Sunda, "Pamikiran jeung Pikiraneun"
Oleh H. MEMET H. HAMDAN

MEMBACA "PR" Minggu (8/1/06) yang menampilkan tiga artikel tentang
kesundaan dalam beberapa sudut pandan, dalam pikiran saya, hal ini
merupakan sebuah modal bagi kita semua - terutama yang menyayangi
Sunda - untuk berurun rembuk menghadapi kontroversial tentang Sunda
selama ini, dan tentunya meraih berbagai solusi positif bagi kehidupan
sang Sunda di hari mendatang.

Pada halaman 1 "PR" Minggu itu menampilkan potret pelaksanaan
pemungutan suara di Kampung Naga, untuk Pemilihan Kepala Daerah
(Pilkada) Kabupaten Tasikmalaya, dengan menampilkan iket dan baju
batik Tasikan sebagai identitas masyarakat Tasikmalaya. Secara
pribadi, saya mempunyai keyakinan bahwa tampilan identitas ini dibuat
oleh Tasikmalaya adalah didasari pemikiran bahwa masyarakat
Tasikmalaya adalah (bagian dari) Sunda. Hal senada bahkan juga tampak
pada saat pilkada di beberapa daerah di Jabar, para pelaku kegiatan
dengan bangga menampilkan identitas atau tanda-tanda kesundaan.

Demikian banyak kita melihat kegiatan yang dikemas lengkap dalam
bingkai kebudayaan, dari mulai kegiatan tingkat desa sampai ke
kabupaten/kota dan pemerintahan di tingkat pusat, termasuk kegiatan
akhir tahun dari Pemerintah Provinsi Jabar.

Hal seperti ini, patut kita garis bawahi, karena setiap gerak
kebudayaan pada dasarnya merupakan kreativitas para genius lokal.
Tentunya sudah pada tempatnya kita menyampaikan aplaus dan ungkapan
terima kasih kepada semua tingkatan serta jajaran pemerintahan
terutama Kang Danny Setiawan Gubernur Jabar, yang telah memberikan
atensi, support, dan peluang terhadap aktivitas, dan dunia kebudayaan.

Ternyata, bukan hanya keseharian dan lapangan rumput dengan sekian
banyak makhluk dan manusia penduduknya yang perlu dan diperlukan dalam
kehidupan dan untuk kehidupan budaya. Kenyataan bahwa langkah
kebijaksanaan pun ternyata tidak mungkin melepaskan dirinya dari
kebudayaan. Bahkan di Jabar politik sangat memerlukan Sunda,
sebagaimana terlihat dalam pelaksanaan beberapa pilkada, para pelaku
kegiatan tersebut ikut dikemas dalam bingkai kebudayaan Sunda. Politik
yang senyatanya adalah merupakan produk budaya, sebenarnya dari awal
sampai akhir setiap programnya harus berkomitmen untuk kepentingan
budayanya. Patut kita garis bawahi adalah mampukah politik dalam
realitas kelembagaannya menampilkan kewibawaannya untuk kepentingan
kehidupan kebudayaan masyarakatnya? Maksudnya adalah selama ini sering
kali terdengar ocehan bahkan sumpah serapah insan budaya yang
merasakan bahwa dalam perjalanan kehidupan ini kebudayaan sering hanya
menjadi pelengkap penderita (kalaupun bukan objek pemerasan) dari
perilaku kebijaksanaan (baca: politik). Secara strategis, mampukah
politik memerankan dirinya sebagai katalis untuk kejayaan kehidupan
budaya masyarakatnya? Ataukah memang masyarakat hanya berkesempatan
melihat politik itu sebagai kekuatan yang sebatas metaphor dan
fatamorgana sosial saja?

Eksistensi sunda

Masih pada terbitan hari Minggu tersebut, pada halaman 1 juga, "PR"
pada kolom lainnya menampilkan pertanyaan yang sugestif -
kontemplatif, berabad lalu sebenarnya Sunda berperan sebagai pelaku
sejarah, bukan hanya sebagai subordinasi seperti saat ini.

Hari ini - pada saat penulis menulis artikel ini - menurut Caka Sunda
adalah hari Radite Pahing, Ping 1 Sukla Paksa Sasih Kartika, yang
setelah lebih kurang 500 tahun kemudian kita diingatkan oleh Sang
Begawan Abah Ali, dibantu pengelolaannya oleh Kang Roza Mintaredja
dkk. di Yayasan Candra Sangkala, dan kemudian didorong oleh Kang
Budhyana selaku Kepala Disbudpar Jabar, bahwa Sunda telah lama
memiliki sistem penanggalannya sendiri. Ternyata, Sunda telah
menancapkan eksistensinya di alam dan jagad pewayangan yang raya ini.
Tampaknya tidak salah kalau kita berikan aplaus dan acungan jempol
bagi sang Begawan Abah Ali Sastramidjaja justru pada saat beliau masih
jumeneng ini, karena beliaulah pencerahan kita tentang eksistensi
Sunda bertambah - tentunya tanpa mengurangi rasa terima kasih kepada
Yayasan Candra Sangkala, Disbudpar Jabar dengan Kang Budi-nya, Wali
Kota Bandung dengan Kang Dada-nya yang telah memberikan peluang
dideklarasikannya Kalender Sunda ini pada tanggal 18 Januari 2005 yang
lalu.

Kalaupun Sang Begawan mengingatkan, setelah 9 tahun penelitiannya bisa
berdampak pada perubahan waktu (Titimangsa) sejarah yang terkait
dengan manusia Sunda, menurut hemat penulis, yang perlu digaris-
bawahi adalah kemunculan identitas Sunda-nya. Budaya teh ciciren
bangsa, leungit budayana leungit bangsana. Karenanya pula, dina
ngokolakeun (budaya) Sunda, masyarakat sangat perlu dibawa serta untuk
dari mulai tahu akan ikon-ikon strategis budayanya, dan pada
tahapannya diharapkan mereka akan mampu ikut memeliharanya. Ibarat
sebuah bangunan, insan budaya memang perlu mendirikan tiang-tiang
budaya yang kokoh, selain memasang fondasi dan dinding, bahkan pagar
yang indah, serta menghiasnya dengan elemen estetik yang relevan.

Dalam kesempatan ini, kiranya tidaklah berkelebihan apabila
disampaikan permohonan kepada Kang Budhyana di Disbudpar Jabar,
kiranya bisa menampilkan ikon-ikon strategis kebudayaan sebagai
fondasi. Tiang, fondasi, ataupun pagar kebudayaan ini perlu ditata
dengan baik dalam satu jejaring kerja kebudayaan Jabar, apabila kita
memang tidak akan pernah berhenti bicara untuk membangun masyarakat
yang berbasis budaya. Kata Ceu Nina Lubis beberapa waktu yang lalu, di
Jabar selain punya Disbudpar, juga ada STB, AUL, Kalang Budaya,
Bruk-Brak, AACC, Sasagon, Taman Budaya, Rumentang Siang, Sabuga, STSI,
SMKI, Rumah Nusantara, CCL, CCF dan masih banyak lagi ruang
kreativitas. Selain itu, juga memiliki insan seni dan budaya, baik
yang bergerak sendiri maupun dalam komunitas-komunitas. Secara aktif
dan intensif seharusnya kesemuanya itu commited kepada satu jejaring
kerja di mana Disbudpar Jabar sebagai induknya.

Sikap sunda

Pada halaman 10 terbitan yang sama. "PR" juga menampilkan artikel yang
menampilkan sikap optimis dari beberapa komponen struktur Sunda yang
relevan. Salut, terima kasih, dan penghargaan kiranya patut
disampaikan kepada Kang Mas Nanu Muda yang haqul yakin (dan saya
pribadi sependapat) bahwa pada saat ini sebenarnya budaya Sunda sedang
mengalami pergeseran dan perkembangan dalam dunianya. Haqul yakinnya
Kang Mas Nanu Muda, karena pergeseran dan pengembangan ini diusung
oleh kawula muda yang demikian besar cinta dan kamelangnya kepada ajen
inajen budaya Sunda. Yang patut disikapi, Kang Mas Nanu, adalah
bagaimana kita semua (masyarakat dan pemerintah) sebagai punggawa
budaya tetap waspada untuk memasang adeg-adeg dan idealisme Sunda,
pada saat kita (terutama kawula muda?) menggandrungi budaya impor
sebagaimana Kang Mas Nanu sampaikan.

Tanpa berlebihan, kiranya apresiasi juga patut disampaikan kepada Kang
Budhyana yang Kadisbudpar Jabar. Namun demikian Kang Budi, kiranya
yang perlu disikapi secara strategis, adalah bahwa secara prinsip
hidupnya kebudayaan adalah karena kreativitas para pelaku, bukan
karena tiket tontonan. Di antara kreativitas dan penonton kebudayaan,
bisa saja terjadi pemeo "telur dulu ayam dulu", namun yang perlu
secara prinsip disikapi adalah bahwa lokal genius adalah sebuah
keniscayaan di dalam kehidupan lokal, sementara sang tamu adalah
optional. Sebuah keniscayaan pula, apabila pemerintah dituntut
konsekuen di dalam melaksanakan prinsip organisasi dan manajerialnya.

Jejaring kerja

Tampak sekali, sebenarnya pikiran Sunda itu sudah ada, dan tidak jelek
apalagi salah. Selama ini, tampaknya adalah tidak adanya komunikasi
(kalaupun tidak disebutkan hubungan) yang mapan (dan baik) di antara
sesama Sunda, baik di antara pribadi maupun lembaga-lembaga yang relevan.

Akhirnya, secara simultan dalam cakupan budaya, baik kesenian,
pendidikan, ekonomi, ataupun sosial, saya ingin sampaikan pikiran saya
kepada gubernur, izinkan dan jadikanlah Gedung Merdeka - dengan segala
argumentasinya - menjadi "Gedung Puncak (Kulminasi) Kebanggaan
Kegiatan Kebudayaan di Jabar", juga, jadikanlah beberapa fasilitas
(yang sudah hidup sebagai ruang budaya) milik Pemerintah Provinsi
Jabar, seperti misalnya Taman budaya, Museum Sri Baduga, Galeri Kita,
Panggung Pakalangan Seni Disbudpar Jabar, Rumentang Siang, YPK, TMII,
Gedung Indonesia Menggugat secara resmi menjadi "Ruang Pembandingan
Prestasi Kebudayaan Jabar".

Mari kita bangun prestasi budaya daerah Jabar, tanpa harus cengeng
neumbleuhkeun tanggung jawab ka pamarentah. Dalam banyak hal, mari
kita tumbuh kembangkan sikap sanajan, jangan atuda. Untuk membangun
kebudayaan, mari kita tekadkan dalam kalimat: Sok sanajan hujan,
kuring datang - insya Allah. Kita hindarkan kalimat: Atuda hujan, jaba
teu boga payung, jadi we kuring teu bisa datang. Tah ieu pikiraneun
urang. Hayu urang wangun Sunda, keur kajembaran Indonesia. Luhung
elmuna mangka luhung budayana, ceuk saha Sunda make rek pakia-kia. Cag!***

Penulis, pengamat budaya & kamasyarakatan Sunda, Alumnus SIS - The
American University USA.






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke