Meningkatkan Kredibilitas

Ninasapti Triaswati

Begitu besar kekhawatiran akan suramnya perekonomian Indonesia pada
tahun 2006 telah banyak diulas. Kecemasan pengusaha bahwa sektor riil
takkan mampu merespons aneka tantangan keterbukaan pasar akibat
lemahnya koordinasi antarlembaga eksekutif atau antara eksekutif
dengan lembaga lain perlu perhatian serius.

Jika sektor riil tidak tumbuh cepat, tidak akan terjadi penciptaan
lapangan kerja, dan tentu saja akan memberikan efek kontraksi pasar
kerja dan peningkatan kemiskinan.

Dari sisi pemerintahan, Presiden telah mengemukakan prioritas
membangun perekonomian; pertumbuhan ekonomi, stabilisasi atau secara
populer menekan tingkat inflasi, menciptakan lapangan kerja, serta
menurunkan tingkat kemiskinan.

Langkah untuk mencapai prioritas kebijakan ekonomi tersebut tentu
menghendaki koordinasi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan
fiskal. Presiden mengharapkan agar pencairan dana APBN dilakukan
segera dan jangan dipersulit urusan administratif oleh KPPN sehingga
pembangunan di seluruh Indonesia dapat berjalan serentak pada semester
pertama.

Implikasi dari kebijakan fiskal yang ekspansif semester pertama ini
tentu dapat memberikan efek inflatoir. Namun, Tim Ekonomi mengharapkan
inflasi dapat ditekan pada semester kedua sehingga mencapai satu digit
pada akhir tahun 2006.

Membahas koordinasi yang tepat, perlu dipahami lebih dahulu tiga
konsep penting dalam makroekonomi untuk menjelaskan hubungan antara
inflasi, keluaran (output), dan pengangguran. Ketiga konsep tersebut
adalah kurva Philips, Hukum Okun, dan permintaan agregat.

Kurva Philips menggambarkan hubungan antara perubahan tingkat inflasi
dan kesenjangan tingkat pengangguran terbuka dari tingkat pengangguran
alamiahnya. Tingkat pengangguran alamiah adalah tingkat pengangguran
yang terjadi pada saat tingkat upah riil dari sisi penawaran dan
permintaan pekerja berada dalam keseimbangan.

Konsep ini menyatakan, ketika tingkat pengangguran terbuka berada di
atas tingkat pengangguran alamiah, akan terjadi penurunan inflasi.
Tingkat pengangguran alamiah dapat meningkat sepanjang kurun waktu
tertentu dan peningkatan tersebut tergantung kemajuan maupun
kesenjangan teknologi dalam masyarakat maupun para pekerja.
Pengeluaran untuk mendorong kemajuan teknologi ini hendaknya dibiayai
dari pemerintah maupun masyarakat.

Hukum Okun menggambarkan hubungan antara perubahan tingkat
pengangguran akibat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di atas
tingkat pertumbuhan PDB secara normal. Misalnya, di Amerika Serikat
kenaikan satu persen PDB di atas tingkat pertumbuhan normalnya dapat
menurunkan tingkat pengangguran 0,4 persen.

Permintaan agregat menggambarkan hubungan positif antara pertumbuhan
output dengan pertumbuhan uang riil (yaitu pertumbuhan uang nominal
dikurangi tingkat inflasi). Dengan tingkat pertumbuhan uang nominal
tidak berubah, peningkatan inflasi akan menurunkan pertumbuhan output.

Dalam jangka panjang, pertumbuhan uang beredar satu persen akan
meningkatkan inflasi satu persen juga. Tetapi, jangka pendek,
penurunan jumlah uang beredar dapat menekan pertumbuhan output dan
mengatrol tingkat pengangguran.

Pendekatan tradisional mengasumsikan, masyarakat tidak mengubah cara
mereka membentuk ekspektasinya ketika kebijakan moneter terjadi
sehingga kebijakan moneter untuk menekan inflasi dengan cepat dapat
mengakibatkan peningkatan pengangguran besar-besaran. Pilihan lainnya
adalah menurunkan inflasi secara perlahan dan berakibat pada
peningkatan pengangguran yang lebih kecil.

Robert Lucas dan Thomas Sargent dari Universitas Chicago menyatakan,
bila kebijakan moneter kredibel (dapat dipercaya), pembentukan
ekspektasi masyarakat akan berubah sehingga kebijakan menurunkan
inflasi akan menghasilkan peningkatan pengangguran yang lebih kecil
dari yang diperkirakan sebelumnya dan bahkan memungkinkan tidak
terjadi peningkatan pengangguran sama sekali.

Stanley Fischer dari MIT dan John Taylor dari Universitas Columbia
menyatakan, terlalu cepatnya penurunan inflasi, walaupun kebijakan
moneter tersebut kredibel, akan dapat menyebabkan peningkatan
pengangguran akibat adanya kekakuan harga nominal. Misalnya,
kesepakatan upah dalam kontrak kerja.

Pengalaman Amerika Serikat tahun 1980-an menunjukkan penurunan inflasi
berakibat pada peningkatan pengangguran. Hal yang mirip terjadi di
Indonesia, yaitu upaya penurunan inflasi dalam kurun 2001-2003 dari
12,6 persen menjadi 5,1 persen mengakibatkan tingkat pengangguran
meningkat dari 8,1 persen menjadi 9,5 persen, disertai pertumbuhan
ekonomi yang lambat dari 3,8 persen jadi 4,5 persen.

Tahun 2005, kondisi makroekonomi lebih buruk lagi. Inflasi mencapai 17
persen, tingkat pengangguran per Oktober mencapai 10,8 persen dan
pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya 5,5 persen.

Sulit

Target pemerintah APBN 2006 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
2005-2009 untuk meningkatkan pertumbuhan output, menurunkan inflasi,
menekan tingkat pengangguran dan kemiskinan sekaligus mencapai
anggaran berimbang menjadi amat sulit. Itu karena keterbatasan
anggaran akibat utang dan cicilan yang sangat besar. Tingginya utang
dan cicilan tersebut meningkatkan risiko krisis fiskal di Indonesia.

Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi hal yang sangat
penting agar target ekonomi di atas dapat dicapai. Pilihan kebijakan
dihadapkan pada trade-off antara mendahulukan kepentingan rakyat,
yaitu menciptakan lapangan kerja, berarti menekan tingkat pengangguran
terbuka.

Kebijakan ini berarti Tim Ekonomi haruslah menurunkan inflasi secara
perlahan, atau menurunkan inflasi dengan cepat namun setiap langkah
kebijakan penurunan inflasi haruslah sangat kredibel. Tanpa
kredibilitas tinggi, kebijakan ekonomi akan menghasilkan pertumbuhan
ekspektasi inflasi yang besar.

Jelas! Kredibilitas pemerintah menjadi bagian terpenting keberhasilan
membangun perekonomian. Memilih langkah penurunan inflasi secara cepat
dan tidak memerhatikan kondisi riil kredibilitas pemerintah akan
mungkin mengakibatkan runtuhnya kepercayaan masyarakat. Pengusaha
maupun rakyat.

Upaya peningkatan kredibilitas pemerintah memang telah dimulai, antara
lain mengumumkan berbagai langkah mengatasi korupsi di berbagai
lembaga pemerintah. Di sisi lain, aparat pemerintah dituntut untuk
bertindak secara profesional, khususnya untuk memberikan kemudahan
izin dan insentif untuk berinvestasi, meningkatkan penerimaan
pemerintah, mengurangi kebocoran pendapatan dan pencurian aset negara
di seluruh lembaga pemerintah serta meningkatkan efektivitas belanja
negara, khususnya untuk pengeluaran jangka panjang, seperti
peningkatan teknologi, investasi pendidikan dan kesehatan.

Seluruh lembaga pemerintah haruslah bekerja erat satu sama lain dalam
mencapai target ekonomi tersebut. Itu mencakup Bank Indonesia sebagai
otoritas moneter dan lembaga pemerintah yang terkait kebijakan fiskal,
yaitu Departemen Keuangan dan Bappenas, maupun seluruh departemen
teknis dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap APBD.
Haruslah bersama-sama membangun kredibilitas kebijakan ekonomi.

Tampaknya, perjalanan untuk membangun kredibilitas kebijakan ekonomi
pemerintah masih akan sangat panjang dan haruslah disertai dengan
kemauan politik yang kuat.

Ninasapti Triaswati Dewan Penasihat The Indonesian Institute, mantan
Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEUI





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke