"Ngarot", Menyambut Tanam Padi dengan Kecemasan

Wah, entahlah. Saya tidak tahu bagaimana dapat uang untuk modal
bertanam padi besok. Habis, pupuk tidak ada. Kalaupun ada, harganya
mahal," ujar Rasja (68), petani dari Desa Lelea, Kabupaten Indramayu,
Jawa Barat.

Rasja mengeluh saat mempersiapkan diri ikut menonton upacara adat
Ngarot, Rabu (21/12). Ngarot adalah upacara pembuka musim tanam padi
di desa tersebut. Ratusan orang ikut arak-arakan dalam memeriahkan
upacara dan lebih dari seribu orang menonton upacara itu. Sebagian
besar dari mereka berasal dari keluarga petani.

Saat arak-arakan di sepanjang jalan Larangan-Lelea, beberapa penduduk
tengah menjemur beras aking atau nasi basi yang dimanfaatkan kembali
untuk makan. "Lumayan masih bisa tetap makan nasi aking. Sekarang,
beli beras mahal," ujar Ny Kasinem (60), warga Lelea.

Inti dari Ngarot ditandai dengan diberikannya secara simbolik bibit
padi, air, pupuk, cangkul, dan tanaman pembasmi hama oleh kuwu (kepala
desa) kepada warga kaum muda.

Upacara ini dilanjutkan dengan pesta meriah yang berisi pertunjukan
topeng, tanjidor, ronggeng, dan organ tunggal. Para penonton pun ikut
berjoget.

Di masa lalu, Ngarot menjadi ajang pembangkit semangat petani
menghadapi kerja keras di saat masa tanam padi. Tetapi, tahun ini
Ngarot sebatas untuk mengurangi kepenatan menghadapi hari-hari yang
sulit menjelang masa tanam padi.

Setahun sekali

Samian, tetua Desa Lelea menjelaskan, Ngarot sudah diadakan penduduk
Desa Lelea sejak abad ke 17, dan diadakan setahun sekali menjelang
musim tanam, tiap Rabu. Warga Lelea percaya Rabu sebagai hari paling
subur bagi padi. Ngarot tahun 2005 adalah upacara ke-359.

Pencetus upacara Ngarot adalah Mbah Buyut Kapol, seorang petani
pendatang dari Banten yang memiliki lahan sawah seluas 2,610 hektar di
Blok Tambang Raga. Produksi padinya selalu berlebih.

Kapol sangat akrab dengan masyarakat sekitarnya, termasuk dengan anak
muda. Banyak remaja yang membantunya mengolah tanah tanpa meminta
bayaran. Kegiatan ini dijadikan latihan bertani bagi anak muda.

Sebagai tanda terima kasih pada kaum muda. Kapol menyediakan berbagai
minuman, seperti wedang, dan bajigur, bagi kaum muda sebelum masa
tanam tiba. Itu sebabnya, acara tersebut dinamakan Ngarot yang dalam
bahasa Sunda berarti minum-minum. Karena diikuti anak muda, pesta pun
sering disebut upacara Kasinoman atau upacara muda-mudi.

Kapol dipercaya menjadi kuwu pada tahun 1646. Sejak itu, Ngarot yang
biasa dilaksanakan di rumahnya pindah ke balai desa. Kapol menjabat
sebagai kuwu selama 25 tahun. Saat masa jabatannya berakhir, Kapol
menyerahkan lahan pertaniannya pada kuwu berikutnya untuk digunakan
kaum muda desa untuk latihan bertani.

Penyerahan lahan sebagai inventaris desa merupakan pesan agar Ngarot
dilaksanakan sepanjang masa. Biaya pesta diambil dari panen lahan
tersebut. Untuk menyelenggarakan Ngarot tahun ini dibutuhkan biaya
lebih dari Rp 10 juta.

Kurang menggembirakan

Menurut Daeng Sukarya, petugas penyuluh dan pengendali organisme
pengganggu tanaman Dinas Pertanian Kecamatan Lelea, tahun ini
Kecamatan Lelea memiliki 32.000 petani. Lahan sawahnya seluas 4.800
hektar yang memproduksi rata-rata 6,2 ton gabah kering per hektar.

Desa Lelea memiliki lahan 412 hektar dengan jumlah petani 3.212 orang
dan rata-rata produksi gabah per hektarnya 6,8 ton.

Daeng mengakui bahwa musim tanam tahun ini tidak menggembirakan sebab
stok pupuk di pasar tidak dapat diprediksi. "Saya tidak tahu apakah
masalahnya di bagian produksi atau di distribusi, yang jelas pupuk
kurang sehingga harganya mahal," ujar Daeng.

Pupuk yang beredar hanya 25 persen dari kebutuhan. Kecamatan Lelea
membutuhkan pupuk SP-36 dan urea sebanyak 1.440 ton, sedangkan petani
membutuhkan 123,6 ton pupuk.

Daeng juga menyebutkan, saat ini petani mulai cemas dan banyak
bertanya soal kemungkinan beras impor merusak harga gabah pada musim
panen berikutnya. "Kabarnya saat ini ditemukan beras impor di pasar.
Tetapi, demi kebaikan petani yang jumlahnya ribuan dan keluarganya,
pemerintah dan masyarakat perlu terus memantau keadaan di pasar," ujar
Daeng.

Jika beras impor ada di pasar saat paceklik beras seperti saat ini,
mungkin akan membantu menurunkan harga beras. Tetapi, jika terjadi
justru pada masa panen Februari dan selanjutnya akan menyengsarakan
petani sebab harga gabah akan turun drastis. Padahal, modal produksi
tani yang dikeluarkan besar karena kelangkaan pupuk dan pengaruh
kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu.

Rasja menambahkan, untuk musim tanam sekarang ia harus punya modal Rp
1,5 juta untuk mengantisipasi naiknya berbagai harga sarana produksi
pertanian. Biasanya cukup modal Rp 1 juta.

Padi organik

Jojo (62), petani lain menyebutkan, ia menyiasati kesulitan pupuk di
masa tanam dengan memulai bertanam padi organik.

"Koperasi meminjamkan saya bibit padi dan pupuk kompos. Tetapi, saya
tidak diberitahu berapa jumlah pinjaman itu. Saya mau coba dulu tidak
pakai pupuk urea dan SP 36," ungkapnya.

Para pedagang beras di sekitar Jalan Widasari, Kabupaten Indramayu,
saat ini juga tengah dilanda kecemasan.

Sudah lima bulan pasokan gabah amat minim dari petani, padahal saat
itu panen raya baru saja dilaksanakan. Setelah harga BBM naik, para
pedagang tidak mampu lagi menyimpan untuk menghadapi masa paceklik
pada Desember 2005-Januari 2006.

Wahyudi (50), pedagang yang sudah 20 tahun berkecimpung di dunia
perberasan, menyatakan sudah dua bulan ia menombok. Harga beli beras
pecah kulit Rp 3.000 per kilogram dengan susut 20 persen. Untuk
memproduksi dan mengirimkan beras ke pedagang di Pasar Cipinang,
Jakarta, dibutuhkan biaya Rp 3.800 per kilogram. Padahal, harga jual
beras saat ini Rp 3.600 per kilogram.

"Untungnya harga dedak naik Rp 200 menjadi Rp 1.000 per kilogram
sehingga kami masih bisa memutar hasilnya untuk membiayai ongkos
pengiriman," ujar Wahyudi.

Pasrah saja

Wahyudi mengirim 16 ton per hari ke Pasar Cipinang. Namun, dalam dua
bulan pengiriman tidak bisa dilakukan setiap hari karena tidak setiap
hari ia dapat membeli beras pecah kulit.

Wahyudi dan para pedagang beras di wilayah Widasari, seperti Masmud,
Slamet Ismail, dan Supriadi, diliputi kecemasan menghadapi masa panen
Februari-Maret 2006 karena diawali oleh masa tanam yang langka pupuk
serta adanya ancaman beras impor masuk ke pasar.

"Kalau pupuk langka, lalu petani tidak mampu membeli, kualitas padi
pasti jelek. Selain itu, kalau sampai saat panen pada Februari 2006
ditemukan beras impor di pasar, pasti harga gabah turun diikuti dengan
harga beras," ujar Wahyudi. (yenti aprianti)






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke