Politik Kambing Putih

RISWANDHA IMAWAN

Selalu ada kambing hitam dalam politik di Indonesia. Kesalahan
pengambilan keputusan pada level apa pun tidak serta-merta menjadi
tanggung jawab pemegang kewenangan. Ada saja pihak lain yang layak
dikorbankan. Namun, sejak kuartal terakhir tahun 2005 muncul kambing
putih.

Maksudnya dengan mengedepankan alasan misi suci pemerintahan, diyakini
tidak mungkin pemerintah melakukan kesalahan saat mengambil kebijakan.
Apabila terjadi kegagalan implementasi satu kebijakan, kesalahan
dialamatkan kepada target kebijakan (rakyat) yang tidak cukup cerdas
memahami logika pemerintah.

Berbagai kasus konflik horizontal mengikuti kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) dan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) dibaca sebagai
ketidakpahaman rakyat pada tekad pemerintah memakmurkan mereka.
Merebaknya penyakit yang hanya dikenal di negara terbelakang di Afrika
atau di awal Indonesia merdeka, seperti busung lapar, kurang gizi,
malaria, dimaknai sebagai kebandelan rakyat atas arahan yang
digariskan pemerintah. Bencana tanah longsor dinilai sebagai kesalahan
rakyat melakukan penggundulan hutan. Lupa bahwa penebangan secara
masif (penggundulan) terjadi karena kebijakan pemerintah tentang
pemanfaatan sumber daya alam.

Demikian pula kebijakan impor beras yang jelas menohok kehidupan
petani. Kasus ini pun dipandang sebagai sempitnya pengetahuan rakyat
akan kebutuhan stok beras nasional. Terasa menyakitkan ketika bencana
alam tanah longsor dan banjir menimpa area persawahan dijadikan alasan
pembenar atas langkah pemerintah itu. Ada saja aparat pemerintah yang
menafsirkan sebagai bukti bahwa pemerintah sangat waskita, tahu akan
sebuah peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Padahal, bacaan yang
lebih tepat adalah nasib rakyat tetap saja dipandang sebagai komoditas
ekonomi yang layak dieksploitasi.

Sebenarnya politik kambing putih mirip dengan kebiasaan menyalahkan
korban (blaiming the victims). Gejalanya sudah mulai tampak waktu
terjadi insiden tabrakan maut di Jalan Tol Jagorawi saat rombongan
mobil Presiden SBY baru meninggalkan Cikeas. Waktu itu Juru Bicara
Kepresidenan Andi Mallarangeng dan Polri menyalahkan sopir bus.

Sangat mungkin politik kambing putih berlanjut di tahun 2006. Ini
karena para elite di panggung politik gagal melakukan transformasi
peran ketika arena politiknya berubah. Demokrasi memang menyoal hak.
Namun, setelah seseorang dipercaya menyelenggarakan kepentingan rakyat
melalui proses demokrasi (pemilu), maka hak itu berubah menjadi
kewajiban. Dia wajib mewujudkan kehendak rakyat. Logika kompetisi yang
mementingkan konstituen harus diganti logika kooperasi yang
mengutamakan rakyat. Kemampuan mewujudkan hal ini diyakini sebagai
indikator kematangan berdemokrasi satu masyarakat (Blondel, Party
Government, Patronage, and Party Decline in Western Europe, 2002:254).

Merebut kekuasaan

Apabila dikaitkan dengan format party based government, seperti yang
kita anut saat ini, kesalahan itu terjadi akibat partai gagal
memerankan fungsinya sekalipun kita berada di era keterbukaan. Partai
hanya fokus pada merebut kekuasaan, tidak menyiapkan kadernya untuk
mampu mengelola kekuasaan jika satu saat diraih, apalagi menampilkan
alternatif kebijakan yang bisa dijadikan second opinion oleh
pemerintah. Hingga dalam format party based government satu kesalahan
tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada pemerintah. Partai juga
bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahan itu (Bibby, Politics,
Parties and Elections in America, 1992: 332-335).

Sketsa teoretis di atas menyampaikan pesan pada pemerintah (dalam arti
luas) agar jangan cepat mengarahkan telunjuk kepada rakyat atas
kesalahan satu kebijakan. Mungkin biang kerok kesalahan itu ada dalam
diri pemerintah sendiri. Bukankah esensi Kabinet Indonesia Bersatu
(KIB) sama dengan Kabinet Persatuan Nasional (KPN) di masa Gus Dur
maupun Kabinet Gotong Royong (KGR) di era Megawati, yakni warna-warni
pelangi kekuatan partai politik?

Apakah penyakit instabilitas sistem politik dan inefisiensi sistem
pemerintahan di KPN dan KGR akan dialami pula oleh KIB? Mungkin lebih
buruk sebab faktor kondisi yang dihadapi tidak lebih baik dari KPN dan
KGR.

Kini konflik antarelite membuat kinerja sistem rentan sakit karena
para elite membuat jarak makin lebar dengan rakyatnya. Tidak ada
pemimpin yang sukses tanpa dukungan rakyatnya. Kita saksikan eksekutif
maupun legislatif kompak menaikkan penghasilan di kala rakyat makin
terimpit kesulitan ekonomi. Sikap empati pada nasib rakyat hanya
sebatas kata-kata dan wacana. Lawatan ke luar negeri di saat kelaparan
menyergap rakyatnya jelas bukan fakta yang dapat digunakan untuk
membuktikan wacana yang dikembangkan.

Otoritarianisme lunak

Faktor mencolok yang kini muncul adalah bangun otoritarianisme lunak
(soft-authoritarianism) di kancah politik nasional. Seperti ditulis
Hadenius, Institutions and Democratic Citizenship, 2001:97-98) bangun
ini memadukan kebutuhan berdemokrasi dengan pemeliharaan dominasi
negara. Caranya dengan memanfaatkan state apparatus (utamanya jaringan
intelejen) dan mencanangkan program yang bisa secara efektif merangkul
kelompok-kelompok civil society. Dengan cara ini pemerintah dapat
bermanuver untuk memelihara popularitasnya, sekaligus memudahkan
mencari kambing putih.

Soft-authoritarianism mengharuskan pemerintah memproduksi isu yang
bermanfaat memelihara popularitasnya. Contohnya, di pengujung 2005
ditiupkan isu upaya penculikan dan pembunuhan terhadap elite politik,
termasuk Presiden dan Wakil Presiden. Orang terperangah. Seberapa
besar nilai politik menculik Presiden Indonesia (siapa pun orangnya)
saat ini?

Maaf, sesuai perubahan konstelasi politik dunia, nilai politik
Presiden Indonesia tidak sebesar—sebut saja—Perdana Menteri Jepang
atau Presiden Amerika Serikat. Tidak seperti Bung Karno yang memiliki
nilai politik tinggi karena menjadi pemimpin gerakan Asia-Afrika di
saat perang dingin memuncak. Atau Mahatma Gandhi yang menjadi simbol
pembebasan kaum tertindas.

Embusan isu ini, selain upaya mencari simpati rakyat, juga menjadi
instrumen untuk mulai merenggangkan hubungan rakyat dengan Presiden,
bahkan membuka pintu bagi masuknya kembali militer ke politik.
Sebabnya, penjelasan pemerintah mendua. Di dunia militer, aneh apabila
data intelejen diumumkan. Katanya, itu sesuai dengan keterbukaan.
Namun, ketika dikejar siapa atau kelompok mana yang hendak melakukan,
hingga kita—rakyat— bisa beramai-ramai menangkap dan melindungi
Presiden pilihan rakyat, jawabnya justru "info tentang itu untuk
kebutuhan intelejen sendiri." Lho?

Apakah gaya berpolitik ini menjamin stabilitas pemerintahan pada tahun
2006? Bukankah terbukti gejolak yang dikhawatirkan akibat kebijakan
yang salah tahun 2005 redam dengan sendirinya?

Tidak ada jaminan. Untuk sementara ini gaya memproduksi isu hingga
protes masyarakat tidak terfokus boleh dikata sukses. Namun, hal itu
sangat dipengaruhi kesabaran rakyat untuk melihat hasil konkret tim
ekonomi baru hasil reshuffle Desember 2005. Batas imajiner 100 hari
berlaku di sini. Artinya, kalau sampai bulan April 2006 tidak ada
perubahan yang berarti, bukan mustahil tumpukan isu-isu itu menjadi
berondongan peluru yang menakutkan.

Kalau hal ini sampai terjadi, lalu siapa yang akan dijadikan kambing
putih? Rakyat lagi? Apa sih dosa kita hingga harus lahir di Bumi
Pertiwi ini?

Riswandha Imawan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke