin baik.
 
Murah, Meski Berbahaya

    * Sayangnya, tingkat pengetahuan yang rendah mengenai bahan
pengawet merupakan faktor utama penyebab penggunaan formalin dan
boraks pada mi. 

Beberapa survei menunjukkan, alasan produsen menggunakan formalin dan
boraks sebagai bahan pengawet karena daya awet dan mutu mi yang
dihasilkan menjadi lebih bagus, serta murah harganya, tanpa peduli
bahaya yang dapat ditimbulkan.
 
Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung untuk
membeli makanan yang harganya murah, tanpa mengindahkan kualitas.
Dengan demikian, penggunaan formalin dan boraks pada mi dianggap hal
biasa. Sulitnya membedakan biasa dan mi yang dibuat dengan penambahan
formalin dan boraks, juga menjadi salah satu faktor pendorong perilaku
konsumen tersebut.

Deteksi formalin dan boraks secara akurat hanya dapat dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan bahan-bahan kimia, yaitu melalui uji
formalin dan uji boraks.
 
Untuk itu, perlu dilakukan upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan
bagi produsen dan konsumen tentang bahaya pemakaian bahan kimia yang
bukan termasuk kategori bahan tambahan pangan. Selain itu, diperlukan
sikap pemerintah yang lebih tegas dalam melarang penggunaan kedua
jenis pengawet tersebut pada produk pangan.

Bisa Menimbulkan Keracunan & Kematian

    * Mi basah digunakan untuk produk makanan seperti mi baso, mi soto
bogor, mi goreng, ataupun pada pembuatan makanan camilan. Kadar air mi
basah tergolong tinggi, sehingga daya awetnya rendah. 

Penyimpanan mi basah pada suhu kamar selama 40 jam menyebabkan
tumbuhnya kapang.
 
Untuk itu, dalam pembuatan mi basah diperlukan bahan pengawet agar mi
bisa bertahan lebih lama. Mungkin karena faktor ketidaktahuan banyak
produsen yang menggunakan formalin atau boraks sebagai pengawet.
Selain memberikan daya awet, kedua bahan tersebut juga murah harganya
dan dapat memperbaiki kualitas mi.

Menurut beberapa produsen, penggunaan boraks pada pembuatan mi akan
menghasilkan tekstur yang lebih kenyal. Sementara itu, penggunaan
formalin akan menghasilkan mi yang lebih awet, yaitu dapat disimpan
hingga 4 hari.

Laporan Badan POM tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 29 sampel mi basah
yang dijual di pasar dan supermarket Jawa Barat, ditemukan 2 sampel
(6,9 persen) mengandung boraks, 1 sampel (3,45 persen) mengandung
formalin, sedangkan 22 sampel (75,8 persen) mengandung formalin dan
boraks. Hanya empat sampel yang dinyatakan aman dari formalin dan borak.

Isu penggunaan formalin dan boraks tentu saja sangat meresahkan
masyarakat. Kedua bahan tersebut jelas-jelas bukan termasuk kategori
bahan tambahan pangan (food additives), sehingga sangat dilarang
penggunaannya pada pangan apa pun. Kedua bahan tersebut dilarang
penggunaannya karena bersifat racun terhadap konsumennya.
 
Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan
dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa
timbut antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai
muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau
gangguan peredaran darah.
 
Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan
konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis
(muntah darah) yang berakhir dengan kematian Injeksi formalin dengan
dosis 100 gram dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.
 
Boraks juga dapat menimbulkan efek racun pada manusia, tetapi
mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Toksisitas boraks
yang terkandung di dalam makanan tidak langsung dirasakan oleh
konsumen. Boraks yang terdapat dalam makanan akan diserap oleh tubuh
dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, atau testis (buah
zakar), sehingga dosis boraks dalam tubuh menjadi tinggi (Winarno dan
Rahayu, 1994).

Pada dosis cukup tinggi, boraks dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya
gejala pusing-pusing, muntah, mencret, dan kram perut. Bagi anak kecil
dan bayi, bila dosis dalam tubuhnya mencapai 5 gram atau lebih, akan
menyebabkan kematian. Pada orang dewasa, kematian akan terjadi jika
dosisnya telah mencapai 10 - 20 g atau lebih.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke