Suara Langit
Oleh Trisno S. Sutanto
09/01/2006

Berhadapan dengan sesuatu yang sudah diyakini sebagai kepercayaan
seseorang, kecanggihan hukum seperti macan kehilangan giginya.
Bagaimana mungkin keyakinan seseorang diadili? Atau dituduh sebagai
"sesat dan menyesatkan"? Atau juga "penghinaan terhadap agama"?
Bukankah kriteria yang dipakai untuk mengukur suatu keyakinan,
khususnya keyakinan agama, sesungguhnya juga merupakan keyakinan?

AKHIRNYA Lia Aminuddin dan "Komunitas Eden" yang diasuhnya harus
diungsikan dengan paksa oleh pihak kepolisian demi menghindari amuk
massa, sekaligus dijerat oleh pasal-pasal penghinaan terhadap agama.
Sebuah pasal dalam hukum karet yang membuka ruang tafsir sangat luas
dan sulit ditentukan rambu-rambunya. Persis seperti fenomena Lia dan
komunitasnya sendiri. Jika nantinya proses pengadilan dilakukan
terhadap Lia dan komunitasnya dengan tetap menggunakan pasal-pasal
itu, menurut saya, kita akan menyaksikan teater pertarungan tafsir
yang batas-batasnya tidak (pernah) bisa ditentukan.

Saya membayangkan begini: pada satu sisi, akan ada debat lika-liku
hukum yang melelahkan—apalagi jika yang diperdebatkan adalah "hukum
karet" yang dapat mulur-mungkret sesuai kepentingan; sementara, pada
sisi lain, akan ada labirin debat teologis yang tak berujung-pangkal.
Dan jika kedua sisi ini dipertemukan, hasilnya adalah ruang teatrikal
yang absurditasnya tidak kalah dengan drama-drama Samuel Beckett.

Mengadili keyakinan?

Pokok soalnya memang, soal keyakinan per definisi tidak dapat dijerat
oleh kerangkeng hukum dan selalu mrucut dari keketatan diskursus logis
agama. Dan fenomena "Komunitas Eden" tidak lain dan tidak bukan soal
keyakinan.

Berhadapan dengan sesuatu yang sudah diyakini sebagai kepercayaan
seseorang, kecanggihan hukum seperti macan kehilangan giginya.
Bagaimana mungkin keyakinan seseorang diadili? Atau dituduh sebagai
"sesat dan menyesatkan"? Atau juga "penghinaan terhadap agama"?
Bukankah kriteria yang dipakai untuk mengukur suatu keyakinan,
khususnya keyakinan agama, sesungguhnya juga merupakan keyakinan?

Maksud saya, jika saya meyakini sepenuhnya ajaran agama saya merupakan
satu-satunya kebenaran, maka orang lain yang punya keyakinan berbeda
akan saya tuduh "sesat". Apalagi jika adanya keyakinan orang lain itu
mengancam—riil maupun potensial—dan bisa menggerogoti jumlah umat yang
keyakinannya sama dengan saya. Di situ, keyakinan orang lain bukan
lagi "sesat" (menurut tolok ukur keyakinan saya), tetapi juga
"menyesatkan" (baca: dapat merampas umat saya).

Begitu juga teologi, sebagai diskursus logis mengenai agama, tidak
mampu berbuat apa-apa dengan keyakinan seseorang. Sudah lama aksioma
Anselmus ini dipakai: Fides quaerens intellectum. Iman, atau
keyakinan, selalu meminta penjelasan. Tetapi tidak pernah suatu
penjelasan, betapapun logis, rigorous, dan canggihnya dapat
"menghasilkan" iman. Karena iman dipandang sebagai rahmat (gratia)
yang dianugerahkan Tuhan secara cuma-cuma, bukan hasil upaya manusia.
Teologi hanyalah upaya untuk membahasakan pengalaman rahmat itu secara
rasional agar dapat dikomunikasikan dengan orang lain.

Itulah sebabnya diskursus teologis yang bagaimanapun canggihnya, atau
"bukti-bukti" yang diajukan, entah empiris maupun logis, tidak dapat
membuat orang berganti keyakinan. Bahkan dalam dunia sains, fenomena
sama dapat ditemukan, walau dengan bentuk pengejahwantahan berbeda.

Thomas Kuhn pernah meneliti perubahan paradigma dalam sains mirip
dengan pertobatan (metanoia) dalam agama, momen di mana seseorang
(atau sekelompok orang) berganti keyakinan yang kadang melangkaui
pertimbangan rasional. Jika orang masih meyakini narasi penciptaan
dalam kitab Kejadian merupakan deskripsi faktual yang benar, bahwa
alam semesta dengan segala isinya diciptakan dalam jangka waktu enam
hari, maka segala bukti teori fisika modern, biologi evolusioner,
maupun segala kecanggihan teknologi tidak akan mampu mengubah
keyakinan itu. Pun di negara maju. Konon Stephen Hawking pernah
berkeluh, setidaknya ia menerima tiga sampai lima surat seminggu yang
mengatakan bahwa teori-teorinya salah, dan cerita kitab Kejadian yang
benar!

Risiko agama

Masalahnya, fenomena seperti Lia dan komunitasnya merupakan risiko
yang inheren ada dalam setiap tradisi keagamaan. Karena itulah dalam
lintasan sejarah agama-agama yang panjang, munculnya kelompok-kelompok
seperti "Komunitas Eden" sudah berulang kali terjadi, dalam berbagai
bentuk pengejahwantahannya, dan saya yakin akan tetap terjadi entah
sampai kapan.

Saya menyebutnya sebagai risiko agama, sebab agama memang penuh dengan
risiko. Memasuki ranah keagamaan, seperti diingatkan John D. Caputo,
berarti memasuki ranah yang-mustahil, yang tidak mungkin. Orang
menyebutnya: adikodrati. Dalam bukunya yang sangat bagus, On Religion,
Caputo mengibaratkan seseorang yang ber-agama sebagai orang yang
membuat pakta dengan yang-mustahil dan, karena itu, menjadi
"orang-orang yang mustahil".

Agama merupakan reservoir yang sangat kaya untuk cerita-cerita
kemustahilan itu, baik yang direkam dalam kitab-kitab suci maupun
diturunkan lewat tradisi dari satu generasi ke generasi. Pada setiap
titik dan kelokan sejarah yang panjang, kita menemukan "orang-orang
yang mustahil" tadi, entah membelah laut dengan pukulan tongkat,
melahirkan bayi tetapi tetap perawan, membangkitkan orang mati,
diangkat ke sorga ketujuh dan kembali ke bumi dalam semalam, para
santo dan santa yang mayatnya tidak pernah membusuk malah menebar bau
harum—begitu berjibun sehingga, harus diakui, kadang membuat kita
sumpek dan sulit bernafas.

Boleh jadi karena kesumpekan itulah yang membuat orang modern,
anak-anak pencerahan Kantian, mau mendirikan "agama dalam batas-batas
rasio semata" dan mengadili semuanya, termasuk keyakinan agama, di
bawah pengadilan akal budi. Hasilnya, urusan sorga, neraka, malaikat
(bahkan Tuhan!) digolongkan sama dengan jin, tuyul, genderuwo dan
belatung yang memenuhi sinetron kita.Tetapi sejarah memperlihatkan
berulang kali, yang-mustahil itu terlalu licin untuk dikurung di dalam
tembok batas-batas akal budi semata. Tetap saja muncul orang-orang
seperti Lia Aminuddin yang, konon, mendengar (kembali) suara-suara
dari langit…

Karena itulah Caputo menganjurkan kita memilih jalan ketiga: bukan
menolak mentah-mentah modernitas, dan percaya bahwa cerita-cerita
yang-mustahil merupakan kebenaran satu-satunya (seperti orang-orang
yang mengirim surat ke Hawking); bukan pula menolak mentah-mentah
yang-mustahil dan menyingkirkannya sebagai dongeng tak berguna,
neurosis infantil, atau proses pembodohan massal (seperti dilakukan
para aufklärer); tetapi menerima cerita-cerita yang-mustahil secara
kritis, dengan dosis skeptisisme yang sehat. Jalan ketiga ini memang
problematis, karena dibutuhkan kesabaran dan kewaspadaan, tetapi
menurut saya itulah jalan yang paling tepat dan bijak.

Percayalah, membuang sama sekali cerita yang-mustahil dan menganggap
Lia tidak lain dari ocehan neurosis infantil, apalagi menghukumnya
sebagai "sesat dan menyesatkan", tidak banyak gunanya. Suatu waktu,
entah kapan, dan dalam kondisi tertentu, akan muncul orang-orang lain
yang mengaku mendengar (kembali) suara-suara dari langit. Pada pihak
lain, menerima mentah-mentah cerita yang-mustahil sebagai kebenaran,
atau malah satu-satunya Kebenaran, akan menyuburkan delusi berbahaya
dan membuat rumah sakit jiwa penuh.

Yang dibutuhkan adalah keterbukaan dengan dosis skeptisisme yang
sehat. Atau dengan kata lain: dari buahnyalah engkau akan tahu
pohonnya. Sekadar catatan, itu dikatakan Yesus, yang cerita hidupnya
sendiri dipenuhi banyak keajaiban…

Trisno S. Sutanto, Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar
Agama), Jakarta





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke